
Selamat membaca
Sebelum baca kasih like, coment and vote yaaππ
Mommy dan Daddy sudah menunggu putra dan menantunya sedari tadi.
Mereka sudah tidak sabar mendengar keputusan Brian.
Kini mereka berempat sudah duduk di ruang keluarga. Duduk berdampingan dengan pasangan masing masing.
"Bagaimana Brian, kalian sudah memutuskan permintaan Daddy?"ucap Darman tidak sabar.
"Kami sudah memutuskan untuk menunda memiliki anak Mom, Dad.." ucap Brian memandang kedua orangtuanya.
Terlihat gurat kekecewaan di wajah kedua orangtua itu.
Aqira hanya bisa diam saja membiarkan suaminya memberi penjelasan kepada Mommy dan Daddynya.
"Kenapa harus ditunda son, kalian sudah menikah sudah sepantasnya memiliki anak?"
Ucap Risa dengan wajah sendu.
"Iya kami tau Mom, tapi umur Aqira masih terlalu muda, dan sebentar lagi dia akan kuliah, aku sudah mendaftarkannya ke salah satu universitas milik kita."
Aqira terperangah seketika menatap manik suaminya itu.
Perasaannya campur aduk, antar senang dan sedih.
Senang karena keinginannya bisa melanjutkan pendidikan yang selama ini dia dambakan akan bisa dia rasakan.
Aqira tidak menyangka suaminya akan memberikan alasan seperti ini.
Untuk pertama kali Aqira senang akan keputusan Brian.
Tapi di sisi lain, Aqira juga sedih melihat kedua mertuanya yang begitu mendambakan seorang cucu tapi tidak bisa mereka kabulkan. Aqira merasa sudah egois terhadap kedua mertuanya itu.
Tapi apa boleh buat, semua keputusan ada di tangan pria kejam ini.
Lihat saja, dia bahkan tega melihat orangtuanya hampir menitikkan air mata.
Sungguh tidak berperasaan.
"Tapi son, soal umur itu tidak masalah, kita bisa melakukan kontrol ke dokter itu bisa diatasi." ucap Risa dengan wajah sendu.
"Bukannya kami egois son, tapi tidak bisakah kau mengabulkan permintaan kami?" Daddy menimpali dengan wajah sendunya.
"Maaf Mom, Dad kalau istriku hamil bagaimana dengan kuliahnya, kalian tau seorang nyonya Charles setidaknya harus memiliki pendidikan."
Aqira bertanya tanya dalam hati Kenapa ada manusia seegois tuan muda ini, apa dia tidak kasihan melihat orangtuanya seperti itu?
"Son kami tidak melarang Aqira untuk melanjutkan pendidikannya, dia juga bisa kuliah walaupun hamil." Darman sudah pasrah, hanya ini harapan terakhirnya.
"Maaf Mom, Dad kami tidak bisa, tolong mengertilah." ucap Brian tanpa memandang orangtuanya.
β’β’β’
Mobil Brian melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota.
Seperti biasa hanya keheningan yang terjadi di antara mereka.
Aqira memberanikan diri membuka suara, melontarkan pertanyaan yang sedari tadi berkelebat di benaknya.
"Apakah kau tidak terlalu egois kepada orangtuamu?"
"Aku tau apa yang kulakukan, jadi diamlah tidak usah ikut campur!" ketusnya tanpa menoleh sedikitpun.
Seakan jika memandang Aqira matanya akan sakit.
"Tapi Mommy dan Daddy sepertinya sangat menginginkan cucu."
"Sudah kukatakan jangan ikut campur!"
"Aaaa.. aku tau, kau pasti ingin tidur denganku kan? Sungguh menggelikan, kalau kau ingin menikmati tubuhku ini katakan saja tidak usah berdalih seperti itu."
"Siapa bilang aku mau tidur denganmu, aku tidak sudi. Jangaan terlalu percaya diri tuan muda." kesal Aqira, niatnya yang ingin mengabulkan keinginan orangtuanya malah dituduh seperti ini.
"Tidak usah sok jual mahal, aku tau bagaimana sifat rubah sepertimu." ucapnya lalu tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Kau pasti ketagihan setelah kejadian malam itu?" Kau juga pasti menyesal telah menolakku saat itu, yaaa.. biarpun aku hanya mengujimu saat itu, bisa saja aku melakukan lebih dari itu kalau kau tidak menangis hahha ...."tertawa mengejek Aqira.
"Kauu...." Aqira sudah sangat marah sekarang.
"Aku apa?"
"Kau pikir aku wanita macam apa, aku sungguh tidak sudi tidur denganmu."
"Jangan munafik rubah licik."
"Aku tidak munafik, kurasa kau yang munafik, kau bilang tidak akan menyentuhku tapi apa, malam itu kau hampir memperkosaku!"
kesalnya
"Aku hanya mengujimu, dan satu lagi tidak ada yang namanya memperkosa, aku suamimu dan kau istriku tidak ada salahnya aku menyentuhmu, bahkan sekarang kalau aku mau, aku bisa melakukan itu padamu hahahha..." ucapnya tertawa meledek Aqira.
"Aaaaaa... kau menyebalkan dasar pria mesum!!" teriaknya.
"Sejak kapan kau mengakuiku istrimu, kau tidak ingat, saat di pesta malam itu, kau bahkan meninggalkanku dengan wanita lain dan dengan kejamnya kau juga tidak mengakuiku!!"
"Tapi sekarang kau bilang kalau aku istrimu, cih tidak tau malu." kesal Aqira.
"Jangan membentakku, kau tidak punya hak untuk itu!"
"Sudah berapa kali kukatakan, jangan pernah mengurusi apa yang kulakukan, jadi apapun yang kuperbuat kau hanya bisa menerimanya, aku tidak menerima negosiasi, kau ingat itu!"
"Kau tidak a..."
"Diamm.. kalau kau masih membuka mulutmu aku akan menurunkanmu di sini!" bentak Brian.
Aqira terdiam, dia tidak ingin diturunkan di sembarang tempat lagi, dia sudah jera, lebih baik diam saja.
Padahal tadi aku ingin menanyakan perihal kuliah tadi, apa itu benar atau hanya akal akalannya saja supaya Mom dan Dad percaya
Huh pria ini sungguh menyebalkan, ingin sekali aku mengikat mulutnya itu supaya tidak mengolokku lagi Aqira hanya merutuki sifat suaminya sepanjang perjalanan.
Sampai di rumah Aqira langsung memasak
untuk makan siang, sedangkan Brian, berada di ruang kerjanya, memeriksa beberapa dokumen.
Aqira memasak lebih banyak untuk makan siang ini.
Karena di rumah ada monster, siapa tau dia lapar, dimakan atau tidak itu bukan urusanya yang penting dia melakukan kewajibannya.
Saat Aqira sedang menikmati makan siangnya tiba tiba Brian dengan santainya duduk di hadapannya.
Aqira melirik sebentar, lalu melanjutkan makannya.
Merasa diabaikan Brian berdehem.
Aqira melirik lagi "Ada apa?" ucapnya dengan mulut penuh makanan.
Menggemaskan batin Brian melihat pipi chubi Aqira yang menggembung penuh makanan.
Brian menggeleng gelengkan kepalanya.
Apa yang kupikirkan, sejak kapan rubah menggemaskan, sadarlah Brian.
"Kau kenapa, apa otakmu miring?" ucap Aqira menahan tawa.
"Jaga mulutmu, aku akan memotong lidahmu kalau sampai kau mengataiku lagi!"
"Terserah kau saja, mau apa kau kemari?" ucapnya acuh tidak takut ancaman Brian.
"Aku mau apa? Kau bertanya mau apa? Tentu saja untuk makan bodoh? Kau ini memang tidak punya sopan santun sedikitpun, kau selalu makan tanpa mengajak suamimu."
"Bukankah kau pernah mengatakan kalau kau tidak sudi makan satu meja denganku?
Apa kau lupa?"
"Aku tidak lupa, aku akan makan siang di meja ini sendirian, kau pergilah makan di tempat lain. Kalau kau mau, kau makan di gerbang rumah saja." ucapnya tersenyum menyeringai.
"Aku yang lebih dulu di sini kenapa kau mengusirku!"
"Ini rumahku, terserah aku mau berbuat apa." ucapnya tersenyum licik.
"Dasar pria monster!!!" umpat Aqira.
__ADS_1
"Sekali lagi kau mengataiku, aku benar benar akan memotong lidahmu itu!" ucapnya dingin.
Aqira memilih mengalah saja, berdebat dengan pria monster ini tidak ada gunanya.
Aqira mengangkat piringnya hendak melangkah ke meja dapur untuk melanjutkan makan siangnya.
"Kau mau kemana?"
"Tentu saja aku mau pergi melanjutkan makanku, mau apa lagi?" langkahnya tertahan oleh Brian.
"Mana makananku?"
"Kau tidak punya mata?
Itu di depanmu apa, kalau ular kau pasti sudah mati dipatok!"
"Kau..."
Aqira malah mendelikkan matanya menatap Brian, tidak takut sama sekali.
"Sendokkan makananku!!" perintahnya.
Sungguh Aqira sedang menahan kesal sekarang, kalau saja dia berani ingin sekali rasanya melempar makanan ini ke wajahnya monster ini.
Sambil menyendokkan makanan, mulut Aqira tidak berhenti menggerutu "Bukankah kemarin dia bilang tidak mau memakan makanan murahan ini, tapi apa sekarang, huh.. memang dasar menyebalkan."
"Aku mendengarmu."
"Aku tidak bicara padamu."
"Lalu dengan siapa kau bicara?"
"Dengan sandalku." jawabnya ketus, lalu berjalan meninggalkan Brian setelah menyiapkan makanan pria itu.
Brian tersenyum puas melihat punggung Aqira yang perlahan menghilang di balik pintu dapur.
Senang sekali mengerjai rubah ini pikirnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan coment ya
Votenya jugaππ
Love you allππ
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1