
Happy Reading
Like dulu Sebelum Baca
Kini kedua insan itu tengah duduk di meja yang disiapkan oleh Brian. Mereka terlihat menikmati makan siangnya, lebih tepatnya
makan malam, karena hari sudah petang.
Cahaya senja yang mulai menguning menerangi makan mereka, membuat suasana terasa syahdu. Ditambah dengan pasangan itu yang sesekali saling menyuapi menambah suasana romantis sore itu.
Aqira tiada hentinya menyunggingkan bibirnya, bagaikan lautan euforia yang membanjiri hatinya.
"Setelah ini kita langsung pulang?" tanya Aqira dengan makanan masih penuh di mulutnya.
"Kau ingin pulang?" sambil mengusap bibir istrinya yang berlepotan.
Aqira menggeleng, "Tidak, aku masih ingin di sini menikmati sunset."
"Baiklah, kita akan di sini sebentar lagi."
"Hmm..terima kasih." menganggukkan kepala.
Setelah makan Brian dan Aqira berjalan santai lebih dekat ke bibir pantai.
Aqira melepaskan tautan tangannya dari tangan Brian, meninggalkan Brian di belakangnya sambil berlari kecil.
"Jangan lari-lari sayang, nanti jatuh." Aqira terkikik geli mendengar ucapan Brian, yang layaknya orangtua memperingati anaknya.
"Tidak apa-apa, aku akan hati-hati. Aku sangat menyukai pantai." Aqira kembali berlari-lari menyusuri pantai, dan sesekali mencelupkan kakinya pada air laut.
Brian memperhatikan istrinya yang berlari riang, ternyata tidak salah dirinya membawa istrinya ke sini. Melihat Aqira yang begitu senang, membuat Brian memikirkan sebuah ide. Brian kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Setelah itu, menyusul istrinya yang sudah menjauh darinya.
Aqira melambai kepadanya, "Sayang kemari, matahari akan terbenam." sambil melompat-lompat di air
"Sayang, nanti bajumu basah, keluar dari sana." perintah Brian.
Aqira menghiraukan perintah Brian, "Sayang fotokan aku, ada sunset cepat.." Aqira begitu hebohnya memerintah Brian.
"Dasar gadis kecil." gumam Brian sambil tersenyum. Kemudian mengambil ponselnya untuk mengambil gambar istrinya.
Brian mengambil beberapa foto Aqira, "Sudah?" teriak Aqira.
"Sudah kemarilah." panggil Brian, lalu menunjukan foto hasil jepretannya.
"Kenapa wajahku tidak kelihatan?" canda Aqira.
Brian berdecak, "Kau ini, kalau ingin wajahmu kelihatan berfotolah siang hari." kesalnya lalu menyentil kening Aqira.
Aqira tergelak, "Aku hanya bercanda." sambil mengusap keningnya.
"Kenapa kau begitu usil gadis kecil?" mengacak-acak rambut istrinya. Hingga dia teringat sesuatu.
"Tunggu, tadi kau memanggilku sayang?" tanya Brian.
Wajah Aqira menjadi memerah, malu mengakuinya.
"Jadi kau sudah menemukan panggilan khususmu untukku."
Aqira mengangguk.
"Panggil aku lagi." perintahnya.
"Brian." ucap Aqira polos.
"Ck...kau..." kesal Brian.
__ADS_1
"Kau menyuruhku memanggilmu." lirih Aqira yang kebingungan.
"Kau ini bodoh atau apa?"
Kini Aqira mengerti apa yang dimaksud suaminya, dengan malu-malu Aqira berucap, "Sa..sayang.."
"Sekali lagi."
"Sayang." ucap Aqira lebih keras.
Brian tersenyum senang mendengar panggilan istrinya, lalu tanpa aba-aba Brian mencium bibir Aqira.
Ciuman yang awalnya hanya ******* biasa, kini berubah menjadi ciuman yang menuntut menginginkan lebih.
Brian menjelajahi rongga mulut Aqira dengan hasrat yang menggebu-gebu.
Terus memilin lidah wanita itu hingga membuat pasokan oksigen keduanya menipis.
Brian melepas tautan bibir mereka, kembali menatap Aqira yang masih memejamkan matanya.
Aqira membuka kedua maniknya, membalas tatapan suaminya. Kilatan gairah masih terpercik dalam tubuh kedua insan itu. Mereka dapat melihatnya satu sama lain.
"Sayang, aku menginginkanmu." bisik Brian dengan bibirnya yang masih menempel di bibir Aqira.
Brian sengaja menggesekkan bibir mereka ingin menggoda istri polosnya.
"Tapi ini di..."
Belum sempat Aqira menyelesaikan kalimatnya, Brian sudah meraup tubuh mungilnya dalam pelukannya.
"Ka..kau mau membawaku kemana?" tanya Aqira. Wajah wanita itu masih memerah, dengan hasrat yang belum juga mereda.
Brian hanya menyunggingkan bibirnya sebagai tanggapan dari pertanyaan istri kecilnya itu.
Brian berjalan menjauhi bibir pantai sambil membawa Aqira dalam gendongannya.
Dan juga lampu-lampu berbentuk lampion yang berjejer mengelilingi ranjang itu, membuat Aqira terbelalak melihatnya.
"Sa..sayang...kapan kau menyiapkan ini?" tanya Aqira yang terperangah melihat apa yang ada di hadapannya.
"Semua mudah untukku sayang." menempelkan keningnya di wajah Aqira.
"Sayang jangan bilang kau akan melakukannya di sini..." tanya Aqira dengan wajah cemasnya.
"Bukan hanya aku, tapi juga dirimu. Kau dan aku akan menikmati malam di pantai ini." ujar Brian dengan seyum menggodanya.
"Jangan gila. Nanti ada yang melihat." cemas Aqira.
"Tidak akan ada yang melihat, sepanjang hamparan pantai ini adalah milikku, tidak orang lain di sini selain aku dan dirimu.
Ingat kita berdua." jelas Brian, kemudian merebahkan tubuh Aqira di atas ranjang king size itu.
Brian ikut menaiki dan menindih wanita itu, melayangkan ciuman yang sempat tertunda tadi.
"Nikmati saja sayang, tidak akan ada yang mengganggu kita." menatap manik coklat milik istrinya.
Brian kembali membangkitkan hasrat Aqira dengan sentuhannya yang memabukkan, membuat Aqira kembali seperti melayang, akan sentuhan itu.
Aqira yang tadinya masih cemas dan berusaha menolak kini mulai menikmatinya.
Bahkan wanita itu mencoba membalas sentuhan Brian, membuat Brian merasa senang, "Kau cepat belajar sayang." lirih Brian disela percintaan panas mereka.
"Kenapa masih terasa sempit...?" Brian menggeram, yang merasakan istrinya masih seperti gadis virgin.
Aqira tidak menjawab, wanita itu menahan sakit di bawah sana akibat hujaman dari sang suami.
__ADS_1
Percintaan panas itu masih berlanjut sampai tengah malam menyapa. Dinginnya angin laut tidak membuat salah satu dari mereka merasa kedinginan.
Bahkan keringat membanjiri tubuh keduanya,
"Sayang sudah, aku lelah..." desah Aqira yang sudah kelelahan melayani sang suami. Bayangkan saja mulai dari sore sampai tengah malam, Brian tidak membiarkannya istirahat sedikit pun. Pria ini memang gagah perkasa, pikir Aqira.
"Sebentar lagi sayang..." geram Brian dengan tubuhnya yang terus menghujam tubuh Aqira.
Akhirnya setelah beberapa menit, Brian menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya.
Memeluk Aqira, lalu mengecup kening wanita itu. "Terima kasih sayang." ucap Brian.
"Tubuhmu sangat menggairahkan." lirih Brian di telinga wanita itu.
Aqira tidak menjawab, wanita itu sudah bertidur begitu Brian memeluknya.
Brian tersenyum melihat wajah terlelap istrinya, "Tidurlah sayang, kau pasti lelah." lirih Brian, kemudian memeluk Aqira erat, agar angin pantai tidak masuk menyusup tubuh mereka.
Brian ikut tertidur, pria itu juga lelah setelah menuntaskan gairahnya yang tiada habisnya itu.
Brian akui dirinya sudah tergantung pada tubuh wanita ini.
Tidak ada wanita lain di luar sana yang bisa membangkitkan hasratnya, hanya wanita dalam pelukannya inilah yang mampu.
Brian tidak tau kenapa, tapi itulah kenyataannya.
Pria itu masih ingat, saat wanita bayarannya adalah seorang aktris terkenal. Yang memiliki wajah cantik dengan tubuhnya yang seksi malah membuat Brian jijik melihatnya.
Brian akhirnya meninggalkan wanita itu di kamar hotel tanpa menyentuhnya sedikit pun.
Dan saat sampai di rumah, Brian mendapati Aqira tengah tertidur di atas sofa. Saat itu, selimut Aqira tersingkap hingga menampakkan paha mulusnya. Seketika itu juga sesuatu dalam diri Brian menegang.
Brian bertanya-tanya dalam hati mengenai kondisinya, mulai dari saat itu, Brian tidak pernah meniduri wanita lain lagi dan mencoba mencari tau apa yang terjadi pada tubuhnya.
Hingga suatu hari saat melihat Aqira dekat dengan pria lain, membuat Brian begitu cemburu, ingin rasanya menghabisi pria itu.
Dari sana Brian telah menyadari bahwa sebenarnya dirinya telah jatuh cinta pada wanita ini.
.
.
.
.
.
**Anneyong, I'm COMEBACK.
Ayo dukung terus Brian dan Aqira dengan like, coment and vote ya guys 😉
Votenya yang banyak ya...
Oh ya, grupchat aku udah tersedia ya, kalo mau ngobrol2 sama Lisa dan readers lainnya boleh gabung ya.
Love you all 😘😗l**
.
.
.
..
.
.
__ADS_1
.