
🌺
🌺
"Van?" Arya berhenti tepat sebelum pintu dibanting dengan keras di depan hidungnya. Sejenak dia berhenti bernapas dan menggigit bibirnya dengan keras.
"Astaga!" dia menyapu wajah dengan telapak tangannya.
Pria itu menyentuh gagang pintu kemudian menekannya perlahan. Lalu mendorongnya, dan masuk kedalam sana.
Vania duduk bersedekap di tepi ranjang menghadap jendela, pandangannya tampak menerawang jauh ke langit petang Pangandaran yang hampir meredup tanda siang sebentar lagi akan berganti.
"Vania, ..." Arya berdiri dihadapannya, menatap wajah masam itu yang tampak tak terganggu dengan kehadirannya.
"Dengar Van...
"Ngapain sih harus pergi kesana juga? lagi abang iseng banget pake ingat kenangan sama kak Hanna juga?" Vania bersungut-sungut.
"Abang tidak bermaksud seperti itu, abang bahkan tidak ingat soal Hana. Kenapa itu selalu menjadi masalah bagimu?"
"Kenapa jadi masalah? ya masalah lah, kak Hanna itu kan mantan pacar abang. Terus abang ngajak aku ke tempat dimana abang pernah datang sama dia. Abang kayak lagi mengenang masa lalu. Ya jelas masalah."
Arya terdiam sebentar.
"Abang pergi kesana untuk mengingat kak Hanna kan? bukan ngajak aku jalan." Vania dengan nada kecewa.
"Abang nyakitin aku." perempuan itu hampir menangis.
"Kamu berlebihan." Arya denga rasa frustasinya. "Pikiranmu terlalu jauh, dan kamu menilai ini dengan salah." dia menjelaskan.
"Sebelah mananya aku salah? jelas abang yang lagi mengenang mantan disini, bukan aku."
"Sok tahu kamu?" ucap Arya dengan gusar.
"Satu-satunya orang yang selalu mengingat mantan disini ya kamu." pria itu berujar.
Kening Vania berkerut dalam dan dia berpikir dengan keras.
"Aku nggak punya mantan, abang yang punya mantan!" dia menekan kalimatnya.
"Kamu tahu, dulu abang dan teman-tema sering ke tempat itu. Kami camping berhari-hari selama libur kerja dan kuliah untuk melakukan banyak hal. Tidak ada yang membawa pacar mereka satu orang pun. Bahkan abang."
"Kamu mau tahu, sebenarnya ini tidak penting untuk dibahas tapi karena kamu yang selalu membahas soal ini, baik sekalian saja kita bahas." Arya bersedekap.
"Kebersamaan kami yang terakhir adalah pada malam tahun baru, saat Alena baru saja masuk SMA. Abang memutuskan berpisah karena ingin mengurus adik-adik sampai mereka berhasil, tanpa harus memikirkan kepentingan orang lain yang mungkin sedang menunggu."
"Dan ya, kami menghabiskan waktu di pantai ini, tapi itu bahkan ratusan meter jauhnya dari area ini. Dan tidak kita lewati sedikitpun."
"Abang bahkan tidak ingat kepada Hanna sama sekali jika kamu tidak selalu membahasnya. Dan abang rasa itu tidak penting untuk diingat. Tapi kenapa kamu selalu merasa bahwa hal itu seolah-olah menjadi hal paling penting untuk dibahas? dan kenapa hal itu mengganggu kamu?"
"Abang serba salah, dibahas kamu marah, tidak dibahas kamu memancing abang untuk membahas, yang ujung-ujungnya tetap membuat kamu marah juga. Sebenarnya apa sih yang mau kamu buktikan? perasaan abang?"
"SlHanna sudah berkeluarga jauh sebelum kami bertemu lagi, dan jelas juga siapa yang bersama dengan abang sekarang, lalu apa yang membuatmu selalu saja mempermasalahkan Hanna? abang yakin kalau dia tahu soal ini pasti akan menertawakan kita karena selalu meributkan hal tidak jelas seperti ini."
"Dia Hanna, hanya mantan pacar. Yang ada di masa lalu dan tidak berpengaruh apapun untuk hidup Abang. Sedangkan kamu? kamu ini istri abang, masa kini dan masa depan abang. Yang akan mempengaruhi abang dari segi apapun, Yang akan melewati hari-hari ini dan sampai nanti."
"Itupun kalau kamu mau menemani abang sampai nanti. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang."
Vania bungkam, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Mungkin ini sebabnya Tuhan mengambil anak kita." pria itu kembali berbicara.
"Tuhan belum mempercayai kita untuk punya keturunan karena hal kekanakan seperti ini. Makanya Dia ambil kembali agar dia selamat dan tak harus melihat orang tuanya yang kekanakan seperti kita."
__ADS_1
"Tuhan memang selalu mempunyai cara untuk menyelamatkan ciptaannya, walau dengan cara yang menyakitkan sekalipun."
"Abang kok ngomongnya gitu?" Vania mendongak, saat kalimat tersebut terasa menohok egonya.
"Abang tidak akan bermulut manis soal ini, jangan harap abang akan memohon dan memelas, karena percuma tidak akan membuat kamu mengerti. Abang sudah sangat berusaha bersabar menghadapi sikap kamu yang satu ini. Tapi ini tetap berulang, dan kita masih tetap saja meributkan hal yang sama. Dan itu melelahkan, Vania." Arya mundur beberapa langkah ke belakang.
"Tidak pernah terlintas dalam pikiran abang entah itu Hanna, atau apapun yang ada berhubungan dengannya. Tapi kamu, yang selalu mengingatkan abang tentang dia. Entah tujuan kamu apa, tapi terserah ... abang tidak mau lagi membahasnya. Serius, ini terasa menyebalkan. Ketika kamu sudah lupa dengan masa lalu, tapi orang terdekatmu malah terus mengingatkan."
"Irasional, kenapa kamu selalu seperti itu?" dia menggelengkan kepala, kemudian beranjak dari hadapan istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vania tertegun untuk beberapa saat lamanya, mencerna setiapa kata yang terlontar dari mulut suaminya. Berpikir ulang semua yang dia lakukan dan ucapkan hari itu, apakah ada yang salah atau tidak. Apakah dirinya keliru telah berpikiran sejauh itu, menganggap apa yang mereka lewati hari itu adalah bentuk pengungkapan rasa di hati suaminya ataukah cara pria itu untuk mengenang masa lalunya.
Tapi apa yang Arya katakan barusan membuatnya berpikir lain.
"Kenapa selalu jadi dia yang marah? kan harusnya aku?" Vania bergumam.
Namun pria itu bahkan tak berusaha untuk membujuknya sedikitpun, dia malah mengatakan banyak hal yang tak pernah terpikirkan olehnya.
"Ish, ... dia selalu bisa membalikan keadaan, membuat aku merasa bersalah saja!" gumamnya lagi, kemudian dia berpikir.
"Aku salah ya?" Vania mengingat lagi setiap kata yang Arya ucapkan. Memang benar, pada awalnya tak seorangpun diantara mereka yang mengingat hal lain selain kebersamaan ini, tapi entah kenapa tiba-tiba saja dirinya selalu ingin tahu, apakah semua yang mereka lakukan bersama dilakukan juga oleh pria itu bersama perempuan lain sebelum dirinya atau tidak, entah itu tempat, waktu atau kegiatan yang sama. Dan itu membuatnya merasa penasaran.
Bagaimana mereka juga melakukan hal yang sama seperti halnya hari ini, di tempat sama namun di waktu yang berbeda, dan itu terasa mengganggu.
Tapi ... mengapa itu harus mengganggu? bukankah suaminya selama ini memang tidak pernah membahas masa lalunya sedikitpun, selain perjuangannya mengurus ketiga adik perempuannya? dan itulah yang membuatnya jatuh hati bukan?
Bukankah masa lalu percintaannya yang bahkan saudaranyapun tak ada yang tahu, karena Arya memang selalu menutup rapat kehidupan pribadinya selama ini. Dan kenapa itu harus menjadi masalah?
Ah, ... sepertinya aku salah lagi? batin Vania.
Kemudian dia bangkit, dan berjalam ke arah belakang cotage untuk mencari keberadaan suaminya.
Sesaat kemudian pria itu melepaskan pakaian bagian atasnya, lalu menceburkan dirinya kedalam air. Menenggelamkan tubuhnya untuk beberapa saat, kemudian muncul dengan cepat ke permukaan.
Arya berenang mengitari kolam berukuran sedang itu untuk beberapa menit, kemudian berhenti tepat di ujung. Mengusap wajah dan kepalanya yag basah, lalu menengadahkan kepalanya menatap bulan yang tampak penuh, bersinar sendirian di langit yang kelam.
Vania memutuskan untuk keluar, dia berjalan sambil melepaskan pakaian, dan meninggalkannya berserakan dilantai. Kemudian dengan perlahan masuk kedalam kolam. Perempuaan itu sedikit menahan napas kala air yang cukup dingin itu menyerang tubuhnya, kemudian bergerak maju menghampiri Arya.
"Anak kita... lagi ngapain ya disana?" Vania mengikuti pandangan suaminya yang masih menatap rembulan yang bersinar terang diatas sana.
"Yang pasti dia bahagia di surga sana dengan malaikat dan orang-orang baik.Tidak melihat atau mendengar orang tuanya berdebat tentang hal tidak penting." Arya menjawab dengan suara datar tanpa menoleh sedikitpun kepada perempuan di sampingnya.
Vania mengulum bibirnya dengan kuat, jelas sekali pria ini tengah merasa gusar sekarang.
"Aku salah lagi ya?" ucapnya kemudian, dan dia menatap wajah basah suaminya.
"Menurutmu?" Arya menoleh.
Perempuan itu mendengus pelan, lalu dia bergerak semakin dekat.
"Aku nggak ngerti kenapa selalu merasa terganggu kalau ada hal yang berhubungan sama mantan. Kayak mereka akan merusak hubungan kita dengan kenangan yang ditinggalkan. Dan itu benar-benar menganggu bang." katanya.
Arya memutar bola matanya, kemudian menghembuskan napas dengan keras.
"Bukan mantan yang akan merusak hubungan kita, tapi prasangkamu yang akan merusaknya. Dan itu lebih berbahaya dari gangguan kenangan mantan. Bagi Abang, yang sudah berakhir tidak mungkin bisa terjalin lagi, apalagi kamu sudah punya kehidupan masing-masing. Apalagi cuma kenangan, semuanya akan menghilang dengan sendirinya." pria itu berujar.
Vania terdiam, dan dia berpikir lagi.
"Sudah ya, jangan bahas itu lagi, nanti lama-lama hubungan kita rusak beneran. Sekarang, ayo masuk? Besok kita pulang pagi-pagi." ajaknya, dan dia hampir memutar tubuhnya ketika Vania meraih tangannya untuk menahan langkahnya.
"Kenapa pulang?"
__ADS_1
"Biar kamu tidak merasa kalau abang sedang mengenang mantan karena membawamu ke tempat ini." jawab Arya, dan dia balik menarik lengan perempuan itu agar mengikutinya keluar dari dalam air yang mulai terasa dingin. Ditambah angin laut yang berhembus begitu kencang menerpa apa yang ada.
Namun langkahnya terhenti saat Vania menyentakan tangannya, dan dia menariknya untuk kembali.
"Apa lagi? ayo naik, terlalu lama di dalam air nanti membuatmu masuk angin!" katanya.
Vania menggelengkan kepala, dan dia mendekat untuk menghapus jarak diantara mereka. Pandangannya memindai wajah tegas setengah basah Arya yang keningnya tengah berkerut dalam hingga kedua alis tebalnya saling bertautan.
Kedua tangan kecilnya menyentuh dada telanjang pria itu perlahan, dan sebuah senyum lembut terbit di sudut bibirnya.
"Cuma gitu aja?" ucapnya, dan dia merapatkan dada mereka berdua.
"Memangnya apa lagi? dari pada harus bertengkar terus." jawab Arya dengan dadanya yang mulai berdegup kencang. Otaknya sudah memikirkan hal lain saat ini tapi dia berusaha menepisnya, mengingat keadaan perempuan itu yang mungkin belum pulih benar.
"Abang deg-degan." Vania hampir berbisik, merasakan debaran hebat di dada suaminya, lalu kedua tangannya merayap dan melingkar mengunci leher pria itu.
"Iya, karena abang masih hidup." jawab Arya lagi, dan dia berusaha mati-matian menahan diri, saat wajah Vania semakin mendekat. Bibir mereka bahkan hampir saling bersentuhan.
"Mm... Van, nanti abang tidak bisa berhenti." Arya sedikit menjauhkan wajahnya.
"Nggak apa-apa, jangan berhenti kalau belum bisa berhenti." bisik perempuan itu, dan dia kembali tersenyum.
"Nanti abang tidak bisa mengendalikan diri." ucap Arya lagi.
"Nggak apa-apa, aku juga mau lepas kendali." jawab Vania, lalu tanpa menunggu lama lagi dia meraih bibir suaminya untuk dia nikmati. Memagutnya dengan sepenuh hati, dan menyesapnya dengan penuh perasaan.
Arya sedikit terhenyak, namun dia tak mampu menahan godaan ini. Rasanya sudah lama sekali, dan dia tak ingin berhenti.
"Ng ... Van ...
Vania menulikan pendengaran, dan dia menekan tengkuk pria itu untuk memperdalam ciumannya. Dada mereka saling bersentuhan dan semakin merapatkan tubuh, kehangatn mulai menjalari keduanya, menghadirkan debaran yang mulai tak terkendali.
Arya meraup tubuhnya, dan tangannya sudah menyusuri setiap lakukan yang dia temukan. Sesekali meremat bagian yang menyebabkan perempuan itu mengerang dalam cumbuannya.
"Apa sudah bisa?" Arya menjeda kegiatan mereka, menatap wajah Vania yg sudah memerah menahan hasrat yang mulai menggila.
Perempuan itu mengangguk perlahan, dan dia kembali menarik lehernya untuk meneruskan cumbuan.
Lalu dengan sekali gerakan pria itu kembali meraup tubuh telanjang Vania dan mengangkatnya dalam gendongan. Kemudian mereka keluar dari dalam air tanpa melepaskan cumbuan. Berjalan mebawanya masuk kedalam bangunan mungil yang memang diperuntukan bagi pasangan itu.
***
"Nghh... abang!" erang Vania saat pria itu memasukinya, beberapa saat setelah membaringkannya di tempat tidur lalu menghentak perlahan. Dengan bibir lembutnya yang menyusuri area leher hingga dada. Mengecupinya hingga tak ada yang terlewatkan sedikitpun, sesekali dia menggigit gemas kulit mulus perempuan itu, meninggalkan bekas kemerahan yang kentara di beberap bagian.
Kemudian dia menemukan gundukan favoritnya, lalu melahapnya tanpa ampun. Dengan kedua tangannya yang meremat dan memainkan puncaknya dengan gemas.
Sementara Vania menggapai-gapai tubuh diatasnya, mencari pegangan untuk mempertahankan kesadarannya yang kian berhamburan. Namun tetap saja dia tak mampu menahan diri.
Erangan dan des*han terus menggema, dan sesekali terdengar rintihan ketika hentakan itu berubah menjadi semakin keras. Namun tak menyebabkan keduanya untuk menghentikan kegiatan panas pada malam itu. Malah menjadi semakin memanas dan menggila, seiring perasaan yang kian tak terkendali dan keinginan untuk mencapai pelepasan.
"Mmm... abang, ... aku... ahh, ..." Vania meracau, merasa tak mampu lagi menahan gejolak yang terus mendera tubuh dan akal sehatnya. Tubuhnya bahkan sudah bergerak tak karuan, sesekali melengkung dengan wajah mendongak kebelakang, membuat kedua buah dadanya semakin membusung, menggoda pria diatasnya untuk kembali menikmatinya.
"Ahh, ..." des*hanan kerasnya semakin tak terkendali ketika sesuatu di dalam tubunya terus mendesak. Gelombang kl*maks temenggulungnya tanpa ampun, menyerang seluruh tubuh hingga ke ujung-ujung kakinya yang menekuk tajam.
Sementara Arya semakin mempercepat hentakannya untuk mengejar pelepasan yang telah didapat Vania. Kedutan dibawah tubuhnya benar-benar membuatnya hilang akal, membuatnya berpacu lebih cepat lagi. Dan di detik berikutnya, dia menekan dengan keras saat merasakan sesuatu di dalam sana pecah dengan sendirinya. Diikuti lenguhan panjang dan tubuhnya yang bergetar hebat.
🌺
🌺
🌺
Bersambung...
__ADS_1
Selamat malam minggu ðŸ¤