Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Cotage


__ADS_3

🌺


🌺


"Baik Pak. Saya berangkat hari ini." Arya menerima panggilan telfon di pagi hari.


" ..."


"Baik." lalu sambungan telfon pun di tutup.


"Ada masalah?"


Vania meletakan piring berisi roti bakar untuk sarapan Arya di meja, beserta secangkir kopi hitam seperti biasa.


"Abang harus pergi." pria itu meletakan ponsel disamping cangkir kopinya.


"Pergi kemana?" Vania duduk di seberangnya, juga dengan roti bakar yang sama dan segelas susu coklat kesukaannya.


"Pangandaran."


"Pangandaran?" perempuan itu membeo.


"Iya," dan Arya menganggukan kepala.


"Mau apa?"


"Memenuhi undangan untuk pembukaan resort disana." Arya meniup kopi miliknya yang masih mengepulkan uap tipis lalu menyesapnya perlahan.


"Berapa hari?"


"Kemungkinan tiga atau empat hari," jawab Arya.


"Lama amat?"


"Pangandaran itu jauh Van. Satu hari perjalanan, satu hari istirahat, hari lainnya menghadiri pembukaan, terus pulang." dia menyuapkan sarapannya.


"Kalu abang pergi aku gimana?"


"Nggak gimana-gimana, biasa saja." jawab pria itu dengan santainya.


"Dih?"


Arya meneruskan acara sarapannya dengan tenang.


"Emang harus abang yang pergi?" Vania bertanya lagi.


"Seharusnya Raja, tapi karena Cindy tidak bisa ditinggal, dan dibawa juga tidak memungkinkan karena gejala ngidamnya yang parah, akhirnya dia menunjuk abang untuk pergi." ujar Arya.


"Abang perginya sama siapa?"


"Dengan rekannya Cindy, yang menggantikan dia sementara waktu."


"Siapa?"


"Rissa."


"Perempuan?"


"Ya masa laki-laki namanya Rissa?" Arya mendongak.


"Ng... cuma berdua?"


"Iya."


"Kak Hardi ikut nggak?"


"Tidak. Dia kan dari cabang lain. Kenapa memangnya?"


"Nggak bisa kalau nggak sama Rissa?"


"Tidak bisa. Kan dia yang menggantikan Cindy."


"Ng .. Rissa cantik nggak?" dia bertanya hal lainnya.


"Cantik. Kenapa?"

__ADS_1


"Mmm... " entah kenapa Vania merasa pikirannya sangat buruk saat ini.


"Kamu kenapa sih?"


"Aku kok merasa takut ya, tahu abang bakalan pergi berdua aja sama Rissa?"


"Maksudnya?"


"Iya, ... laki-laki sama perempuan, pergi berduaan ... yang ketiganya setan lho?" perempuan itu mencari akal.


Namun Arya malah tertawa terbahak-bahak.


"Ish, ... kan abang yang suka bilang gitu dulu kalau kita sering berduaan? Beneran lho, setannya ada."


Arya menghentikan tawa, kemudian kembali meneguk kopi miliknya yang hampir dingin.


"Kamu mau ikut?" tanya nya kemudian.


"Hah, apa?"


"Kamu mau ikut ke Pangandaran? sekalian kita liburan?" Arya mengulang kalimatnya.


"Emangnya boleh?" perempuan itu meletakan sarapannya.


"Boleh, siapa yang akan melarang?"


"Kan abang kerja, bukannya liburan?"


"Hanya menghadiri undangan resort. Selebihnya ya, acara santai."


Vania berpikir lagi.


"Ya sudah kalau tidak mau, abang sepertinya pergi sekarang karena harus menjemput Rissa terlebih dahulu." pria itu bangkit dari kursinya.


"Eh, ... iya mau. Tunggu sebentar aku siap-siap dulu." Vania berlari ke lantai atas.


"Jangan lupa pakaian kita ya Van?" pria itu sambil tertawa terbahak-bahak, merasa senang karena telah berhasil menjahili istrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Abang bilang mau jemput Rissa dulu? kok malah terus jalan aja?" Vania memalingkan pandangan dari jalanan yang tidak terlalu padat siang itu.


"Dih, tadi bilangnya... " dia menoleh, dan mendapati sebuah yang tersungging di bibir suaminya, walau pandangannya terfokus pada jalan bebas hambatan di depan sana.


Vania kemudia menepuk paha pria itu dengan kepalan tangannya.


"Dasar tukang bohong! Selain jadi rentenir, sekaramg hobi abang bohongin aku melulu!" perempuan itu menggerutu.


Namun pria itu tak mengucapkan apa-apa selain tertawa terbahak-bahak.


🌺


🌺


Mereka tiba di depan sebuah hotel di pinggir pantai utama, setelah beberapa jam berkendara dari kota Bandung melintasi beberapa daerah persinggahan. Beberapa kali pula berhenti di tempat-tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Sekedar melepas penat dan rasa lelah dalam perjalanan. Hingga akhirnya tiba pada sore harinya.


Pohon kelapa dan pemandangan laut yang membentang sejauh mata memandang menyambut begitu keduanya turun dari mobil. Angin pantai dan suasana liburan langsung terasa saat mereka memasuki area tersebut. Ditambah matahari yang hampir tenggelam di barat sana, menyisakan semburat oranye kemerahan di langit Pangandaran.


Dua orang petugas hotel datang menyambut di lobby, yang kemudian mengantarkan keduanya ke sebuah cotage yang terletak di belakang bangunan bertingkat lima tersebut.


"Terimakasih, ..." Arya menutup pintu setelah dua petugas itu meletakan barang bawaan mereka.


"Jadi ini konsepnya hotel, resort, plus cotage gitu?" Vania membuka pintu dan berjalan keluar menuju area belakang bangunan tersebut, yang langsung berhadapan dengan lautan.


Di sebelah kiri bangunan hotel tampak menjulang tak terkalahkan sebagai bagian depan tempat tersebut. Dan di sebelah kanannya terdapat beberapa Villa dengan gaya pantai yang kental. Di kelilingi taman asri yang semakin menyegarkan pandangan.


Di setiap cotage tersebut terdapat sebuah kolam renang berukuran sedang di area belakangnya yang langsung menghadap kelaut. Dengan beberapa pohon kelapa dan tanaman hias yang melengkapi hunian sementara tersebut.


"Seperti yang kamu lihat." Arya mengekorinya dari belakang.


"Ini abang yang rancang?" perempuan itu menoleh tanpa menghentikan langkahnya, sehingga kini dia berjalan mundur.


"Dengan tim juga. Ide setiap orang di padukan sehingga terciptalah bangunan seperti ini." Arya mengulurkan tangannya untuk meraih perempuan itu yang tak memperhatikan langkahnya.


"Hati-hati, kamu bisa jatuh." katanya kemudian, setelah dia mendapatkan tangan istrinya, kemudian menautkan jari-jari mereka berdua.

__ADS_1


"Nggak akan. Ada abang yang selalu jagain aku." jawab Vania, lalu tersenyum.


"Terus, temen Abang dimana? siapa tadi namanya aku lupa?"


"Rissa?"


"Iya, Risaa."


"Dia di Villa bawah, ..." Arya menunjuk jejeran Villa bergaya tradisional di bawah sana.


"Kok beda sama kita?" mereka berhenti di pagar pembatas, sama-sama menatap ke arah sana, dengan Arya yang berada di belakang tubuh Vania, hampir merapat dengan kedua tangan bertumpu pada pagar.


"Iya, dia butuh tempat yang lebih besar." jawabnya.


"Kenapa?" Vania menoleh, dan wajah mereka hampir bertabrakan.


"Dia, suami dan tiga anaknya tidak mungkin tinggal di cotage sekecil ini. Karena bangunan ini dibuat khusus untuk pengantin baru. Sementara mereka butuh bangunan yang lebih besar." pria itu terkekeh.


"Hah?"


Arya terus tersenyum.


"Abang ih ngerjain aku terus?"


"Kamu lucu sekali sih, ... bikin abang ingin terus mengerjai kamu." Arya terkekeh lagi.


"Abang norak!" Vania memutar tubuh hingga kini mereka berhadapan. Sementara pria itu semakin tergelak.


"Abang sengaja ya?" ucapnya kemudian.


"Apa?"


"Bilang perginya sama Rissa, cuma berdua biar aku mau ikut?"


"Itu kamu tahu?"


"Dih, ... kenapa nggak langsung ajak aja? nggak usah pakai drama-drama jahil kayak gini. Abang usil deh?"


"Abang cuma senang melihat kamu cemburu seperti itu." Arya melingkarkan kedua tangannya di pinggang perempuan itu.


"Siapa juga yang cemburu? abang ke ge'eran deh?" cibir Vania.


Sementara Arya tertawa.


"Abang lebay, nggak jelas pula."


"Iya, gara-gara kamu kan?" pria itu dengan suara pelan.


"Ish, ... nyalahin?"


"Serius."


"Iya, abang emang serius nggak jelasnya." perempuan itu meronta untuk melepaskan diri.


"Kemana?" Arya melepaskannya, dan dia melangkah masuk kearah bangunan mungil itu.


"Mau mandi, aku gerah." Vania berjalan mundur lagi.


"Mau abang temani?"


Vania tertegun sebentar, lalu tubuhnya terasa seperti meremang saat melihat seringaian muncul di wajah suaminya.


"Mm... nggak usah. Aku bisa sendiri." dia memutar tubuh kemudian segera berlari kedalam bangunan tersebut.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Mau Ngapain setelah ini? hayoooook... 😁😁😁😉


like komen sama hadiahnya jangan lupa, oke gaess??

__ADS_1


lope lope se Indonesia pokoknya 😘😘😘



__ADS_2