
🌺
🌺
Arya merasa tubuhnya bagai tak bertenaga, nyawanya seperti melayang tak tentu arah kala mendengar penjelasan dokter, dengan layar monitor menyala di depannya.
"Kantung janin sudah berada dibawah karena benturan keras. Vania kehilangan banyak darah, dan dengan sangat menyesal saya harus menyampaikan bahwa dia tidak bisa dipertahankan." ucap dokter dengan nada kecewa.
Tubuh Arya melorot di kursi, dan dia tak dapat menyembunyikan kesedihanya. Air mata meleleh begitu saja dari kedua netranya.
"Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkannya?" dia dengan suara bergetar menahan tangis.
"Sayangnya tidak bisa. Usia lima minggu adalah usia yang rawan dan seharusnya dijaga dengan sangat hati-hati, terlebih lagi... kandungan istri anda yang memang sangat lemah."
Arya merasa ulu hatinya begitu ngilu.
"Vania akan sangat sedih, dia sangat menginginkan kehamilan ini." ucapnya, getir.
"Maaf, dengan sangat menyesal saya menyarankan agar segera dilakukan tindakan. Kalau tidak, akan sangat membahayakan bagi istri anda." dokter itu kembali berucap, dan Arya tak mampu lagi berkata-kata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vania membuka matanya perlahan dan dia tertegun setelahnya, menatap langit-langit ruangan yang tampak asing baginya. Sedikit-demi sedikit dia mengumpulkan kesadarannya yang sempat menghilang setelah terhempas saat kebakaran semalam.
"Ibu... " gumamnya saat dia teringat kejadian tersebut.
"Sssshhhh... jangan buru-buru." suara yang sangat dikenalnya terdengar begitu dekat, dan Vania menoleh.
Tampak suaminya yang duduk ditepi ranjang tak jauh darinya, menggenggam tangannya begitu erat seolah takut terlepas jika dia tak melakukannya seperti itu.
"Abang... " Vania bergerak untuk bangkit.
"Jangan bangun dulu." tapi perempuan itu sudah hampir bangkit, namun dia merintih saat perut bagian bawahnya terasa nyeri.
"Ish, ... kenapa ini." keluhnya, sambil memegangi perutnya.
Arya beringsut untuk meraih bantal dan meletakkannya di belakang tubuhnya, lalu menggeser tubuh perempua itu kebelakang, merubah posisinya menjadi setengah duduk.
"Ibu dimana?" Vania bertanya.
"Ada di sebelah sedang istirahat juga." jawab Arya.
"Ibu nggak apa-apa?"
"Ibu shock. Baru bisa tenang setelah histeris dari subuh tadi." jelas pria itu seraya meraih gelas berisi air untuk Vania minum.
"Kafenya?" suaranya bergetar hampir tak terdengar setelah meneguk sedikit minuman dari tangan suaminya.
"Semuanya habis, tidak ada yang bisa diselamatkan." Arya menjawabnya sekuat hati.
"Oh, ... abang... " perempuan itu terisak.
"Bersabarlah sayang, ... harta bisa dicari. Yang penting kita semua selamat." Arya dengan penghiburannya. Dia merangsek ke dekatnya dengan dada yang tentu saja terasa begitu sesak, menyadari ada banyak hal yang harus dia sampaikan dengan segera.
__ADS_1
"Tapi semuanya hancur,... perjuangan ayah dari nol,... perjuangan ibu untuk bertahan, .... dan aku... " dia tersedu di dada suaminya.
"Tidak semua, kamu masih punya kedai." Arya mengeratkan pelukannya, mengusap punggung perempuan itu dengan lembut.
"Tapi ibu kehilangan semuanya." ucap Vania lagi, mengingat semua perjuangan mereka yang luluh lantak seketika di depan matanya.
"Kita akan cari cara untuk membangunnya kembali." hibur Arya lagi.
"Tapi itu sulit... butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa sejauh itu, dan kita harus mulai dari mana?" Vania dengan pikirannya yang belum benar-benar pulih.
"Kita pikirkan nanti, pasti ada caranya. Sekarang kamu harus sembuh dulu." Arya terus menghiburnya, seolah itu akan dapat mengobati kesedihannya. Walau faktanya ada rasa takut yang mulai menguasai hati ketika mengingat hal lain yang harus dia sampaikan lagi setelah ini.
"Abang perut aku sakit." Vania berujar lirih.
"Hmm... bersabarlah, semoga tidak lama." pria itu menyiapkan hati.
Vania terdiam saat merasakan sesuatu yang hangat keluar dari ar*a pribadiya, dan dia mengerutkan dahi.
"Abang, kayaknya aku datang bulan... tapi aku nggak pakai pembalut." dia dengan lugunya, dan bermaksud menjauh dari suaminya, namun pria itu semakin mengerutkan pelukannya.
"Abang, aku datang bulan... harus pakai pembalut, kalau nggak ...
"Kamu sudah pakai." ucap Arya, dan suaranya kembali bergetar.
"Masa?"
"I-iya." pria itu menyeka sudut matanya yang mulai basah dengan ujung jarinya. "Abang yang pakaikan." katanya kemudian terkekeh, walau hatinya terasa semakin ngilu.
"Dari... tadi subuh." jawab Arya, dan diapun menoleh.
"Abang kok nangis?" Vania menyentuh wajahnya yang sembab dengan air mata yang mulai meleleh.
"Maafkan abang, ..." Arya dengan tenggorokkannya yang terasa tercekat, seperti ada sebuah batu besar yang ditekan ke dadanya.
"Abang kenapa?"
"Kita... harus merelakannya." ucapnya, pelan.
"Apa?" Vania menjengit.
"Kamu harus tabah, dan kita harus lebih bersabar lagi. Ini diluar kendali kita." dia berbicara dengan sangat hati-hati. Sementara Vania semakin mengerutkan dahinya.
"Kamu tidak boleh berkecil hati, kita bisa berusaha lagi. Dan abang janji akan lebih menjaga kalian mulai sekarang." ucapnya, dan dia berusaha untuk tetap tenang.
Vania terdiam.
"Maafkan abang yang tidak bisa menjagamu, yang tidak menyadari kehadiran anak kita, dan malah sibuk dengan urusan abang sendiri. Maafkan abang Vania." ucapnya, dan dia menyentuh perut perempuan itu.
"Abang...
Arya terdiam sebentar.
Vania kemudian menyentuh tangan suaminya yang berada di perutnya.
__ADS_1
"Aku... hamil?" dia mengerti ucapan Arya, dan itu sedikit mengobati kesedihannya karena peristiwa terbakarnya kafe milik ibunya. Wajahnya tampak sumringah.
"Maaf, ..." Arya terus meminta maaf.
"Kenapa...
"Maafkan .. tidak bisa menyelamatkan anak kita." akhirnya kalimat itu meluncur juga dari mulutnya, dan seketika membuat Vania terhenyak. Dadanya bagai meledak dan dunianya serasa runtuh seketika.
Arya segera merengkuh tubuhnya dalam pelukan, mencoba untuk menenangkan jika saja sebentar lagi dia akan mengamuk.
"Maksud abang?"
"Abang harus membiarkan mereka mengeluarkannya agar tak membahayakan kamu." dia mengeratkan pelukan.
"Ap-apa?" Vania berusaha melepaskan diri.
"Maaf sayang, kamu harus merelakannya. Dia tak bisa diselamatkan." Arya menempelkan kening mereka berdua.
"Abang... ke-kenapa... maksud abang... anakku.. anaku nggak ada? kenapa bisa?" Vania mulai meracau.
"Mereka harus mengeluarkannya untuk menyelamatkanmu." Arya memperjelas kata-katanya.
"Nggak! nggak mungkin." Vania menggelengkan kepala, dan dia mendorong dada pria itu untuk menjauh.
Namun Arya tak melepaskannya sedikitpun, dia tahu akan terjadi sesuatu setelah itu.
"Percayalah, Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik." Arya mencoba meyakinkan.
"Nggak! aku nggak mau.... mana anakku!" dia kebali mendorong tubuh suaminya.
"Abang pasti bohong, ...
"Aku nggak mau! mana anakku!" tangisnya kembali pecah, dan dia menyentuh perutnya sendiri.
"Nanti kita akan punya anak lagi, abang janji."
"Nggak mau! aku mau sekarang! kembalikan anakku! abang jahat! abang membiarkan mereka mengambil anakku! abang jahat!" perempuan itu berteriak, dia mulai memukuli tubuh Arya, dan terus mencoba melepaskan diri.
"Maaf, ... abang harus...
"Abang jahat! aku nggak mau.... " Vania histeris.
"Van... " pria itu memeluk tubuhnya semakin erat, tak peduli pukulan bertubi-tubi dilayangkan Vania kepadanya.
"Kembalikan anakku! abang jahat! aku benci abang!" teriakannya terus menggema diruang rawat itu, dan dia terus menangis hingga beberapa saat lamanya.
🌺
🌺
🌺
Bersambung...
__ADS_1