JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Episode 103


__ADS_3

Di sebuah restoran Hans dan Sasha sedang menikmati makan siang mereka. Bukan suatu kebetulan mereka berada di sana. Itu semua karena rencana Sasha, gadis remaja yang sedang tergila-gila kepada pria matang seperti Hans.


Setelah pertemuan keduanya dengan Hans di rumah sakit beberapa hari yang lalu, Sasha meminta kepada Darman ingin dijodohkan dengan Hans. Awalnya Darman tidak mau dan menganggap permintaan putri bungsunya itu hanyalah main-main, lagipula umurnya yang masih belia membuat Darman berpikir bahwa perasaan putrinya itu bersifat sementara saja.


Darman juga ingin Hans menjadi menantunya, karena dia tau betul bagaimana sifat Hans. Tapi jika memaksa pria itu sangat tidak mungkin, karena dia tidak berhak. Melihat Sasha memohon-mohon kepadanya membuat Darman tidak tega menolaknya.


Darman mulai memikirkan cara untuk mendekatkan Sasha dengan Hans, tetapi bukan dengan cara perjodohan. Biarlah Darman memberikan celah bagi Sasha dan putrinya itu bisa memikat hati Hans.


Dan di sinilah mereka sekarang, beberapa jam yang lalu Darman meminta Hans untuk menjemput Sasha, dengan alasan karena sopir keluarga mereka sedang pulang kampung. Dan Hans tidak bisa meolak, karena dia sendiri sangat menghargai Darman.


"Bagaimana sekolahmu?" tanya Hans disela makan siang mereka.


"Ya begitulah...?" jawab Sasha malas.


"Begitu bagaimana?"


"Tidak menyenangkan, aku ingin cepat-cepat lulus agar bisa menikah denganmu."

__ADS_1


"Hei kau ini. Masih muda tapi pikiranmu sudah sampai di sana." Hans dibuat heran dengan jawaban gadis ini.


"Biar saja. Nanti kalau kita belum menikah, bisa-bisa kau malah diambil orang."


"Sasha... dengarkan aku. Kau masih kecil, belum mengerti apa-apa, sebaiknya pikirkan dulu masa depanmu baru menikah.Ok?"


"Lagipula aku tidak yakin kau masih menyukaiku beberapa bulan lagi, dan berpindah ke lain pria." Hans memaklumi perasaan Sasha, dia menganggap gadis ini masih labil.


Mendengar itu membuat Sasha menjadi kesal, kenapa tidak ada yang percaya pada perasaannya. "Sudah berapa kali kukatakan Kak, perasaanku padamu tidak akan berubah."


***


Brian dan Aqira sedang berbaring di atas tempat tidur saat ini dan bersiap untuk tidur. Seperti biasa, Aqira akan tertidur di dalam dekapan sang suami. "Sayang..." panggil Brian yang ternyata masih terjaga.


"Hmm...?" Aqira hampir saja terlelap tapi gagal setelah panggilan dari Brian.


"Sebentar lagi ulang tahunmu bukan?"

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa tau?" Aqira mengernyitkan keningnya, seingatnya dia belum pernah memberitahukan Brian.


"Tentu saja aku tau, karena aku suamimu."


"Apa yang kau inginkan di ulang tahunmu yang ke dua puluh ini hmm..." Brian mendekatkan wajahnya di wajah Aqira yang masih terdiam.


Aqira menatap Brian lembut dan penuh cinta. Rasa bahagia kini menyergap hatinya. "Aku tidak menginginkan apapun kecuali satu hal."


"Apa itu? Katakanlah sayang." tanya Brian seraya mengambil tangan Aqira lalu menempelkan di wajahnya.


"Aku hanya ingin kau tetap bersamaku sampai di masa tuaku kelak. Aku ingin di masa rambut ini sudah memutih, kita tetap bersama sampai maut memisahkan." hanya itulah satu permintaan Aqira.


Mendengar ucapan istrinya yang begitu tulus membuat Brian tak kuasa menahan senyum di bibirnya. Ternyata mereka berdua sama-sama memiliki perasaan yang besar.


Brian bersyukur Tuhan telah mempertemukan dirinya dengan Aqira. Brian berjanji tidak akan pernah menyakiti wanita ini lagi.


"Aku janji akan selalu di sisimu sampai maut memisahkan." ucap Brian lembut. Dengan rasa rindu yang ditahannya selama beberapa minggu ini, Brian mulai menciumi dan menjamah tubuh sang istri. Melucuti pakaiannya satu persatu dan berakhir dalam percintaan panas yang selama tiga minggu ini ditahannya.

__ADS_1


__ADS_2