
Ini adalah hari keempat setelah Aqira mendapat transfusi darah. Wanita itu sudah terlihat lebih sehat seperti biasanya dan sudah diperbolehkan pulang. Lain halnya dengan Brian, pria itu belum diperbolehkan untuk pulang. Karena dokter masih memantau kondisi tubuh bagian vital, seperti kepala bagian belakang dan tulang rusuknya.
Aqira yang sebenarnya masih butuh istirahat akhirnya tetap tinggal di rumah sakit demi menemani suaminya. Padahal Risa maupun Darman sudah memintanya pulang, tapi Aqira bersikeras ingin tetap tinggal di rumah sakit.
"Sayang pulanglah. Kau masih membutuhkan banyak istirahat, kau masih lemah sayang." ujar Brian kepada Aqira yang kekeh ingin tetap tinggal di sini.
"Sudah kubilang aku tidak mau!" kesalnya, karena sudah beberapa kali menyuruhnya pulang.
"Aku ingin di sini menemanimu, aku tidak mau jauh darimu, Lagi pula aku bisa istirahat di sini kan." Aqira memelas.
Brian membuang nafas kasar, terpaksa dia harus menuruti kemauan istrinya. "Baiklah sayang, terserah kau saja." Wajah Aqira menjadi cerah setelah mendengar ucapan Brian.
"Sayang terima kasih. Aku sungguh tidak ingin jauh darimu." ucapnya, lalu memeluk Brian yang sedang duduk di atas tempat tidur.
"Tapi kau harus janji, tidak boleh sampai kelelahan. Ingatkan apa kata dokter? Tidak boleh terlalu lelah."
__ADS_1
"Hm aku janji." mengecup bibir Brian senang.
"Kau ini selalu menggodaku." Brian terkekeh lalu menjepit hidungnya gemas. Aqira menyengir lebar lalu mencium bibir Brian bertubi-tubi.
"Kau ingin kumakan ya...?" Brian menyeringai licik.
"Makan saja kalau berani." Aqira membalas seringaian itu dan lagi-lagi menciumi bibir Brian.
"Kau." dengan gemas Brian menggigit leher Aqira hingga meninggalkan bekas merah di sana.
"Hentikan." Aqira menggeliat sambil tertawa geli. "Aaw.." pekiknya saat Brian sengaja menggigit keras di sana.
"Bagaimana? Mau menggodaku lagi?" Brian tersenyum puas melihat Aqira seperti ini.
Wanita itu mengerucutkan bibirnya kesal, "Sakit sekali." kesalnya sembari memegang bekas gigitan Brian yang terlihat memerah.
__ADS_1
"Makanya jangan menggodaku lagi, atau aku akan berbuat lebih dari ini."
Baru saja Aqira ingin menyanggah seseorang membuka pintu dan muncullah seorang wanita dari balik sana.
"Kau..." Aqira terkejut saat melihat siapa yang baru saja datang.
"Hai." sapa wanita itu dengan senyum manisnya.
"Mau apa kau ke sini!" bentak Brian, bukannya menjawab sapaan itu Brian malah melayangkan tatapan tajamnya kepada wanita itu. Wanita itu adalah Jessi, wanita pembawa sial yang selalu mengganggu hubungan Brian dan Aqira.
"Tentu saja aku ingin menjengukmu Brian. Aku sangat khawatir dengan keadaanmu, kau tau aku sampai tidak bisa tidur karena memikirkan keadaanmu." ucapnya dengan wajah cemas dibuat-buat.
Sungguh Brian sudah sangat muak akan sandiwara wanita licik ini. "Tapi maaf aku tidak membutuhkan perhatianmu itu. Aku minta sekarang pergilah, sebelum kesabaranku habis!" desis Brian kesal.
"Tapi Brian, aku memang benar-benar mengkhawatirkanmu. Kumohon Brian lihatlah aku, aku lebih baik dari istrimu itu. Dia itu pembawa sial, lihatlah karena ulahnya kau mengalami kecelakaan ini." ujar Jessi dengan tidak tau diri.
__ADS_1
Brian menggeram kesal, "Berani-beraninya kau! Kau tidak pantas menilai istriku." Kalau saja dia tidak sedang sakit Brian ingin sekali menampar mulut berbisa wanita ini.
Apalagi Brian melihat Aqira mendadak murung setelahnya, membuat Brian bertambah kesal. Dia tahu istrinya itu menjadi merasa bersalah.