Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Nggak Romantis


__ADS_3

🌺


🌺


"Saya mau semuanya beres di akhir bulan ini ya, tanpa terkecuali. Semua desain, dan gambar rancangan, dan laporan deadline lainnya udah harus di stor ke meja saya akhir bulan ini. Sama seperti cabang yang lain juga, jadi semuanya harus stor serentak diakhir bulan." Raja bermaksud mengakhiri rapat mingguan hari itu.


"Kan biasanya juga begitu pak?" Cindy buka suara, setelah beberapa hari menyimak banyak hal mulai berubah di gedung tersebut sejak kedatangan Raja.


"Ya saya cuma mau menegaskan, kalau kita semua harus benar-benar menjalankan semua sistem dengan benar, dan saya mau di semua cabang seperti itu, ikut aturan saya." Raja mengukuhkan kekuasaannya.


"Apa bapak merasa tim kami yang ada disini tidak menjalankan pekerjaan dengan baik? kami kira selama ini apa yang kami kerjakan bak-baik saja, semuanya lancar tanpa ada hambatan." ucap Cindy lagi.


"Saya cuma mengingatkan, karena kan nggak semua orang juga seperti itu, diantara kita pasti ada saja satu atau dua orang yang tidak menjalankan pekerjaan dengan baik, tapi karena masuk di tim yang bagus, semua itu bisa ditutupi dengan baik. Tapi saya tidak mau seperti itu, semua orang harus benar-benar bekerja dengan baik." sergah Raja.


"Bapak mau menyebut anggota tim kami nggak baik? bapak bercanda ya? selama saya kerja disini kami belum pernah mengalami masalah sulit, semuanya bisa kami tangani dengan baik. Banyak tender lokal yang kami menangkan, dan diselesaikan bahkan jauh sebelum waktu yang sudah di tetapkan." Cindy bangkit dari duduknya.


"Diantara cabang yang lain, kami disini merupakam tim yang paling solid loh, sudah terbukti, banyak proyek perkotaan yang berhasil dan menggunakan rancangan dari sini. Bapak lupa, kalau arsitek disini merupakan salah satu arsitek senior yang sudah jadi kiblatnya di pusat, dan seluruh cabang?" Cindy tak mau kalah.


"Bapak baru tahu sebagian saja, tapi sudah membuat kesimpulan sendiri tanpa mencari tahu semuanya terlebih dahulu."


"Hey, saya ini atasan kamu lho, saya anak pemilik perusahaan ini yang membayar kamu untuk bekerja, bukan untuk mendebat apa yang saya katakan." Raja mulai meradang.


"Buat saya itu nggak ngaruh Pak. Karena Pak Harlan tidak memberlakukan itu dalam pekerjaan. Saya profesional, juga orang-orang disini. Tidak peduli pegawai rendahan atau anak pemilik perusahaan, semuanya setara karena pekerjaan."


"Dan bapak nggak bisa dengan seenaknya mengambil alih sistem yang sudah kami jalankan disini selama bertahun-tahun." Cindy dengan ketegasannya.


"Kamu berani sama saya?" Raja menunjuk wajah perempuan itu.


"Kenapa saya nggak berani? karena saya hanya sekertaris? atau karena Bapak anaknya Pak Harlan? buat saya nggak ngaruh. Kalau Bapak mau merubah sistem dengan seenaknya, lebih baik Bapak pikirkan lagi dengan benar, karena itu adalah hal yang sudah kami jalankan selama bertahun-tahun, dan selalu berhasil. Semua karyawan menjalankannya dengan benar. Semua aturan yang kami jalankan itu sudah ada sejak awal kami disini, jauh sebelum bapak masuk, dan tidak pernah ada masalah dengan itu." Cindy menegaskan.


"Atau, ... kalau bapak mau, bapak bisa membuka kantor cabang yang lain, yang bisa bapak atur seperti kemauan bapak." Cindy mengakhiri argumentasinya, membuat Raja seketika menutup mulutnya.


"Permisi." perempuan itu kemudian keluar dari ruang rapat dengan menegakan kepala.


"Apa kalian serius?" Raja menoleh kepada Arya, juga sang ayah yang duduk terdiam menyimak perdebatan diantara dia dan sekertaris mereka.


"Kalian memperkerjakan orang seperti itu? dia bahkan membantah aku sebagai atasannya." katanya, dengan nada geram.


"Kamu salah memilih orang untuk berdebat." Arya menutup dokumen di tangannya.


"Seharusnya ini hanya rapat staff, bukan perdebatan. Aku kan memberi instruksi untuk karyawan agar mereka bekerja dengan baik."


"Apa kamu pernah menerima laporan kalau karyawan disini tidak bekerja dengan baik?" Arya merapatkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Kamu merasa sudah tahu banyak hal, sementara mereka lebih tahu daripada kamu. Dan kamu merasa memiliki ide yang lebih baik, padahal apa yang mereka kerjakan selama ini sudah sangat baik." ujar Arya.


"Kamu harus lebih banyak belajar lagi, Raja." Harlan menyela.


"Disini tidak ada istilah atasan lebih berkuasa dari pada bawahan. Kami mengerjakan segala sesuatunya bersama sebagai tim. Dan bagi saya semua orang setara, yang membedakan kami adalah tugasnya masing-masing, selebihnya kami sama saja."


"Dicabang lain mungkin kamu tidak akan menemukan bawahan berani mendebat atasannya, tapi disini semua orang bisa mendebat siapapun jika apa yang kita lakukan dirasa menyimpang dari aturan. Sekalipun kamu anak pemilik perusahaan."


"Kalian bercanda!"


"Saya bahkan sering bertengkar dengan Cindy, ketika dia tak setuju dengan ide-ide saya. Tapi dia memang jeli, dan apa yang dia debat memang terbukti kebenarannya. Dia ahli dalam hal ini."


"Dih, ahli apanya? ahli ngajak berantem sih iya." Raja menghempaskan bokongnya di kursi. Rasa kesal tentu saja menguasai hatinya. Bagaimana tidak, disaat semua orang memandang posisinya tinggi karena dia merupakan anak pemilik perusahaan, namun hal itu tidaklah berlaku di gedung tersebut, dirinya malah sering mendapatkan sanggahan atas ide apapun yang dilontarkannya di depan forum, terutama di depan bawahan Arya, pria yang dia anggap sebagai rival berbahaya.


"Abang membiarkan mereka untuk membantah ya?" ucap Raja.


"Saya hanya membebaskan semua orang untuk mengungkapkan pendapat."


"Yang barusan itu bukan mengungkapkan pendapat, tapi berdebat." sanggah Raja.

__ADS_1


"Oh, iya ... saya juga membiasakan mereka untuk berdebat. Agar bisa mempertahankan ide dan pendiriannya, selama masih di jalur yang benar menurut saya itu sah-sah saja."


"Hmm ... mereke bisa ngelunjak kalau lama-lama dibiarkan begitu."


"Tidak akan, kalau kamu menghargai mereka dengan semestinya."


"Alah, ... bawahan tuh kalau dikasih hati suka minta jantung. Dan akhirnya ngelunjak."


"Itu seleksi alam, siapa yang bekerja dengan baik dan bisa bertahan denga cara yang benar juga saling menghargai sesamanya, maka mereka akan dikumpulkan denga orang yang memiliki visi yang sama juga. Tapi kalau ada satu ata dua yang berbeda, itu biasa." Arya mengucapkannya dengan tenang seperti biasa.


"Ini yang tidak kamu pelajari di kampus, dan justru harus kamu pelajari di sini. Dan memang kamu sudah memilih untuk pindah kesini kan? jadi ... selamat belajar, dan selamat menikmati." Harlan bangkit dari tempat duduknya.


"Dan kalau kamu berpikir untuk merubaha apa yang sudah berjalan selama bertahun-tahun dengan maksud agar semuanya ada di bawah kendalimu, maka hal pertama yang harus kamu kuasai adalah bawahanmu. Karena tidak mudah mebentuk satu sistem yang solid dan mampu di jalankan oleh semua orang. Belajarlah dari orang yang sudah membentuk sistem itu sendiri." Harlan bersiap untuk pergi.


"Siapa orangnya?" Raja bergumam.


"Kamu sudah ada di daerah teritorialnya, dan kamu beruntung sekarang sedang berhadapan dengan dia." pria paruh baya itu berujar.


"Dan jika kamu sudah menguasainya, dan mampu bekerja seperti yang selama ini Papa kerjakan, maka perusahan ini akan segera Papa percayakan kepadamu. Tapi jika tidak, maka tidak ada pilihan lain." Harlan pun berlalu.


🌺


🌺


Vania tertegun diambang pintu kedai yang terbuka, ketika mendapati Arya yang berjalan santai ke arahnya pada sore itu.


"Tumben?" Vania dengan senyum yang hampir terbit di bibirnya.


"Sibuk?" tanya Arya saat jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah, dan dia melihat sekeliling pelataran kedai yang lumayan ramai, pun didalam bangunan yang tidak terlalu luas itu dalam keadaan yang sama.


"Nggak, biasa aja." jawab Vania. "Masuk!" ucapnya, seraya memutar tubuh dan berjalan ke satu sudut kedai, diikuti Arya di belakang.


"Kopi?" Vania bertanya.


"Makan?"


Arya mengangguk.


"Beberapa hari kamu tidak mengantarkan makan siang?" lanjutnya.


"Kan udah kayak biasa dipisah? jatah karyawan udah aku lebihin juga, masih nggak kebagian?"


Arya menggelengkan kepala.


"Diambil kak Raja lagi?"


"Begitulah, ..." Arya terkekeh, "Sepertinya dia sangat dendam kepada Abang."


"Dih, kayak anak kecil?"


Arya hanya tersenyum.


****


Satu porsi nasi yang terbungkus daun pisang dihidangkan di meja, yang masih mengepulkan uap panas dan aroma menggugah selera.


"Makanan baru lagi?" Arya antusias.


"Iya, ini nasi pepes. Baru dua hari di keluarin, dan ramai peminat." Vania duduk di kursi disamping Arya.


"Wah, ... abang beruntung."


"Jelas beruntung, aku juga yang nyiapin buat abang." Vania tersenyum gembira.

__ADS_1


"Yeah, ... terimakasih, walaupun sempat kecewa karena beberapa hari kamu nggak datang ke kantor, tapi ini bisa mengobati."


"Hmm ... aku sibuk bikin menu baru, biar up to date terus kan. Ngga boleh berhenti di satu jenis makanan aja, harus banyak macamnya."


"Iya, memang."


"Lagian aku sengaja juga nggak datang kesana."


"Sengaja?"


"Hu'um, aku malas ketemu Kak Raja, dia jadi nyebelin." jawab Vania.


"Jelas dia begitu, perempuan yang dia sukai ternyata sudah dengan orang lain." Arya tergelak.


"Eh, ... diamlah! jangan bahas itu, cepat makan!" Vania membuka bungkusan daun pisang, dan seketika terpampang makanan yang berada di dalamnya.


Satu porsi nasi berempah dengan hiasan kemangi diatasnya, dan ketika gadis itu membelahnya dengan sendok, menguar juga aroma ayam berempah yang menggugah selera.


"Wanginya enak." ucap Arya.


"Iyalah, makanya coba makan, jangan ngomong melulu." jawab Vania.


"Tapi ...


"Apa?"


"Sepertinya terlalu banyak buat abang?"


"Aih, ... aku lupa kalau abang makannya sedikit. Nanti aku bikin yang setengah porsi deh, khusus buat abang." gadis itu menggeser piring ke dekat Arya.


"Sekarang makan dulu." katanya kemudian.


Namun Arya belum melakukan apa yang dia katakan, malah menatapnya sambil mengulum senyum.


"Apa lagi?"


"Temani abang makan." jawab Arya.


"Ish, ... sepiring berdua maksudnya?"


Pria itu mengangguk.


"Biar romantis ya?" Vania kemudian terkekeh.


"Bukan, biar cepat habis." Arya memulai acara makannya setelah menyerahkan satu sendok lain untuk sang kekasih.


"Ish, ... aku udah ke geeran aja?" gadis itu bergumam.


"Jangan berharap keromantisan, karena itu hal yang mustahil."


"Hu'um, ... dasar Abang."


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Akumah biar abang nggak romantis juga tetep lope😅😅😅


jangan lupa like komen sama hadiahnya 😘

__ADS_1


__ADS_2