
Di kantornya Brian sedang sibuk memandangi layar komputer di depannya.
Bukan tabel atau grafik angka yang menjadi fokus pria itu, melainkan beberapa gambar yang menunjukkan beberapa konsep wedding.
Brian berencana ingin melangsungkan acara resepsinya dalam waktu dekat ini.
Jika diingat-ingat kembali, masih banyak yang belum mengetahui bahwa dirinya sudah menikah. Bukan statusnya yang penting, tetapi wanita yang kini menjadi pendamping hidupnya, yaitu Aqira, istri tercintanya.
Antara rasa menyesal dan merasa bersalah.
Brian sangat menyesali keputusannya dahulu, yang tidak mau mengadakan resepsi pernikahannya, dan memilih menyembunyikannya dari publik.
Dan merasa bersalah kepada istrinya, yang membuat wanita itu merasakan penderitaan sejak menikah dengannya.
Dan nanti, Brian akan menebus semua itu, menebus semua kesalahannya pada sang istri dengan mengadakan resepsi pernikahan mereka yang begitu megah dan memperkenalkan Aqira kepada seluruh dunia bahwa wanita ini adalah istrinya, sang pemilik hati.
Rencana Brian semakin sempurna, karena acara resepsinya diadakan tepat pada hari ulang tahun Aqira yang keduapuluh yang hanya tinggal satu bulan lagi.
Brian yakin, ulang tahun istrinya kali ini akan menjadi ulang tahun yang tidak akan Aqira lupakan.
Brian sungguh tidak sabar menantikan hari itu tiba, membayangkan wajah Aqira yang terlihat bahagia akan semua kejutan darinya.
Membuat Brian tersenyum sendiri, tanpa menyadari Joe yang sudah berdiri di hadapannya melihat kekonyolan Brian.
"Sepertinya Tuan sudah gila." gumam Joe.
Masih melihat Brian mesam-mesam sendiri.
Lamunan Brian buyar, ketika seseorang membuka pintu ruangannya.
"Sayang.." senyum Brian terkembang tatkala melihat yang datang itu adalah istrinya.
Hanga kepala wanita itu yang terlihat, sedangkan tubuhnya masih tersembunyi di balik pintu.
Brian semakin melebarkan senyumnya, melihat Aqira yang masih bersikap seperti anak-anak, sangat lucu.
"Sayang..Kemari." mengulurkan tangannya.
"Eh Joe.." Brian terkejut, saat menyadari Joe tiba-tiba sudah di hadapannya.
"Sejak kapan kau di sini?" buru-buru Brian mematikan komputernya yang masih menampilkan beberapa konsep pernikahan, agar Aqira tidak melihatnya.
"Sejak tadi tuan.." jawab Joe dengan wajah datar.
"Berapa lama?"
Aqira memilih duduk di sofa ruangan itu, karena melihat suaminya masih bicara dengan sekretarisnya.
"Mungkin sekitar lima belas menit?"
"Selama itu?" Joe mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, dasar tidak sopan!" kesal Brian.
Padahal dia hanya malu, karena ternyata Joe melihatnya senyum-senyum sendiri.
"Saya sudah mengetuk Tuan, tapi tidak ada jawaban, jadi saya masuk saja." jelas Joe dingin.
Brian terdiam, memang benar dia melamun, sampai tidak mendengar Joe mengetuk pintu.
Pria itu berdehem, menetralkan wajahnya seperti biasa.
"Ada apa kau menemuiku?"
"Saya hanya ingin mengantar berkas ini untuk Anda tanda tangani." Joe meletakkan beberapa map di tangannya ke meja Brian.
"Hm pergilah, akan kutandatangani nanti."
"Baik Tuan. Saya permisi." Joe langsung undur diri dari ruangan itu.
"Sayang kau sudah sampai?" Brian menghampiri istrinya yang duduk di sofa sambil mengotak-atik ponselnya.
Aqira meletakkan ponselnya, ketika Brian memeluknya erat, meletakkan kepalanya di pundak mungilnya.
"Iya. Kau sudah makam siang? Ini aku bawakan makan siang untukmu."
"Belum, kau sudah makan?"
"Belum, aku ingin makan siang bersama denganmu." ucap Aqira sambil meraih kotak makanan yang dibawanya tadi.
Keduanya menikmati makan siang mereka diselingi dengan mereka yang saling menyuapi.
Setelah selesai makan, Aqira membereskan kotak bekal mereka. Lalu ke kamar mandi sebentar untuk mencuci tangan.
Kembali lagi menghampiri Brian yang masih duduk di sofa.
Wanita itu mengurungkan niatnya untuk duduk di samping suaminya, karena Brian tiba-tiba menariknya duduk di pangkuan pria itu.
Tangan kekar pria itu merengkuh erat tubuh mungil Aqira. Hidungnya mengendus-endus aroma istrinya yang begitu memabukkan indra penciumannya.
"Sayang sesak." rengek Aqira, akibat pelukan Brian mengerat sehingga membuatnya kesulitan bernafas.
Brian melonggarkan pelukannya, lalu menyandarkan Aqira di dada bidangnya.
"Sayang.." lirih Brian.
"Ada apa?"
"Sebentar lagi kau ulang tahun bukan?"
Seketika Aqira tertegun mendengar ucapan sang suami. "Ulang tahun?" batinnya.
Bahkan Aqira lupa jika sebentar lagi ulang tahunnya yang keduapuluh.
__ADS_1
"Sayang?" panggil Brian karena Aqira hanya diam saja.
"Sayang?" Brian semakin cemas saat merasakan tanganya yang memeluk perut Aqira basah. Aqira menangis.
"Kau menangis?"
"Kenapa sayang, katakan padaku, ada apa, kenapa kau menangis?" cecar Brian cemas, lalu mengangkat wajah istrinya yang menunduk dengan isakan kecilnya.
"Sayang, ada apa, apa aku salah bicara?"
Aqira menggeleng cepat, lalu tangan mungilnya bergerak memeluk tubuh pria itu.
"Tidak, kau tidak salah sama sekali sayang..." suara Aqira tercekat akan tangisannya.
Tetapi raut kecemasan masih terpatri di wajah pria itu, sebelum Aqira mengatakannya, "Lalu kenapa? Apa yang membuatmu sedih? Katakan padaku.."
Aqira melepas pelukannya, menatap suaminya lekat-lekat.
"Aku tidak sedih.. aku.. aku hanya terharu bahagia..ternyata kau mengingat ulang tahunku.." Aqira kembali meneteskan air matanya.
"Tentu saja aku mengingat ulang tahun istri tercintaku, mana mungkin aku melupakannya." kini Brian mulai mengerti akan kesedihan wanitanya.
"Kau tau, dulu setiap tahun mulai dari aku masih kecil, ayah dan ibu selalu merayakan hari ulang tahunku. Kami bertiga selalu merayakannya dengan penuh suka cita.
Meskipun keluargaku bukan termasuk dari kalangan orang berada, tetapi ayah selalu berusaha yang terbaik untuk membuatku senang di hari kelahiranku.
Ayah tidak mampu walau hanya untuk membelikan kue ulang tahun maupun membeli kado untukku," Air mata Aqira semakin turun deras dari sudut matanya.
Membayangkan momen kebersamaannya dengan kedua orang tuanya membuat kerinduan dalam hatinya kembali menyeruak.
"Ayah hanya mampu membelikan tiket masuk ke sebuah taman hiburan untuk kami bertiga.
Mereka menemaniku bermain di sana, membawaku kemanapun aku mau.
Ketika aku sedang asik bermain wahana, aku bisa melihat ayah dan ibu mengusap mata mereka. Aku yakin mereka bersedih karena tidak dapat memberikan ulang tahun yang terbaik untukku seperti anak lainnya."
Raut wajah Brian menjadi sendu, membayangkan betapa sulitnya dulu kehidupan yang dialami sang istri.
"Aku janji, aku akan selalu membahagiakanmu sayang." lirih Brian dalam hati.
"Tapi aku tidak pernah menyesal akan semua itu, dalam hati aku berjanji akan membalas semua kebaikan mereka, membahagiakan mereka jika aku sudah dewasa nanti."
Aqira menarik nafasnya yang tercekat akibat tangisannya yang tertahan.
"Namun ternyata Tuhan tidak mengizinkan, mereka...mereka sudah lebih dulu meninggalkanku sendirian di dunia ini...
tanpa kata-kata perpisahan... tanpa ucapan selamat tinggal untukku sama sekali."
tangis Aqira pecah seketika, mengingat kepergian kedua orang tuanya dalam peristiwa tragis beberapa tahun lalu.
"Aku di sini sayang... Aku selalu ada untukmu."
__ADS_1
Brian merengkuh tubuh mungil yang bergetar akan isak tangisnya begitu erat.