JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Hampir saja


__ADS_3

Selamat Membaca


Ajak yang lain baca juga yaa😀


Di kamar mandi, Brian langsung mengguyur tubuhnya di bawah shower yang sudah panas dingin sedari tadi.


Membasahi tubuhnya dengan air dingin setidaknya bisa meredakan hasrat yang ditahan saat melihat tubuh telanjang Aqira.


Gadis rubah itu, kenapa begitu menggoda? gumam Brian masih membayangkan tubuh Aqira.


Kalau saja aku masih berlama lama dekat dengannya, aku tidak yakin tidak akan menerkamnya saat itu juga.


Sekitar empat puluh lebih menit Brian di kamar mandi untuk menuntaskan hasrat tertahannya di kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi, Brian mendapat tatapan tajam dari Aqira.


"Kenapa memelototiku, apa perlu kucongkel matamu itu?" membalas tatapan tajam Aqira.


"Mandi sampai selama itu, kau mandi atau tidur di dalam sana? Kau tau aku sudah kegerahan dari tadi menunggumu!" mendelikkan matanya.


"Terserah aku mau lama atau tidak, ini rumahku.


Lagi pula kau pikir di rumah ini hanya ada satu kamar mandi? Dasar bodoh." ucapnya lalu masuk ke walk in closet.


Aqira mengerucutkan bibirnya kesal sambil berjalan masuk kamar mandi.


.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja, Brian segera mencari Aqira. Dia masih penasaran dari mana saja Aqira hari ini.


Brian sangat bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dia begitu peduli dengan Aqira. Tapi dia menepis pemikiran itu, dia bukan peduli tapi hanya tidak mau Aqira berbuat sesukanya di luar pengetahuannya.


Sampai di kamar, Brian mendapati Aqira sedang duduk di sofa sambil menonton televisi di depannya.


Brian menghampiri Aqira, "Darimana saja kau hari ini?" tanya Brian pada Aqira yang fokus menonton drama kesukaannya.


"Tidak dari mana mana." jawab Aqira cuek.


"Jawab yang jelas!"


"Hanya jalan jalan saja."


"Dengan siapa?" tanya Brian penasaran.


"Seorang teman." ketus Aqira yang sudah malas menjawab pertanyaan Brian.


"Siapa? Laki laki atau perempuan?"


"Ck kenapa kau begitu menyebalkan?" geram Aqira.


"Kenapa marah, aku hanya bertanya. Kau keluar tanpa seijinku dan pulang lama sekali, apa yang kau lakukan di luar sana?"


"Kenapa kau begitu peduli dengan apa yang kulakukan? Bukankah kau yang mengatakan aku bebas melakukan apa pun?" ucap Aqira heran dengan tingkah lelaki ini.


"Kau... " geram Brian.

__ADS_1


"Kenapa kau menjadi pembangkang sekarang huh!" mencengkeram kuat dagu Aqira, membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Lepaskan... Sakit.." mencoba menggelengkan kepalanya agar bisa terlepas dari cengkeraman Brian, tapi sayang tenaganya tidak cukup untuk melawan pria itu.


"Dengarkan ini! Apa pun yang kau lakukan, semua dalam kendaliku, jadi jangan pernah melakukan hal yang akan membuatku murka nantinya!!? ucap Brian penuh penekanan.


Aqira tak kuasa untuk tidak meneteskan air matanya, menahan cengkeraman dari Brian.


Brian menatap lekat lekat raut wajah Aqira, turun ke bawah menatap bibir Aqira yang merah merekah basah terkena air mata gadis itu. Dengan perasaan mendamba, Brian membenamkan bibirnya di antara bibir Aqira yang setengah terbuka itu.


Aqira terkesiap, segera tangannya mendorong tubuh pria itu menjauh darinya.


Brian tidak membiarkannya, pria itu menahan pangkal leher Aqira, tangan yang satunya menarik pinggang Aqira merapatkan ke tubuhnya. Bibirnya kembali ******* bibir Aqira dengan penuh hasrat, lidahnya dengan lihai menelusuri rongga mulut gadis itu.


Aqira masih terus memberontak, membuat Brian semakin gencar melumati bibir gadis itu, tangannya juga tidak tinggal diam, bergerak menelusuri punggung Aqira, memberikan sedikit pijatan di sana.


Sepertinya Aqira mulai terbuai dengan sentuhan lembut Brian, dia hanya diam menikmati setiap sentuhan sang suami.


Dengan kelihaian Brian menjamahi tubuh gadis itu, seketika membuat tubuh Aqira seakan terhipnotis tidak dapat menolak sentuhan dari Brian. Aqira semakin lupa daratan, mencoba membalas ciuman dari lelaki itu, melakukan seperti apa yang dilakukan Brian kepadanya.


Brian tersenyum tipis disela ciumannya itu, walaupun tidak begitu pandai, tapi dia senang telah berhasil membuat gadis itu terlena.


Karena tidak mendapat penolakan sama sekali, dengan perlahan Brian merebahkan tubuh Aqira di atas sofa tanpa melepaskan bibirnya dari Aqira. Membawa tubuh gadis itu dalam kungkungannya, menciumi Aqira hingga membuat satu desahan lolos dari mulutnya.


Desahannya begitu seksi, membuat Brian semakin bersemangat mencecapi bibir gadis itu. Setelah puas dengan bibir Aqira, Brian menurunkan lumatannya ke ceruk lehernya, menelusuri kulit putih mulus Aqira hingga meninggal bekas di sana.


Aqira melenguh pasrah di bawah kungkungan Brian, menikmati setiap sentuhan dari pria itu. Hasratnya telah mendominasi pikiran warasnya, dia begitu asing dengan dengan perasaan ini, perasaan nikmat yang perlahan membawanya terbang ke langit ketujuh.


Begitu juga dengan Brian, tubuh Aqira bagai heroin yang membuatnya candu ingin mencicipi lebih dari ini, rasanya Brian ingin memakan gadis ini sekarang juga, melupakan janji yang dibuatnya di masa lalu.


Ini salah batinnya.


Aqira mendorong tubuh Brian, mengurai jarak di antara mereka.


Brian tertegun dengan apa yang dilakukan Aqira barusan, Dia menolakku?


Aqira menggeser tubuhnya menjauhi Brian, lalu berjalan tergesa gesa sambil menutupi tubuhnya yang hampir terbuka.


.


Di dalam kamar mandi, Aqira membasahi wajahnya yang memanas masih menyisakan kenikmatan dari sentuhan Brian di sana.


Aqira memandangi wajahnya di depan cermin kamar mandi sambil merutuki dirinya sendiri.


Bodoh, bodoh bisa bisanya aku terbuai dengan sentuhan pria itu. Aqira kau ini gadis macam apa? Hampir saja kau menyerahkan dirimu padanya.


Aqira mondar mandir di kamar mandi, memikirkan bagaimana sikapnya setelah ini pada Brian. Kenapa dia begitu mudahnya tergoda oleh lelaki itu, bahkan dia membalasnya tadi, aaaaa....mengingatnya membuat wajah Aqira memerah malu.


Apa dia masih di luar? Apa yang harus kulakukan nanti? Bagaimana ini?


Apa aku mengabaikannnya saja nanti?


Ya kuabaikan saja.


Aqira memutuskan untuk keluar dari kamar mandi setelah setengah jam memikirkan bagaimana mengahapi Brian setelah ini.

__ADS_1


Tangannya memutar knop pintu, membuka sedikit celah supaya matanya bisa mengintip ke dalam kamar. Setelah dirasa di kamar tidak ada orang, Aqira mengeluarkan kepalanya, menelusuri setiap sudut kamar itu, kosong, Brian tidak ada di kamar ini.


Dengan langkah cepat, Aqira sampai di sofa lalu merebahkan tubuhnya di sana. Ditariknya selimut menutupi seluruh tubuhnya, berharap saat Brian datang, dia akan mengira kalau dirinya sudah tidur.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat Sore semua, kangen ya😂


Maaf ya updatenya lama😐


Maaf juga ya kalau ada kata kata yang kurang pas,


masih blm pengalaman soalnya, masih amatir😁


Jangan lupa like, coment and vote yaaa


Votenya yang banyak yaa😀


Love you all😘😗


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2