
Happy Reading
Like Dulu Sebelum Baca
"Kemari." Brian menepuk tempat tidur di sebelahnya, agar Aqira tidur di sampingnya.
Aqira menurut, wanita itu ikut merebahkan tubuhnya di samping Brian dengan lengan pria itu sebagai bantalnya.
"Sayang..." panggil Brian, menggeser tubuhnya menghadap Aqira.
Aqira mendongak agar dapat melihat suaminya, "Ada apa sayang?"
"Maukah kau menuruti permintaanku?"
Mengerutkan keningnya, "Memangnya apa permintaanmu? Kalau aku bisa aku akan melakukannya." Ini pertama kalinya pria ini membuat permintaan padanya.
"Aku ingin kau menjauhi pria itu." Bria menatap lekat wajah wanita itu, ingin melihat bagaimana reaksinya.
Aqira juga membalas tatapan pria itu, "Maksudmu.... Kak Hans?"
"Emm.."
"Ta.. tapi kenapa, aku.. sudah menganggap Kak Hans seperti saudara. Tidak mungkin aku menjauhinya." raut wajahnya menjadi sedih.
"Tapi dia tidak menganggapmu seperti saudara, sayang.."
"Apa maksudmu...?"
"Dia menyukaimu. Aku dapat melihat tatapan cinta di mata pria itu untukmu. Dan aku tidak suka itu. Hanya aku yang boleh menatapmu seperti itu. Kau hanya milikku." tutur Brian penuh keseriusan.
"Tidak mungkin. Kak Hans menyukaiku hanya sebatas adik kakak saja tidak lebih. Tolong jangan berprasangka buruk, sayang. Itu tidak baik." Tidak mungkin kan kalau Hans menyukainya, huh pria ini selalu over thinking.
"Aku tidak berprasangka. Aku ini seorang lelaki, jadi aku bisa melihat bagaimana caranya memandangmu. Dan aku sungguh tidak suka jika kau masih berhubungan dengannya."
"Tapi..."
"Sayang tolong..." mengambil tangan mungil Aqira, lalu meletakkan di wajahnya.
"Dulu aku mengancammu untuk menjauhinya, tapi sekarang... aku mohon dengan sangat, tolong jangan menemuinya lagi." Tuh kan posesifnya muncul lagi.
Aqira nampak berpikir sejenak. Memikirkan apakah dia benar-benar akan menjauhi Hans. Tapi dia sungguh tidak tega, mengingat dulu sikap pria itu kepadanya dan selalu menolongnya di saat dirinya susah. Dan setelah mendapat kebahagiaannya, dirinya dengan begitu mudahnya mengabaikan pria itu. Sungguh, dirinya tidak sampai hati melakukan itu.
Wanita itu menghelakan napasnya, "Baiklah aku akan menurutimu, aku janji aku akan menjauhinya." mengusap pipi Brian dengan ibu jarinya.
"Tapi aku punya permintaan..."
"Hmm..?" gumam Brian.
"Aku ingin menemuinya untuk terakhir kali." pinta Aqira.
"Untuk apa? Aku tidak mengizinkanmu." sergahnya langsung.
"Sayang... aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada Kak Hans. Kak Hans sangat baik padaku, tidak mungkinkan aku mengabaikannya begitu saja tanpa alasan yang jelas." tuturnya.
"Tolong mengertilah sayang. Kalau bukan karena dirinya, aku rasa aku tidak akan bertahan di sisimu saat ini." mengerucutkan bibirnya.
Pria itu menimang-nimang sebentar lalu mengusap wajahnya kasar.
"Baiklah baik. Kau boleh menemuinya, tapi harus dalam pengawasanku."
Mendengar persetujuan suaminya membuat Aqira tersenyum senang.
"Baiklah kau boleh menyuruh anak buahmu mengawasi kami."
"Heh siapa bilang aku akan menyuruh anak buahku yang mengawasi..." ujar Brian jengkel.
"Jadi... maksudmu siapa?"
Jemari Brian menyentil kening Aqira, "Tentu saja aku sendiri yang mengawasi kalian bodoh."
"Maksudmu kau ikut menemui Kak Hans?" sambil mengelus bekas sentilan Brian.
"Tentu saja. Kau pikir aku akan membiarkan kalian berdua bertemu begitu saja? Heh jangan harap."
__ADS_1
"Sayang...?" rengek Aqira. Membuat wajahnya sesedih mungkin.
Tapi Brian nampaknya tidak terpengaruh. Pria itu malah merebahkan tubuhnya di samping Aqira lalu memejamkan matanya. Mengabaikan istrinya yang masih merengek.
"Sayang.. kami hanya akan berbicara sebentar saja. Jadi untuk apa kau ikut?"
"Pekerjaanmu kan banyak, jadi kau tidak usah ikut."
Berbagai rayuan digunakan Aqira tetapi tidak membuat Brian goyah juga.
Hal itu membuat Brian jengah mendengarnya. Kemudian membalikkan tubuhnya ke arah Aqira, menatap tajam manik coklat milik istrinya.
"Sekali lagi kau bicara, kupastikan kau tidak akan bertemu sama sekali dengannya." ujar Brian dingin. Lalu membalikkan badannya membelakangi Aqira.
Aqira yang semula ketakutan akan ucapan Brian kini heran dengan Brian yang membelakanginya. "Apa dia marah?" batinnya.
Aqira ingin menyentuh punggung lelaki itu tapi dia takut akan membuat Brian marah lagi.
Hampir dua puluh menit Aqira memandangi punggung Brian yang tidur membelakanginya. "Apakah aku terlalu berlebihan tadi?" pikirnya.
Kedua tangannya bergerak memeluk pria itu dari belakang. Melingkarkan tangan mungilnya dengan erat di perut Brian.
"Maafkan aku. Aku akan menurutimu, aku tidak akan menemui Kak Hans lagi." lirih Aqira sambil menyandarkan kepalanya di punggung kekar pria itu.
Aqira mengira jika Brian sudah tidur, ternyata tidak. Pria itu sedari tadi menunggu reaksi istrinya, hingga dia tersenyum kecil saat reaksi Aqira sesuai dengan pemikirannya.
Tangan Brian bergerak mengusap punggung tangan Aqira yang melingkari perut ratanya.
Kemudian membalikkan tubuhnya ke pada Aqira, menatap wanita yang juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan, dengan senyumnya.
"Selamat tidur sayang." ucap Brian sambil mencium kening Aqira.
"Sayang... Kau marah padaku?" tanya wanita itu.
"Kenapa aku harus marah pada istri cantikku ini, hmm...?" sambil menyibakkan rambut istrinya ke balik telinganya.
"Aku.. aku rasa aku terlalu berlebihan tadi."
Brian menanggapinya dengan senyum yang terpatri di sudut bibirnya, "Tidak, aku tidak marah."
Mencium kembali kening Aqira.
"Give me a kiss please?" pinta Brian.
Aqira bingung, "Hah...?" setelah mengerti, dengan malu-malu Aqira memajukan wajahnya, lalu mengecup sebentar di bibir Brian.
"Hanya kecupan?"
"No no no, itu tidak cukup. Give me a hot kiss." Brian tersenyum penuh arti.
"Hot.. hot kiss?"
"Iya hot kiss. Selama ini kau tidak pernah agresif kepadaku. Jadi aku ingin kau menciumku dengan panas, sekalian aku juga ingin melihat kemampuanmu." ucapan itu sontak membuat pipi Aqira memerah malu.
Melihat Aqira hanya diam saja, membuat Brian memikirkan sebuah ide lagi.
"Kau tidak mau? Baiklah, tidak apa-apa. Aku mau tidur dulu, selamat malam." trik tarik ulur Brian.
Hampir saja Brian membalikkan tubuhnya lagi, tapi ditahan oleh Aqira.
"Apa lagi? Aku mau tidur, jangan ganggu aku." ujar Brian. Menggeser tubuhnya menjauhi Aqira.
Sebelum Brian membalikkan tubuhnya lagi, Aqira langsung mendekati Brian, kemudian menarik wajah pria itu mendekat kepadanya.
Tangan mungilnya menahan wajah itu, mendekatkan wajahnya ke wajah Brian. Tanpa sadar, bibir keduanya sudah menempel.
Brian tersenyum sarkas, begitu mudahnya menipu istri kecilnya ini.
Brian memejamkan matanya menunggu aksi Aqira yang masih menempelkan bibirnya tanpa bergerak sedikitpun.
"Aduh aku harus melakukan apa lagi." gerutu Aqira dalam hati.
Aqira memejamkan matanya, membayangkan bagaimana cara setiap Brian menciumnya.
__ADS_1
Semakin Aqira membayangkannya, semakin dia terbawa suasana, wanita itu mulai mencecapi rongga mulut Brian. Bahkan dia seperti sudah lihai dalam hal ini.
Brian yang sedari tadi menikmati ciuman panas Aqira, kini membalas wanita itu.
Jarang-jarangkan istrinya seagresif ini.
Ciuman itu berlangsung cukup lama, sampai Aqira mengakhirinya akibat kekurangan pasokan oksigen.
Aqira bernapas terengah-engah, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Bibir wanita itu masih basah, sedikit bengkak akibat ******* yang diberikan oleh Brian.
Seluruh wajahnya merah padam dan terasa panas.
"Ternyata kau belajar dengan cepat sayang, tidak sia-sia aku mengajarimu." goda Brian.
Aqira menundukkan kepalanya, malu akan ucapan suaminya.
"Hei kenapa malu? Kau ini seperti gadis perawan saja. Padahal kita sudah sering melakukannya." kekeh Brian.
Aqira bergumam kesal, kemudian memukul lengan Brian dengan keras.
"Aduh sakit." pekiknya, padahal lengannya tidak sakit sama sekali.
Mereka memang sudah sering melakukannya, tapi tetap saja, wanita itu selalu merasa malu setiap mengingat percintaan panas mereka.
"Maaf, maaf..." kekeh Brian.
"Sudah tidurlah. Ini sudah larut malam." menenggelamkan wajah Aqira ke dalam dekapannya.
"Selamat tidur. Mimpi indah sayang."
"Hmm..." gumam Aqira kemudian mengatupkan matanya yang sudah nampak sayu akibat mengantuk.
.
.
.
.
.
.
Annyeong
Hai readers kesayanganku semuanya.🤗
Ayo dukung terus Brian dan Aqira ya dengan like, coment and votenya ya.
VOTENYA YANG BANYAK YA GUYS😀😀
Keep Healthy for all of you guys 🤗😀.
Love you all 😘😗
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.