
🌺
🌺
Dua jam sudah mereka menunggu proses persalinan. Namun yang dirasakan seperti lebih lama dari itu. Arya bahkan sudah tak bisa lagi menenangkan dirinya, kini dia tak bisa berhenti mondar-mandir di depan pintu.
Sudah beberapa orang yang menyuruhnya untuk tetap tenang, namun dia tak dapat melakukannya. Hingga setelah beberapa saat pintu ruang tersebut tiba-tiba terbuka, barulah dirinya berhenti. Arya merasakan kakinya lemas dan tubuhnya sedikit gemetar.
"Bagaimana ...
Lalu tampak bangsal pasien bergerak keluar dari ruangan diikuti box bayi tertutup dengan segala peralatan medisnya.
"Ibu dan bayi harus mendapatkan perawatan intensif, kondisi mereka sama-sama rentan. Ibu kehilangan banyak darah, dan bayi dalam keadaan prematur karena lahir sebelum waktunya. Jadi akan ditangani secara khusus di dalam incubator." ucap dokter yang menangani, setelah itu mereka dipindahkan kedalam ruang pemulihan di sisi lainnya.
🌺
🌺
Vania terbangun setelah beberapa jam dan dia merasakan seluruh tubuhnya nyeri. Perutnya bahkan menjadi bagian yang lebih parah karena sakitnya terasa luar biasa. Luka bekas operasi beberapa saat sebelumnya, yang obat bius dan penghilang rasa sakitnya sepertinya mulai menghilang.
Dia merintih kesakitan.
Arya yang tidak beranjak sejak tadi segera menghampiri dan melihat keadaannya. Tentu saja, dengan perasaan khawatir yang besar menguasai hatinya
"Hey, ... kamu sudah bangun." sambutnya, seraya meraih tangannya yang terkulai lemas.
"Sa-sakit." keluhan pertama yang Vania ucapkan.
"Iya, tentu saja sakit, kamu jatuh dari tangga dan harus menjalani operasi." jawab Arya yang berusaha untuk tetap tenang.
"Ngghh... " Vania berusaha mengingat kejadian sebelumnya.
"Ba-bayinya?" dia bertanya dengan suara serak dan sedikit berbisik.
"Dia selamat, tapi harus dirawat di ruangan khusus. Saat ini kita belum bisa melihatnya." jawab Arya, dan dia berusaha untuk tak terbawa emosi, mengingat kondisi bayi mereka yang sangat mengkhawatirkan.
"Mm...
"Jangan bergerak dulu, luka operasinya masih belum pulih. Sekarang istirahatlah lagi." pria itu menahan pundaknya yang bergerak tak nyaman.
🌺
🌺
Pria itu berdiri di depan kaca besar sebuah ruang khusus bayi, dia menempelkan kedua tangannya dengan tatapan fokus kedalam sana, dimana sebuah box khusus berisi bayi berukuran tidak senormal bayi lainnya berada.
Tubuhnya kecil dan kulit agak keriput, dengan beberapa alat medis yang menempel di setiap bagian.
__ADS_1
Arya menghembuskan napas seolah dia berusaha melepaskan beban berat. Dadanya terasa sesak dan ulu hatinya terasa ngilu. Melihat darah dagingnya dalam keadaan sangat lemah tidak berdaya.
"Istirahat dulu bang, dari kemarin abang nggak istirahat-istirahat. Cuma pulang ganti baju doang." Alena datang menghampiri.
Kakak laki-lakinya itu bergeming.
"Bang?" Alena menyentuh pundaknya.
"Tidak Al, abang disini dulu. Sebaiknya kalian yang pulang, kasihan anak-anak kalian tinggal di tempat Anna."
"Mereka nggak apa-apa. Abang yang aku khawatirkan. Kalau gini abang bisa sakit, terus gimana mau jagain Vania?"
"Pulang dulu gih, sama Kak Hardi. Kerumah aku aja biar deket dari sini. Istirahat dulu, nanti sore abang kesini lagi." Alena membujuk.
"Tidak, ... abang tidak akan bisa istirahat kalau dirumah." Arya memutar tubuh.
"Tapi bang...
"Abang mau tidur dulu, titip Vania sebentar ya?" pria itu bergegas masuk kedalam ruang perawatan yang berada tak jauh dari sana, kemudian merebahkan tubuhnya di sofa dekat tempat tidur dimana Vania pun masih memejamkan mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dia terbangun saat mendengar suara Vania memanggil. Dan perhatiannya langsung tertuju kepadanya.
"Ya? kamu butuh sesuatu?" Arya terbangun dari tidurnya.
Vania menggelengkan kepala.
"Diluar kok ribut-ribut?" katanya.
"Ya?" Arya menajamkan pendengarannya. Dia terdiam sebentar kemudian pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
"Sebentar abang lihat." dia keluar.
Tampak beberapa perawat berlarian ke ruang perawatan bayi, diikuti seorang dokter yang dikenalnya sebagai dokter spesialis anak yang menangani bayi yang baru dilahirkan oleh Vania sehari sebelumnya.
"Al, Ada apa?" Arya melihat keberadaan adiknya disana.
Alena menoleh, dan wajahnya tampak memucat.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Arya lagi dan dia mendekat.
"Sebaiknya abang jangan kesini dulu." Alena menjawab.
"Kenapa?" pria itu mengerutkan dahi.
"Tunggu aja disana, nggak usah kesini soalnya aku...
__ADS_1
"Ada apa sih? kamu bikin abang khawatir." Arya terus mendekat.
"Bang, jangan... " Alena mencoba menghalanginya. Namun terlambat, kakak laki-lakinya itu sudah terlanjur mendekat dan dia melihat apa yang berusaha dia tutupi.
Arya tertegun demi menatap kejadian di depan matanya. Dokter sedang memeriksa keadaan bayinya yang tidak bergerak, lalu dua perawat menyiapkan beberapa alat yang dibutuhkan.
"Kenapa itu?" Arya lebih mendekat lagi, lalu mereka yang berada di dalam ruang bayi tersebut melepaskan beberapa alat dari tempatnya. Kemudian mendorong box bayi menuju keluar ruangan.
"Apa yang mereka lakukan?" Arya berteriak.
"Mereka hanya melakukan yang terbaik." ucap Alena, yang menahan langkah kakak laki-lakinya.
"Apanya yang terbaik? mereka mau membawa anak abang kemana?" Arya kembali berteriak,, ketika tak ada seorangpun yang menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Disaat yang sama Hardi dan Raja muncul, mencoba menenangkan pria itu dari kepanikan.
"Abang tenang dulu, mereka hanya akan melakukan penanganan lanjutan." Hardi turut menahan kakak iparnya tersebut yang berusaha mengejar para perawat yang membawa bayinya keruangam lain.
"Kenapa mereka membawanya kesana? apa yang mau mereka lakukan?" Arya mendorong dua pria yag berusaha menahan langkahnya.
"Bang, tenanglah dulu disini, mereka cuma nggak mau bayi lainnya terganggu. Nanti kita juga akan tahu kalau...
"Apanya yang tenang? Kalian ditanya tidak menjawab!" Arya akhirnya mampu mencapai bagian depan ruang itu, dan berhenti tepat ketika dokter keluar setelah melakukan penanganan.
"Dokter? apa yang terjadi?" dia hampir berteriak.
"Pak Arya...
"Apa yang terjadi dokter? bagaimana anak saya?" Arya bertanya lagi, dan kali ini teriakannya lebih nyaring.
"Kami... sudah berusaha... kami melakukan yang terbaik, tapi saya minta maaf, karena ini diluar kemampuan kami."
"Dokter?"
"Bayi anda... tidak bisa diselamatkan." ucapan dokter bagai godam raksasa yang menghantam kepalanya. Arya membeku dan dia tak dapat merasakan dirinya sendiri. Pria itu bahkan tak dapat berpikir, otaknya seperti ikut membeku, dan dia merasa pijakan di bawah kakinya seperti menghilang.
"Ap-apa?"
"Kami... turut berduka cita. Tidak ada kegagalan yang meninggalkan luka begitu mendalam selain kegagalan kami menyelamatkan pasien." lanjut dang dokter dengan nada menyesal.
"Oh, ...tidak. Tidak mungkin." Arya bergumam.
"Tidak mungkin ini terjadi lagi, Bagaiamana aku harus mengatakannya kepada Vania? dia pasti akan sedih sekai. Bagaimana ..." tubuhnya meluruh ke lantai dan dia tak dapat menahan tangisnya. Arya tak mampu menahan diri, dan segalanya pecah dalam raungan kepiluan yang mendalam.
🌺
🌺
__ADS_1
🌺
Bersambung...