
🌺
🌺
Keadaan rumah pagi itu sudah mulai ramai, dan semua kerabat dan sahabat mulai berdatangan. Ingin menyaksikan prosesi siraman yang akan di laksanakan oleh sang calon pengantin perempuan.
Persiapan sudah selesai dan segala hal sudah tersedia di tempatnya ketika orang yang dinantikan hadir diantara mereka.
Anna yang keluar dari kamarnya dengan riasan khas siraman, mengenakan kain batik, berbalut rangkaian bunga melati yang dibentuk seperti pakaian terakhirnya sebagai lajang. Rangkaian melati juga dipasang di kepala, menghiasi rambut hitamnya yang digerai rapi.
Arya sebagai wali yang akan menikahkannya sudah menunggu di pelataran rumah yang dihias sedemikian rupa untuk acara tersebut, didampingi Alya yang perutnya sudah semakin buncit di usia kehamilannya yang kini menginjak sembilan bulan.
Prosesi dimulai dengan penuh haru, air mata sudah tertumpah sejak pertama kali sang pembawa acara memulai. Tangisan tentu saja berlangsung setiap kali tahapan prosesi dilakukan, terutama diantara ke empat bersaudara ini yang memang telah saling mengurus sejak kecil. Tanpa pendampingan orang tua, ataupun kerabat dekat. Hanya mereka berempat, dan tentunya Arya sebagai kakak paling tua diantara mereka. Yang di usia 15 tahun mau tidak mau harus menerima keadaan, menjaga ketiga adik perempuannya sepeninggal ibu mereka yang menyusul setelah enam bulan kepergian sang ayah karena kecelakaan.
Tangisan paling lirih tentu saja keluar dari mulut Anna, sang calon mempelai. Ketika secara berurutan melakukan prosesi sungkem kepada kedua kakaknya, dan dia tak melepaskan pelukannya dari Arya selama beberapa saat.
Dia tidak pernah lupa bagaimana perjuangan keras pria itu untuk mereka. Bekerja siang malam agar bisa menghidupi, dan memberikan pendidiikan yang layak, dan agar ketiga adik perempuannya bisa mendapatkan apapun yang mereka inginkan seperti orang lain.
Dia akan selalu ingat, ketika Arya mengorbankan separuh hidupnya demi apa yang telah mereka dapatkan saat ini. Pria itu bahkan melupakan dirinya sendiri agar mereka tidak pernah merasa kekurangan apapun.
"Terimakasih, sudah mengurus aku hingga sebesar ini. Terimakasih sudah menjadi apapun yang aku butuhkan. Terimakasih karena abang sudah berusaha sangat keras demi kami, terimakasih ... aku nggak akan lupa." Anna berbisisik.
Arya memeluknya dengan erat, tangisanpun tak bisa dia tahan lagi.
"Hiduplah dengan baik, menurutlah kepada suamimu. Setelah ini, kewajibanmu untuk mengikuti segala yang dia ucapkan." dia berbisik.
Perempuan itu mengangguk, kemudian mereka saling melepaskan rangkulan.
Mereka bersiap untuk acara inti, prosesi siraman yang ditujukan sebagai tanda, bahwa hari itu adalah hari terakhir Anna sebagai anak gadis di keluarganya. Mandi terakhir dirumahnya, yang dilakukan oleh ketiga saudaranya.
Dan 'ngais' kembali menjadi momen yang paling mengharukan diantara yang lainnya. Dimana Arya menggendong tubuh Anna untuk yang terakhir kalinya, menggunakan kain 'samping' yang dililitkan sedemikian rupa. Kemudian membawanya ke tempat siraman di luar teras.
Dan proses siraman pun berlangsung, diiringi petuah dan doa dari khalayak yang hadir hari itu. Tiga saudara itu bergantian menyiramkan air bertabur bunga kepada Anna dengan tangis haru dan bahagia yang terus berlangsung hingga acara selesai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vania tak hentinya mengambil gambar dari setiap hal yang terjadi ketika itu. Dengan kamera miliknya yang sengaja dia bawa untuk keperluan dokumentasi, acara tersebut tak ada yang luput dari perhatiannya, bahkan hingga selsai pada sore menjelang. Gadis itu sedang berperan sebagai fotografer kali ini.
"Kamu masih sibuk?" Arya datang menghampiri ketika Vania tengah memeriksa hasil jepretannya.
"Lumayan." gadis itu mendongak, kemudian tersenyum.
"Besok kamu pergi dari sini atau langsung ke kafe sendiri?" Arya berdiri dengan kedua tangan dia masukan kedalam saku celana.
"Langsung kesana sendiri lah, kan banyak yang harus aku periksa." jawab Vania.
"Hmm ...
"Besok semuanya disini di urus sama tukang rias ya? aku urus disana, ..."
"Abang pikir kamu berangkat dari sini?"
"Nggak, aku harus memastikan semuanya lancar, nggak ada yang kurang atau terlewat."
"Baiklah, ..." Arya menatap ke sekeliking, dimana orang-orang masih berkumpul. Saudara dan kerabat yang datang dari jauh, juga beberapa teman yang diundang sejak jauh-jauh hari untuk menyaksikan peristiwa besar itu.
Vania fokus membereskan peralatan dan kamera miliknya. Sementara Arya melangkah kearahnya agar lebih dekat, dan dia berhenti tepat dua langkah di depan gadis itu.
__ADS_1
"Jangan dekat-dekat, ..." Vania bergumam saat menyadari hal tersebut.
Tubuh Arya menegang, kemudian dia terkekeh sambil menundukan kepala.
"Abang kangen. Beberapa hari kita tidak bertemu ..." katanya.
Vania terdiam.
"Apa kamu tidak ...
"Jangan ngomong sembarangan, lagi banyak orang." Vania ikut berbisik.
"Ish, ...
"Kangen-kangenanya nanti, setelah pernikahannya kak Anna beres." lanjut gadis itu.
Arya tersenyum, masih ingat apa yang diucapkan gadis itu tempo hari tentang hubungan mereka jika acara pernikana adiknya selesai.
"Baiklah, ... abang tunggu." katanya, dengan suara lemah.
Vania balas tersenyum, lalu mereka melanjutkan percakapan seperti biasa, untuk menutupi apa yang tengah bergejolak di dalam hati masing-masing.
🌺
🌺
"Kamu lagi lihatin apa sih dari tadi?" Alya menepuk pundak Alena ketika mendapati adik bungsunya itu berdiri di depan jendela dengan pandangan serius ke arah luar.
"Tuuhh, ..." dia menggendikan dagu.
Alya mengikuti dengan pandangannya.
"Apanya?"
"Vania sama Abang."
"Aneh sebelah mananya?"
"Mereka keihatan akur?"
"Masa?"
"Hu'um, ... akhir-akhir ini mereka jarang berantem kalau ketemu, malah seringnya menghindar sama-sama." perempuan beranak dua itu mengingat.
Alya kembali memperhatikan sepasang manusia di halaman belakang yang terlihat sedang bercakap-cakap, diselingi tawa yang terlihat ceria, dan mereka terlihat cukup akrab.
"Iya ya? udah lama kayak gitu?" dia kemudian bertanya.
"Dua atau tiga minggu ini lah." jawab Alena.
"Ya bagus lah, damai itu indah." ucap Alya, kemudian memutar tubuh hendak kembali ke tempat duduknya.
"Ini aneh kak!"
"Apanya yang aneh?"
"Mereka sering kepergok lagi makan bareng, terus abang sering ke kedainya Vania juga. Apalagi Dilan suka bilang kalau mereka suka deket-deketan." Alena mengingat celotehan Dilan, setelah bocah itu pergi bersama Arya terakhir kali.
__ADS_1
"Dilan?"
"Iya,"
"Anak kecil dipercaya?" Alya berujar.
"Justru karena dia anak kecil jadinya aku percaya. Dia kan cuma bilang apa yang sering dilihatnya?" segah Alena.
Alya terdiam.
"Terus masalahnya dimana?"
"Ya, ... sebenernya nggak ada sih. Aku cuma aneh aja." Alena kemudian teringat betapa sahabatnya itu sangat menyukai kakak laki-lakinya. Bahkan jauh sebelum dirinya menyadari hal tersebut satu tahun belakangan.
"Ya udah, ... mereka udah dewasa, apalagi abang. Nggak aneh lah kalau misalnya mereka tiba-tiba dekat, kan dasarnya memang sudah dekat?"
"Kalau misal mereka jadian gimana?" Alena kemudian memikirkan ide gila.
"Ya ... nggak apa-apa." jawab Alya dengan santai.
"Umur Abang sama Vania 'kan jauh?"
"Nggak masalah, banyak yang lebih jauh dari mereka."
"Kakak setuju kalau mereka akhirnya sama-sama?"
"Ya, ... kalau memang sudah jodohnya, kenapa nggak?"
"Beneran?"
"Iya."
"Ng ... sebenarnya ..." kemudian dia mulai berpikir untuk mengatakan hal yang hanya dirinya dan Vania saja ketahui. Tentang perasaan gadis itu terhadap Arya, dan berencana untuk lebih mendekatkan mereka.
"Aku pulang dulu ya? besok ketemu di kafe aja." Vania muncul dengan menenteng peralatan fotografinya.
"Lho? nggak barengan dari sini?"
"Nggak lah, kan aku harus nyiapain disana." jawab Vania.
"Oh, ya udah."
"Aku pergi ya?" pamitnya kepada semua orang.
Sementara Arya hanya terdiam diambang pintu menatap kepergian gadis itu dengan motor maticnya.
"Dilihatin terus? kejar sana kalau suka!" Alena setengah berbisik di belakangnya.
Tubuh Arya menegang seketika.
"Nggak usah banyak mikir, nanti keduluan orang." perempuan itu melenggang ke ruang keluarga dimana dua anak dan suaminya berada.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...
Beneran bang, kejar gih sampe dapet ðŸ¤ðŸ¤