
🌺
🌺
Vania membuka mata ketika tak dirasakannya lagi tubuh hangat yang mendekapnya sejak dini hari tadi, seusainya pergumulan yang berlangsung begitu panas namun menghanyutkan keduanya, yang berulang hingga beberapa kali.
"Abang?" dia bangkit dan melihat sekeliling ruangan yang masih temaram karena gorden belum dibuka, padahal hari sudah beranjak siang.
Terdengar suara air mengalir dari kamar mandi, dan sesekali pria itu yang bersenandung lirih di dalam sana.
Vania turun dari tempat tidur, menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya, kemudian berjalan ke ujung ruangan. Dia berhenti tepat di depan pintu yang tidak tertutup dengan sempurna. Mengintip kedalam dimana pria itu yang tengah menghadap ke tembok, dengan rambut yang dipenuhi busa shampo yang kemudian turun dialiri air yang keluar dari shower diatas kepalanya.
Sebuah senyum terbit di sudut bibirnya, lalu dia membiarkan selimut terlepas dari tubuhnya. Vania mendorong pintu kamar mandi dengan perlahan dan berjalan mengendap, memasuki ruangan berbilas itu.
Arya tersentak saat merasakan dua tangan milik Vania menyelinap, lalu memeluk tubuhnya dari belakang. Perempuan itu bahkan menempelkan tubuh mereka berdua. Dan rasa hangat seketika menjalar ke segala arah.
"Mau mandi juga?" Arya menyapu wajah basahnya dari air yang terus mengalir dari shower.
Vania menganggukan kepala sambil tersenyum.
"Baiklah," pria itu memutar tubuh sehingga kini mereka berhadapan. Dan acara mandi bersama itupun berlangsung lebih dari seharusnya.
Ketika keduanya saling menyentuh bagian tubuh masing-masing, yang segera menghadirkan gelenyar-gelenyar menyenangkan yang menyebar ke segala arah. Merambat ke setiap sendi dan mengaktifkan saraf-saraf paling sensitif di tubuh mereka berdua.
Kulit tubuh licin mereka saling bersentuhan, dan cumbuan pun terjadi begitu saja.
Des*han mulai keluar dari mulut Vania saat sentuhan pria itu semakin tak terkendali. Dua puncak dadanya dia permainkan dengan begitu sensual membuatnya merasa hampir kehilangan akal.
"Engh... " dia mengerang saat sentuhan Arya turun kebawah, menggapai pusat tubuhnya yang sudah siap dan mendamba.
Pria itu menyeringai dalam cumbuannya, kemudian melepas tautan bibir mereka berdua. Sejenak menjauh untuk kemudian membalikan Vania hingga perempuan itu menghadap tembok.
Arya menekan punggungnya, lalu segera memasukinya dengan perlahan.
Vania merintih dengan wajahnya yang terdongak keatas. Kedua matanya terpejam dan keningnya berkerut dalam. Sementara tangannya bertumpu pada dinding marmer di depannya, berusaha bertahan agar tak ambruk saat pria di belakangnya mulai menghentak.
Des*han dan erangan terus menggema, diikuti dengan hentakan yang semakin lama semakin cepat. Si pria berpacu, sementara di perempuan bertahan, namun keduanya merasakan hal yang sama. Hasrat yang menggebu-gebu, dan gairah yang bekobar-kobar, membakar akal dan pikiran mereka berdua, berlomba dengan gemuruh deburan ombak di lautan.
Arya meremat pinggul Vania saat merasakan denyutan hebat di bawah sana, mencengkeram miliknya begitu kuat dan nikmat. Membuatnya tak tahan dan hampir saja meledak.
"Engh, ... Abang... " Vania menggapai tangan yang bertumpu dibelakang, dan merematnya dengan kencang.
"Mmm... cepetan!" rintihnya, saat dirasakannya juga gelombang kl*maks yang hampir menggulung titik paling sensitif di tubuhnya. Dan dia terus meracau ketika Arya berpacu semakin cepat. Hingga pada akhirnya, pelepasan menghantam keduanya tanpa ampun, dan segalanya menyembur di dalam sana.
🌺
🌺
"Mau ikut jalan keluar?" Arya mengenakan kaus oblong dipadukan dengan celana dan kemeja berlengan pendek, membuatnya terkesan santai meskipun kharismanya tentu saja tak memudar.
"Kemana?" sementara Vania masih betah bergelung di tempat tidur.
"Jalan-jalan sebentar, kebetulan juga ada undangan makan siang dari Pak Arfan." Arya duduk di tepi ranjang.
"Yang kemarin itu? yang istrinya hampir seumuran aku?"
"Iya, yang punya resort ini juga."
"Sebentar aku mandi dulu, mau niru ilmunya dia." dia turun dari tempat tidur kemudian menghambur kedalam kamar mandi untuk bersihkan diri."
"Niru ilmu?" Arya mengerutkan dahi.
***
Dan disinilah mereka, di restoran terbuka tepat dipinggir pantai, bersama dengan pasangan pemilik resort tempat mereka menginap dua malam ini. Menikmati makan siang di tengah suasana menyenangkan yang tidak akan di dapatkan di tempat mereka tinggal.
__ADS_1
Pantai yang begitu ramai oleh pengunjung di akhir pekan, cuaca bagus dan susana liburan yang begitu kental. Seolah mereka tak punya kehidupan lain selain bersantai.
"Kenapa tidak membuka kantor design sendiri?" Arfan memulai percakapan lagi, disaat kedua perempuan yang hampir seumuran itu pergi memisahkan diri.
"Belum ada niat Pak."
"Mungkin tepatnya tidak mau, karena sudah terlalu lama berada di zona nyaman." Arfan menyesap rokoknya dalam-dalam, lalu meniupkan asapnya ke udara.
Arya terdiam.
"Cobalah, mencari jalanmu sendiri. Agar kamu tahu rasanya memegang kendali atas semua mimpi-mimpimu, dan menikmati hasilnya tanpa harus memikirkan apa atasanmu suka atau tidak."
"Iya Pak. Mungkin nanti."
"Jangan sampai baru berpikir setelah kamu tidak lagi dibutuhkan perusahaan, tapi berpikirlah mulai sekarang, selagi kamu mampu dan memiliki banyak koneksi. Manfaatkanlah itu semua, saya rasa peluangmu cukup bagus. Tidak apa-apa, bekerja sambil memulai usaha sendiri."
"Iya pak."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Senang juga, akhirnya bisa pergi bersama-sama seperti ini. Jarang banget lho, suami aku ngajak keluarganya pergi. Apalagi harus bawa anak-anak." Dygta merebahkan punggungnya pada sandaran kursi malas, kini mereka berada di pinggir kolam renang besar di sisi lain resort. Yang juga tersambung dengan pinggiran pantai dimana ketiga anaknya bermain pasir ditempat teduh diawasi dua pengasuh mereka.
"Jarang punya waktu sama-sama ya bu? karena bapaknya sibuk."
"Ck! jangan panggil aku ibu lah, kita seumuran kayaknya." ucap Dygta yang membenahi letak kacamata hitamnya, menghalau cahaya matahari yang bersinar terik siang itu.
Vania hanya terkekeh sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Kamu nikah udah lama?" Dygta menoleh.
"Mm... hampir sembilan bulanan kalau nggak salah." Vania menjawab.
"Nggak jauh beda, aku mau dua tahun."
"Oh ya? tapi... " Vania menoleh kepada anak perempuan yang lebih besar, yang asyik mengasuh adik-adiknya.
"Oh, ... mantan istrinya masih ada?" Vania bertanya.
"Masih. Ara kan tinggal sama mamanya, di akhir pekan dia tinggal dengan kami."
"Kalian berhubungan baik dengan mantannya Bapak?" Vania bertanya lagi.
"Iya dong, harus. Ada anak yang membutuhkan kedua orang tuanya, nggak boleh egois apalagi kalau nggak akur."
"Dan itu nggak apa-apa?"
"Nggak lah, Memangnya kenapa?"
"Ngga jadi masalah diantara ibu... eh... kamu dan suami?"
"Nggak. Kenapa harus jadi masalah?"
"Kan ada mantan istrinya."
"Ya, terus?"
"Kan bisa jadi setiap waktu berhubungan terus sama mantan, terus kadang-kadang ketemu? apa itu nggak jadi masalah?"
"Ya nggak lah, kenapa? mereka kan udah pisah, mamanya Ara juga udah punya suami lagi."
"Bisa gitu ya akur?"
"Harus akur, kan aku bilang ada anak yang butuh orang tuanya. Lagian itu masa lalu, nggak usah jadi masalah kayaknya."
Vania terdiam, dan dia mengingat beberapa hal dengan masalah yang sama namun situasinya berbeda.
__ADS_1
Mantan.
"Oh iya, kamu sendiri gimana? Menunda punya anak?" Dygta kemudian bertanya
"Nggak."
"Belum aja kali ya?"
"Sebenarnya sih udah, tapi.. keguguran hampir dua bulan lalu."
"Oh ya? maaf. Jadi mengingatkan kamu."
"Ngga apa-apa. Kayaknya udah mulai terbiasa. Apalagi kalau lihat anak-anak kaya gini. Sampai-sampai aku pinjam anaknya adik ipar biar lupa kalau udah kehilangan bayi kami." Vania tertawa.
"Nggak apa-apa, mungkin belum milik kita. Aku juga dulu hampir keguguran, tapi bersyukurnya selamat. Dan mungkin karena masih milik aku."
"Iya, kayaknya begitu."
Perempuan yang tengah mengandung tujuh bulan itu bangkit lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Vania, kemudian menepuk tangannya pelan-pelan.
"Nggak apa-apa, bikin lagi aja. Pasti kali ini berhasil. Asal dijaga dengan baik." ucapnya kemudian.
Vania hanya tersenyum dengan wajah yang merona, dan dia salah tingkah.
"Anggap aja, sekarang ini kalian lagi bulan madu." Dygta kembali merebahkan tubuhnya. "Bulan madu kedua." katanya, kemudian tertawa.
"Sayang?" terdengar suara pria memanggil. Kedua perempuan ini menoleh bersamaan, dan suami mereka berada tak jauh dari tempat itu. Arya bahkan berjalan menghampiri mereka berdua.
"Sudah terlalu siang, ayo kembali ke Villa?" Arfan berujar.
"Baiklah, ..." Dygta bangkit dari tempatnya.
"Nah Vania, nanti kalau aku main ke Bandung aku pasti mampir ke kedai kamu ya?" ucapnya sebelum pergi.
"Oke aku tunggu."
"Baik, pergi dulu ya?" pamit Dygta, dan dia pun memanggil ketiga anaknya kemuidan segera berjalan menuju suaminya.
"Kamu merokok lagi ya?" terdengar omelan di kejauhan.
"Tidak."
"Janga bohong! ini baju kamu bau asap rokok!"
"Baiklah, cuma sedikit."
"Sedikit...
"Hanya satu."
"Satu barusan, satu lagi tadi, terus tadinya... terus nanti..."
"Baiklah, baiklah, nanti tidak akan merokok lagi." Arfan terlihat merangkul pundaknya.
"Dari kemarin kamu bilang begitu tapi tetap saja." dan merekapun menjauh.
Sementara Arya dan Vania menatap mereka hingga menghilang di balik taman. Lalu keduanya saling pandang, dan tertawa bersama seketika.
🌺
🌺
🌺
Bersambung...
__ADS_1
Like, komen, Dan hadiahnya, juga vote kalau udah ada ya? 😁😁😁
lope lope se pulau 😘😘😘