Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Pacaran Halal


__ADS_3

🌺


🌺


"Aku pergi dulu ya?" Vania meraih tas dan ponselnya di meja, setelah sarapan bersama pada pagi itu. Dia kembali pada rutinitas sehari-harinya sejak tiga minggu yang lalu.


"Iya." Arya bangkit dan meraih tongkat untuk membantunya berjalan.


"Makanan udah komplit, semuanya juga udah aku sediain di meja, jadi abang gampang kalau mau makan."


"Ya."


"Kalau ada apa-apa telfon aku, tapi nanti makan siang juga aku balik. Terapist abang hari ini datang kan?" ujar Vania.


"Iya, tapi tidak usah pulang kalau kamu sibuk. Abang bisa."


"Beneran?"


"Iya." jawab Arya lagi.


"Ish, ... iya iya melulu." gumam Vania, yang memunculkan senyum di kedua sudut bibir suaminya.


"Hati-hati di rumah ya?"


"Kamu selalu mengatakannya setiap hari." pria itu mensejajari langkahnya dengan masih tertatih. Namun itu lebih baik dari pada pergerakannya yang terbatas diatas kursi roda seperti sebelumnya. Efek terapi selama berminggu-minggu tampaknya bekerja dengan baik kepadanya.


"Memang." Vania tersenyum.


"Hati-hati bawa motornya, tidak usah ngebut."


"Iya, abang juga bilang itu setiap hari?"


"Biar kamu tidak lupa. Kadang abang khawatir kalau ingat cara kamu mengendarai motor." Arya tergelak.


"Nggak akan."


"Iya, jangan."


"Oke, aku pergi." dia memeluk tubuh suaminya dengan erat, kemudian mengecup sudut bibirnya dengan penuh perasaan.


"Mm ..." Arya menariknya ketika Vania melepaskan diri dan langsung memberinya kecupan bertubi-tubi.


"Abang ih, ... nanti lipcream aku luntur." Vania bersungut-sungut sembari mengusap-ngudap bibirnya yang basah. Sementara Arya hanya tertawa.


"Kalau luntur ya pakai lagi." jawab pria itu.


"Nanti cepet habis."


"Kalau habis ya beli lagi."


"Sayang duitnya."


"Dasar pelit."


"Hemat abang."


"Hmmm ..." dia tidak akan mendebat lagi, karena bisa dipastikan tidak akan memenangkan perdebatan tersebut. Vania jelas akan lebih mendominasi, dan dirinya sudah berpengalaman dengan hal itu.


"Ya udah." Vania mengenakan jaketnya secara asal. "Aku pergi." pamitnya lagi sambil mengenakan helm.


"Eh, ... tunggu." Arya menarik lengannya sehingga dia kembali.


"Apa lagi?"


"Ini." pria itu mengancingka kemejanya hingga ke bagian yang paling atas. Begitupun dengan jaketnya yang dia rapatkan.


"Telalu tertutup abang. Aku sesak." protes sang istri, yang berusaha membuka relsleting jaket dan kancing kemejanya.


"Setidaknya jangan kemejanya, Van." Arya menahan tangannya.


"Emangnya kenapa?" dia menjengit.


"Kamu tidak berkaca tadi?" pria itu bertanya.


"Nggak. Aku kan buru-buru, gara-gara abang gangguin terus jadinya aku kesiangan." dia mengingatkan saat pria itu menariknya ke tempat tidur usai membersihkan diri, dan malah mencumbuinya hingga dirinya kelimpungan.


Arya kembali tergelak.


"Dih, malah ketawa? untung aku nggak kerja di tampat orang. Kalau nggak, udah abis aku kena sp karena tiap hari telat melulu." Vania menggerutu. Dan memang pada kenyataannya seperti itu. Hampir setiap pagi saat dirinya keluar dari kamar mandi, dan pria itu telah siap setelah dia mengurusnya, kegiatan itu selalu terjadi dan berulang sejak minggu-minggu terakhir ini.


"Kan bagian dari pacaran?" Arya dengan tawa renyahnya. "Pacaran halal." katanya lagi, sembari merapatkan kemeja yang melekat di tubuh istrinya, dia takut kalau-kalau perempuan itu akan merasa malu nantinya.


"Abang ih, ... udah. Jangan dipasang lagi!" protesnya lagi.


"Nanti kamu akan malu kalau tidak dipasang."


"Kenapa harus malu?"


"Lehernya merah-merah." Arya kembali mengulum senyum.


"Hah? masa?"


"Hmm ..."


Vania merogoh ponsel di dalam tasnya, kemudian menyalakannya untuk melihat penampilannya.


"Abaaaaanng!!" teriaknya, dan dia menggusap-usap kulit lehernya yang terdapat bercak-bercak merah sisa cumbuan beberapa saat sebelumnya.


"Makanya tutupin." Arya tertawa.


"Abang ih, ... malah dibikin gini?"


Arya terus tertawa hingga perempuan itu keluar dari dalam rumah.


🌺


🌺


"Keadaanmu cukup baik. Tapi untuk memastikannya, kamu bisa periksa lagi ke rumah sakit. Biar yakin." sang terapist yang juga merupakan kenalannya mengakhiri sesi terapi hari itu.


"Syukurlah." Arya akhirnya bisa bernapas lega.


"Tapi tetap saja, tidak boleh melakukan kegiatan yang berat-berat." pria itu memperingatkan.


"Aku tidak pernah melakukan kegiatan berat. Tahu sendiri, sudah dua bulan ini aku dirumah."


"Aku tahu, maksudku bukan kegiatan berat semacam itu." sang terapist tergelak.


"Lalu apa?" Arya mengerutkan dahi.


Dia meniupkan napasnya di udara.


"Terserah padamu, yang penting jangan melakukan kegiatan berat pokoknya." pria itu berdiri, lalu meraih tasnya.


"Aku pergi lah, ... susah memang kalau bicara dengan mantan jomblo yang baru saja menikah." gumamnya, yang kemudian meninggalkan Arya yang keningnya berkerut semakin dalam.


"Apa itu maksudnya?" dia bertanya-tanya, lalu menoleh ke arah ponselnya yang menyala. Tampak ada panggilan dari nomor Vania.


"Ya?"


"Terapinya udah?" tanya sang istri dari seberang sana.


"Sudah, barusan."


"Oh, ... abang udah makan?"


"Belum. Mungkin sebentar lagi."


"Oke kalau begitu. Tapi aku nggak bisa pulang siang-siang. Ada pesanan dadakan untuk nanti sore. Pulangnya juga malem kayaknya."


"Iya, tidak apa-apa. Tidak usah buru-buru."


"Ya udah. Aku balik kerja lagi ya?"


"Iya." kemudian panggilan diakhiri.


***


Raja muncul dengan membawa beberapa gulungan kertas di tangannya. Kemudian menyerahkannya kepada pria itu, yang merupakan sketsa rancangan yang diminta Arya untuk dia kerjakan.


"Abang yakin mau kerjain ini?" pria muda itu menyodorkan benda yang di bawanya.


"Yakin."


"Emang udah bisa?" Raja meyakinkan.


"Bisa, makanya saya minta."


"Jangan maksain lah kalau belum sembuh bener, nanti malah tambah parah? soal gaji, ... papa udah kasih instruksi sama orang keuangan kalau abang akan digaji full selama pemulihan. Dan dapet kompensasi juga."

__ADS_1


"Bukan soal gaji. Saya cuma bosan karena tidak ada kegiatan dirumah." Arya menjawab.


"Gangguin Vania kek, tuh juga bisa jadi kegiatan." Raja tergelak.


"Kamu itu ...


"Ngomong-ngomong, Vania kemana?" Raja memindai ruangan, karena sejak dirinya masuk kedalam rumah itu, tak dilihatnya sama sekali perempuan yang kini telah menjadi istri dari pria di depannya itu.


"Di kedai."


"Kerja lagi?"


"Iyalah, apalagi? itukan memang sudah pekerjaannya."


"Oh iya, lupa. Dia kan owner nya."


"Begitulah."


Dan percakapan mereka berdua pun terhenti ketika suara klakson dari mobil Raja berbunyi.


"Kamu tidak sendiri?" Arya bertanya, dan dia mengalihkan pandangannya keluar.


"Ee ... itu ... ng ... nggak."


"Dengan siapa kamu datang?"


"Temen." jawab Arya, singkat.


"Teman? kok tidak ikut turun?"


"Nggak lah, aku buru-buru juga ini mau pergi." Raja bangkit dari sofa.


"Kemana?"


"Ada acara."


"Acara apa?" Arya tiba-tiba ingin tahu.


"Ah, ... abang kepo. Sama kayak papa." ucap Raja, kemudian berpamitan.


Dan pria itu mengikuti Raja dengan pandangan matanya. Yang berjalan tergesa menuju mobil yang terparkir di pekarangan rumah.


"Sabar kenapa sih?" Raja terdengar menggerutu.


"Bapak lama. Nanti kita kemalaman." kemudian terdengar suara perempuan yang berasal dari dalam mobil.


"Nggak akan. Aku ngebut."


"Ini mau akhir pekan Pak, Bandung pasti macet."


"Kita lewat tol."


"Kejauhan muternya."


"Yang penting nggak kena macet!" Raja masuk kedalam mobilnya, dan merekapun pergi.


🌺


🌺


"Kok dibuka?" Vania yang telah berganti pakaian setelah membersihkan diri, menghampiri suaminya di tempat tidur yang tengah membuka verban di tangannya.


"Cuma mau cek."


"Udah sembuh?"


"Mudah-mudahan."


"Masih sakit nggak?" Vania mebantunya melepaskan gulungan verban yang melilit dari pergelangan tangan hingga ke bawah sikut.


"Agak ngilu."


"Hmmm ..." Vania menyentuhnya dengan hati-hati ketika verban sudah terlepas seluruhnya.


"Mau apa kamu?" Arya menarik lengannya.


"Cuma mau pegang doang." Vania menjawab.


"Tidak mau! kamu sering tidak bertanggung jawab!" sergah pria itu.


"Nggak tanggung jawab apanya?"


"Kamu suka pergi setelah pegang-pegang." ucap Arya.


Kemudian keduanya terdiam, seperti biasa percakapan absurd itu memulai acara tidur mereka.


"Aku mau megang tangan, tapi kok pikiran aku ke yang lain ya?" Vania menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Arya melirik.


"Apa?" tanya nya.


"Mm ... gara-gara abang pikiran aku jadi kotor. Maunya mikirin itu melulu." Vania berujar, dan bayangan beberapa kejadian sejak mereka menikah dan tinggal serumah melintas di kepala.


Sebuah senyum hampir terbit di sudut bibir Arya.


"Salah kamu."


"Apaan? abang yang mulai."


"Kamu yang mau."


"Aku cuma ngikutin." mata perempuan itu bergerak-gerak tak tentu arah, kadang menatap wajah suaminya, kemudian beralih ke arah lain, begitu seterusnya.


"Besok ada pesanan lagi?" Arya mengalihkan pembicaraan.


"Ada. Sampai seminggu kedepan." Vania mengangguk.


"Pulang malam lagi?"


"Iya."


"Baiklah, ..." Arya melirik jam dinding, dan waktu sudah tiba pada larut malam.


"Abang mau tidur sekarang?" perempuan itu bertanya saat suaminya merebahkan kepala diatas bantal.


"Ya tidur. Mau apa lagi?" Arya menarik selimutnya.


"Iya ya, ... besok aku juga harus pergi subuh." Vania melakukan hal yang sama.


"Kenapa?"


"Belanja bahan."


"Sendiri?"


"Iya. Jadi aku mau bawa mobil abang boleh? soalnya belanjaannya banyak. Kalau paki motor nggak akan muat, sementara mobil aku di rumah ibu. Kalau ngambil dulu kesana lama."


"Pakai saja."


"Oke." Arya mematikan lampu tidur di dekatnya.


Suasana terasa hening seketika. Keduanya menatap langit-langit kamar yang temaram, yang hanya disinari dari lampu luar di dekat jendela.


"Abang?"


"Hum?"


"Katanya mau tidur?"


"Ini mau."


"Tapi belum?"


"Kamu ngobrol terus, ya abang belum bisa tidur."


"Oh, ....


Dan mereka terdiam lagi untuk beberapa menit.


"Abang?" Vania memiringkan tubuhnya ke arah Arya.


"Ya?"


"Masih belum tidur?" dia terkekeh.


"Ck! kamu bicara terus."


"Aku ... mau pacaran."

__ADS_1


"Hum?" Arya menjengit.


"Pacaran halal?" perempuan itu tertawa.


"Eh tapi udah malam. Mendingan tidur, takut besok kesiangan." Vania merangsek ke dekat suaminya, kemudian menyurukan kepalanya pada dada bidang pria itu dengan tangan yang dia lilitkan di pinggangnya.


"Bobo bang." bisiknya, namum keningnya sedikit menjemgit ketika merasakan debaran keras di dada pria itu.


"Abang deg-degan?" Vania menyentuh dada kiri suaminya perlahan. Terasa benda di dalamnya tengah berpacu kencang.


"Iya, gara-gara kamu." Arya dengan suara rendah.


"Aku juga."


"Kita memang selalu deg-degan kalau seperti ini."


"Hu'um, ...


"Tapi ...


"Kita nggak bisa ngapa-ngapain, ..." Vania mendongak, menatap wajah pria yang ternyata juga tengah menatapnya. "Paling pacaran doang ..." lanjutnya.


"Pacaran halal." lalu mereka berdua tertawa.


"Mau?"


"Apa?"


"Pacaran halal?"


"Abang gimana?"


"Mau juga, tapi mungkin akan seperti sebelum-sebelumnya."


"Apa?"


"Kita berhenti di tengah jalan. Abang masih ...


Tanpa di duga Vania merangsek lebih merapat kepadanya, kemudian menarik leher pria itu untuk meraih bibirmya, dan dia kecup sebanyak yang dia bisa.


"Kayaknya nggak apa-apa kalau kita pacarannya berhenti-berhenti terus." Vania menjeda cumbuannya.


"Kamu yang tidak apa-apa. Abang yang tersiksa." jawab Arya, lalu terkekeh.


"Masa?"


"Huum. Abang harus menahannya semalaman, dan kamu tidak tahu seperti apa rasanya."


"Apa rasanya sakit?" Vania bertanya.


"Tidak. Hanya saja ... sedikit tidak enak dibawah sini." Arya mengarahkan pandangannya ke area pribadinya.


"Masa?"


"Hmm...


"Kalau kita deketan kayak gini?" Vania semakin merapatkan tubuhnya kepada Arya.


"Ya, ....


Kemudian dia menaikan sebelah kakinya ke paha pria itu, dan perlahan bangkit. Vania mengungkung tubuh suaminya, sehingga pria itu kini berada di bawahnya.


"Kalau gini?" dia memindai eksprsi yang terpancar dari wajah itu.


Arya terhenyak, dan dia balas menatap wajah perempuan di atasnya. Debaran di hati keduanya kini semakin menggila, dengan pikiran yang mulai mengabur bersamaan.


Napas keduanya berhembus kencang, dan di detik berikutnya Arya menekan tengkuk Vania sehingga bibir mereka kembali bertemu, lalu melanjutkan cumbuan yang sempat terhenti.


Apakah akan terjadi sekarang?


Apa bisa?


Batin pria itu bermonolog, bersamaan dengan detak jantung yang semakin tak karuan.


Berdebar


berdebar


Dan merekapun membiarkan diri untuk sama-sama terhanyut dalam gelombag gairah yang semakin menyeruak. Membuat suasana seketika memanas dengan sendirinya.


Arya perlahan bangkit, sedikit mendorong Vania agar bangkit juga, namun tanpa melepaskan pertautan bibir mereka berdua, yang sesapannya semakin dalam, semakin menghanyutkan, dan semakin memabukan. Mereka bahkan telah melepaskan pakaian masing masing hingga hanya pak*ian dal*m saja yang tersisa.


Sentuhan pria itu kini beralih pada gundukan menantang di depan matanya, yang mengantung indah dan ranum seperti buah yang siap dipetik. Yang ingin dia nikmati sepuas hati.


Ah, hati ... aku tak mampu menahannya lagi.


Arya mempermainkan benda itu dengan penuh perasaan. Merematnya dengan lembut seperti takut akan menghancurkannya jika dia melakukannya sedikit keras. Namun hal tersebut membuat perempuan diatas pangkuannya menggeliat-geliat tak karuan.


Vania kembali merasakan gelenyar-gelenyar indah di sekujur tubuhnya, saat Arya menyentuhnya seperti itu.


"Abang?" dia menempelkan kening mereka berdua dengan mata yang terpejam dan napas menderu-deru. Menikmati sentuhan hangat dari suaminya yang selalu membuat dia menginginkannya.


Ya, dia sangat-sangat menginginkannya.


Sebelah tangan Arya menekan punggungnya sehingga mereka semakin menempel, sementara sebelah tangan lainnya merayap menyusuri pinggang, lalu menemukan bok*ng menggodanya. Sebuah kain tipis masih melilit disana, dengan tali yang terikat di kedua sisinya.


Arya menjengit, kemudian melihat untuk memeriksa.


Vania mengenakan celana mini berwarna magenta dengan tali bersimpul pita di sisi pinggulnya. Dia mencoba menarik ujung pita untuk melepaskan lilitan. Dan terlepaslah kain terakhir yang menutupi ar*a prib*dinya. Bersamaan dengan jantung pria itu yang terasa meledak.


Arya mendongak untuk kembali menatap wajah Vania dalam keremangan.


Terlihat perempuan itu tersenyum malu/nalu namun terlihat menggoda.


"Biar abang gampang bukanya." Vania berbisik. "Gampang kan?" katanya lagi dengan pipi yang merona. Dia merasa malu, namun juga tak dapat memikirkan hal lain selain menggoda suaminya.


"Kamu nakal!" Arya balas berbisik, kemudian terkekeh lagi untuk menyamarkan debaran hebat di dada. Namun sesaat kemudian mereka kembali bercumbu dan saling menyentuh.


Arya dengan tergesa mengangkat pinggul Vania, sehingga membuat milik mereka hampir saling menyentuh. Lalu dia mendongak lagi.


"Kamu bisa?" tanya nya.


"Ap-apa?"


"Kalau kamu yang memegang kendali?"


"A-aku ... nggak tahu." Vania tiba-tiba merasa gugup. Jelas dia merasa sesuatu si bawah sana sudah siap, dan dia mengerti.


"Kalau begitu, ayo kita cari tahu?" Arya setengah menggeram, dan dia sudah tak sabar. Alat tempurnya sudah sangat siap dibawah sana.


"Ngg ...


Pria itu perlahan menekan pinggul Vania sehingga miliknya melesak sedikit demi sedikit kedalam sana.


"Abang?" perempuan itu merintih ketika merasakan sesuatu berusaha menerobos inti tubuhnya secara perlahan, membuat Arya menghentikan percobaannya sejenak. Lalu dia menatapnya.


Wajah Vania yang memerah dangan ekspresi tak biasa. Ditambah keningnya yang sedikit menjengit.


Arya kembali menekan pinggul perempuan itu hingga alat tempurnya telah masuk setengahnya. Pria itu merasa menabrak sesuatu di dalam sana, yang membuatnya terus menekan Vania seiring nalurinya yang mulai bekerja.


"Ah, ... abang. Sakit!" Vania merintih lagi, dengan napasnya yang tersengal-sengal. Dia merasa sesuatu memaksanya untuk membuka diri, namun sulit. Dan yang terjadi adalah dirinya malah bertahan dan berusaha menolak kala rasa sakit dan perih hampir datang bersamaan.


Arya berhenti lagi, dan dia kembali menatap raut wajah Vania yang semakin terlihat kesakitan. Yang akhirnya membuat pria itu merasa tak tega. Melihatnya meringis, dan mendengarnya merintih.


Aya mengangkat pinggul Vania, lalu melepaskan pertautan yang hampir sempurna itu. Dan mendudukannya di pangkuan.


"Abang?" Vania terhenyak mendapati suaminya melepaskan diri, bahkan disaat pergumulan itu baru saja akan terjadi.


"Mungkin sampai sini dulu?" Arya berujar.


"Kok?" Vania masih mencoba menenangkan diri.


"Nanti kita teruskan lagi?" lanjut pria itu lagi, kemudian menurunkan Vania dari pangkuannnya. Mendorongnya hingga dia berbaring, dan hal yang sama pun dia lakukan. Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


Vania masih mencoba mengumpukkan kesadarannya ketika Arya memeluknya dibalik selimut.


"Tidurlah, bukankah besok kamu banyak pekerjaan?"


"Tapi abang ...


"Tidur." bisik Arya, yang kemudian menyurukan wajah di tengkuk istrinya.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


jangan demo!! 😂😂😂


kabuuuuuuuuuurrrrrr


__ADS_2