JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Marah


__ADS_3

Happy Reading


Brian masih setia berdiri di depan pintu rumah Aqira. Beberapa kali dia memanggil Aqira agar membukakan pintu.


"Sayang kumohon dengarkan dulu penjelasanku, kau salah paham sayang, tolong buka pintunya." Ini yang terakhir kalinya pria itu memanggil istrinya.


Tapi tetap saja Aqira tidak membukakan pintu.


Dengan perlahan Brian berbalik ingin meninggalkan rumah itu. Dia akan datang lagi besok, mungkin Aqira tidak ingin diganggu saat ini, pikirnya.


Aqira yang sedari tadi duduk bersandar di pintu tidak mendengar suara Brian lagi.


Aqira mencoba meluruhkan egonya, lebih baik dia membiarkan Brian menjelaskannya.


Aqira membuka pintu rumahnya, melihat punggung Brian yang bersiap meninggalkan rumahnya.


Hal itu membuat Aqira emosi, seperti itukah perjuangan pria ini untuk meyakinkannya?


"Kau ingin pergi tanpa menjelaskannya?" suara Aqira yang terdengar parau menghentikan langkah Brian.


Brian seketika berbalik, menatap istrinya dengan tersenyum. Dia tau Aqira masih marah, itu terlihat jelas dari suara Aqira yang dingin berbicara padanya.


Brian mendekati Aqira, tangannya bergerak ingin menyentuh wajah Aqira yang sembab.


Tapi secepat mungkin ditepis olehnya, "Jangan sentuh aku!" ketusnya.


"Aku hanya memintamu menjelaskannya." ucapan Aqira yang terdengar sarkas.


Brian tersenyum melihat Aqira, dia sangat gemas dengan wajah itu, wajah Aqira terlihat lucu saat sedang marah.


"Maafkan aku sayang.." lirih Brian.


Aqira mendengus kesal, wanita itu masih sangat marah pada Brian.


"Cepat jelaskan!" perintahnya.


"Baiklah aku akan menjelaskannya... tapi.."


"Apa lagi? Cepat jelaskan!" ketus Aqira.


"Sayang.. Kau tidak membiarkanku masuk? Tidak mungkinkan aku menjelaskan di sini?" Brian mencoba berucap selembut mungkin.


Rasanya tidak enak menjelaskannya sambil berdiri, apalagi ini di depan pintu.


Aqira berdecak kesal, "Ck. Masuklah." membukakan pintu lebar-lebar.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah, sejenak Brian memperhatikan rumah sederhana istrinya. Walaupun tidak terlalu besar, rumah itu tetap terasa nyaman dan bersih.


Brian mendudukkan bokongnya di sebuah sofa kecil yang sedikit usang, diikuti Aqira yang duduk di sebelahnya.


Brian menatap Aqira penuh arti, "Sayang.."


mengambil tangan Aqira, tapi dengan cepat ditepis wanita itu.


"Sayang.. aku minta maaf, tidak seharusnya aku melakukan itu. Aku tau aku salah tolong maafkan aku. Aku ..."

__ADS_1


"Siapa dia..?"


Brian diam, tidak menjawab pertanyaan Aqira.


"Kenapa diam? Aku tanya siapa dia?" walaupun Aqira tau segalanya, tapi dia ingin mendengar sendiri dari mulut pria ini.


"Dia... hanya masa laluku... dia tidak penting. Sekarang hanya dirimulah prioritasku, tolong jangan memikirkannya lagi ya?" jawab Brian.


"Hanya masa lalu?" mengerutkan keningnya.


"Kau bilang aku tidak usah memikirkannya? Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya, setelah aku melihat kalian berpelukan seperti tadi? Kau pikir aku perempuan bodoh?" sergah Aqira. Wanita itu tidak habis pikir akan cara berpikir suaminya ini.


Matanya kembali berkaca-kaca, menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.


"Sayang.. maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu, kau lihat sendiri kan dia dia lebih dulu memelukku..." jelas Brian.


"Tapi kau juga membalasnya!" ucap Aqira geram.


"Tidak sayang, aku.. aku hanya terkejut ketika melihatnya setelah sekian lama. Percaya padaku sayang, aku tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengannya. Aku bersumpah demi apapun aku sungguh tidak memiliki perasaan sedikitpun padanya." ucap Brian sungguh-sungguh.


Aqira nampak berpikir sejenak, masih memandangi wajah suaminya, seolah mencari kebenaran di sana.


Aqira seorang wanita, dia dapat merasakan keraguan dalam diri Brian walaupun pria itu berkata bersungguh-sungguh.


"Tolong biarkan aku sendiri." ucapnya dingin.


"Sayang...?"


"Kumohon... biarkan aku menenangkan diri." pinta Aqira.


"A..aku tidak tau... kumohon pergilah Brian. Biarkan aku sendiri."


Brian meraup wajahnya kasar, menarik napasnya berkali-kali seakan ingin meredakan emosinya yang membludak.


Brian berdiri dari duduknya, menundukkan pandangannya kepada Aqira yang juga menundukkan kepalanya sambil meremas jari tangannya.


"Baiklah. Aku akan pergi. Besok pagi aku akan datang lagi." mengusap kepala Aqira.


Brian berbalik, melangkah menuju pintu, pria itu berharap Aqira akan menghentikannya, ternyata tidak. Saat Brian sampai di mobil pun Aqira sama sekali tidak keluar untuk melihat kepergiannya.


"Kenapa semua jadi seperti ini." Brian memukul stir mobilnya.


Brian merogoh ponselnya di kantong celananya, membukanya dan menghubungi seseorang.


Brian langsung ke intinya, "Kapan dia kembali ke negara ini?" tanya Brian dingin.


"Seminggu yang lalu Tuan." ucap seseorang di sebrang sana.


"Bodoh! Kenapa tidak melapor padaku!" suara Brian yang terdengar menyeramkan membuat anak buahnya bergidik ketakutan.


"Ma..maaf Tuan. Saya lupa memberitahukannya kepada Anda." cicit orang itu.


"Dasar tidak berguna!" bentak Brian lalu mematikan ponselnya.


Brian menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Brian kembali mengingat pertemuannya tadi bersama kekasih masa lalunya untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama.


"Jessi... kenapa kau kembali di saat yang tidak tepat?" lirih Brian.


Besoknya Brian kembali lagi ke rumah Aqira.


Tangannya bergerak mengetuk pintu rumah Aqira.


Beberapa saat menunggu pintu terbuka, Aqira muncul dengan wajah mengantuknya.


Sepertinya Aqira baru bangun tidur, Brian menahan senyumnya saat melihat Aqira yang terlihat lucu dengan piyama bercorak kuda unicorn warna-warni.


Ingin sekali rasanya Brian memeluk istrinya itu. "Sayang." Brian mendekat ingin memeluk Aqira. Aqira menghindar dengan cepat, tidak ingin disentuh pria itu.


Walaupun dalam hatinya dia juga sangat ingin memeluk pria itu, tetapi pikirannya selalu menolak.


Brian tersenyum kecut atas tindakan istrinya barusan. "Maaf." ucapnya pelan.


Brian mengangkat tangannya di depan Aqira, sebuah kotak bekal disodorkan pria itu.


"Kau belum sarapan kan? Ayo aku akan menemanimu."


"Tidak usah, aku bisa memasak sendiri. Pulanglah." ketus Aqira kemudian menarik pintu hendak menutupnya.


"Sayang...Tunggu." menahan pintu dengan tangannya.


Brian memperhatikan wajah Aqira intens, "Matamu bengkak, kau menangis semalaman?" tangannya menyentuh bagian mata wanita itu.


Dengan cepat Aqira menepis tangan itu, mendorong tubuh Brian agar menjauh.


"Pergilah Brian!"


"Tidak sayang, kali ini aku tidak akan menurutimu lagi." mendorong Aqira masuk ke dalam rumah.


Aqira memekik terkejut akan dorongan Brian yang tiba-tiba. "Apa yang kau lakukan!" menatap tajam pria itu.


"Maaf sayang, sudah cukup aku menuruti dirimu, sekarang jangan membantahku lagi." ucapnya tegas.


"Kemari." Brian menarik Aqira ke sofa yang semalam mereka duduki.


"Duduklah sayang." mendudukkan Aqira di sampingnya.


Brian membuka kotak bekal yang dibawanya tadi.


"Buka mulutmu sayang." tangan Brian yang memegang sendok berisi makanan menggantung di depan wanita itu.


"Tidak mau!" cebik Aqira.


"Kubilang buka mulutmu." suara Brian terdengar menyeramkan membuat Aqira ketakutan.


Aqira membuka mulutnya dengan terpaksa, Brian menyuapkan nasi kepada Aqira.


Wanita itu mengunyah makanannya pelan, sambil memperhatikan Brian yang sedang menyuapinya.


Hatinya begitu kacau pagi ini, antara rasa hangat, bahagia, kesal dan marah melingkupi hati wanita itu.

__ADS_1


"Brian br*ngs*k, kau adalah pria pertama yang berhasil membuat hidupku kacau." batin Aqira.


__ADS_2