JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Biarkan saja, aku tidak peduli


__ADS_3

Selamat Membaca


Tidak terasa terhitung dua bulan sudah Aqira menyandang status sebagai Nyonya Charles.


Tidak ada yang berubah sedikitpun dari sikap Brian, malah sikapnya makin hari semakin membuat Aqira lelah dan tentunya dia harus banyak bersabar menghadapi pria itu.


Sekasar apapun Brian padanya, sesakit apa pun rasa sakit yang diberikan pria itu, dirinya tetap tidak bisa membenci Brian, bahkan setitik pun tidak pernah.


Berkali kali dia menampik perasaannya terhadap pria itu, tapi sekarang Aqira menyadari hatinya sudah menjadi milik pria itu.


Pria yang selalu menghinannya habis habisan, pria yang selalu merendahkannya tanpa ia sadari telah mencuri hatinya.


Sebelumnya Aqira belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, tapi kenapa pria ini yang harus menjadi cinta pertamanya.


Kalau saja hati bisa memilih, Aqira pasti tidak akan mau mencintai lelaki itu.


Kadang dirinya menjadi lemah menghadapi pria itu, lemah karena rasa cinta ini membuat dirinya menjadi gadis bodoh.


Aqira harus kuat, mungkin jika dia bersabar sedikit lagi Brian bisa memandangnya dan mendapatkan cinta lelaki itu.


Malam ini sepertinya Aqira akan tidur sendirian, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, biasanya Brian akan pulang sebelum waktu tersebut.


Jika lewat dari waktu tersebut berarti suaminya tidak akan pulang.


Aqira sudah terbiasa dengan itu, walaupun hatinya gelisah tapi dirinya sama sekali tidak punya keberanian untuk menanyakan keberadaan sang suami.


Jika Brian tidak pulang, Aqira tetap tidur di sofa, kalau sampai Brian tau bisa bisa dirinya dimaki habis habisan oleh Brian.


Beberapa saat terlelap dalam tidurnya, terdengar suara sayup sayup yang mau tidak mau menyeret Aqira dari alam bawah sadarnya.


Aqira mempertajam pendengarannya, sekilas telinganya menangkap seperti suara desahan seorang wanita.


"Suara apa itu?" gumamnya


Disertai rasa penasaran, Aqira membuka pintu kamarnya, berjalan mengikuti asal suara itu berasal.


Suara itu berasal dari ujung koridor tiga kamar dari kamar Aqira.


Aqira melangkah mendekati kamar itu, semakin dekat terdengar jelas suara dua manusia yang saling bersahutan.


Desahan dan erangan yang pasti membuat malu orang yang mendengar, memenuhi kamar itu.


Aqira semakin penasaran, karena sayup sayup dia mendengar suara suaminya dari dalam sana.


Apa mungkin pria di dalam sana Brian pikirnya. Membayangkan itu membuat hati Aqira panas.


Tangannya perlahan memutar knop pintu kamar itu, mendorong pelan.


Matanya disuguhkan pemandangan sepasang manusia yang sedang memadu kasih di atas tempat tidur di dalam sana.


Tapi objek yang paling menarik perhatiannya adalah pria yang sedang bersama wanita itu.


Lelaki itu tidak lain tidak bukan adalah suaminya sendiri.


Hatinya begitu sakit, sakit yang tak terperi.


Air matanya lolos begitu saja melewati pipinya.


Sungguh, tidak ada yang lebih menyakitkan dari apa yang dilihatnya sekarang ini.


Aqira tidak menyangka lelaki yang dicintainya ternyata berbuat seperti ini di belakangnya.


"Brian, bagaimana jika istrimu tau, kudengar.... kau sudah menikah " ucap wanita itu mendesah akibat serangan Brian.


"Jangan bahas gadis rubah itu dia tidak berguna, aku sangat membencinya ..." sahut Brian.


Seketika Aqira menutup mulutnya, menahan isakan yang sedari tadi ditahannya.


Tidak tahan lagi menyaksikan dua anak manusia itu, Aqira bergegas pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Brian sepertinya ada orang yang mengintip..." ucap wanita itu yang ternyata melihat kepergian Aqira.


"Biarkan saja.. ini rumahku"


"Tapi bagaimana kalau itu istrimu..."


"Aku tidak peduli...nikmati saja.."


"Nanti dia mengadukanmu ke orangtuamu....."


Brian berhenti dari aksinya, beranjak bangkit dari tubuh wanita itu.


"Pulanglah!" ucapnya dingin.


"Tapi..kenapa Brian, kita bahkan belum selesai"


"Kau terlalu banyak bicara, ini bayaranmu, pergilah"


"Tapi kenapa...Brian?"


"Kubilang pergi, jangan sampai aku berbuat kasar!" bentaknya menatap dingin pada wanita yang masih tidur telentang di atas ranjang itu.


Mendengar ucapan Brian, wanita itu segera memungut pakaiannya yang berserakan lalu memakainya, dia tau membantah Brian bisa berakibat buruk nantinya.


Saat akan keluar dia berbalik lagi "Brian kita belum menyelesaikannya, bagaimana kalau besok kita lanjutkan lagi?" ucapa wanita itu tersenyum menggoda.


Brian menatap tajam wanita itu "Jangan menilai terlalu tinggi dirimu, aku tidak terbiasa memakai barang lebih dari satu kali."


"Tapi Brian..."


"Jangan membantahku selagi aku masih baik." ucapnya dingin.


Tubuh wanita itu bergetar, tersirat ancaman dari kalimat pria itu. Sebelum dirinya terkena masalah lebih baik dia pergi dari tempat ini.


"Baiklah..Aku pergi." pamitnya dan berlalu dari hadapan Brian.


"Apakah gadis rubah itu melihatnya tadi?" gumam Brian.


"Kalau dia melihatnya tadi, aku tidak sabar melihat ekspresinya." ucapnya berjalan menuju kamarnya setelah selesai memakai pakaiannya kembali.


Gadis itu pasti sedang menangis sekarang, dia kan gadis cengeng batinnya sepanjang berjalan menuju kamarnya.


Saat membuka pintu kamarnya, hanya keheninganlah yang menyambut Brian.


Brian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tapi tidak ada seorang pun di sana.


Brian berjalan ke arah kamar mandi, berdiri di depan pintu kamar mandi, tidak ada suara dari dalam sana.


Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu. Tapi diurungkannya, nanti dia besar kepala kalau aku mencarinya, pikirnya.


Akhirnya Brian memilih duduk di atas tempat tidur sembari menunggu Aqira dari kamar mandi.


Matanya beralih menatap sofa, tempat yang selalu ditiduri istrinya.


"Aku heran, kenapa dia bisa begitu nyaman tidur di situ" gumam Brian, teringat Aqira yang selalu tidur dengan nyenyak di sofa itu.


Ponsel Brian bergetar, terdapat notifikasi dari Joe, asisten pribadinya.


Terdapat file yang harus di periksanya malam ini.


Kini Brian disibukkan dengan ponselnya, melupakan niatnya menunggui Aqira.


Setelah tiga puluh menit Brian telah memeriksa file itu, lalu mengirimkannya kembali pada Joe.


Matanya begitu lelah, rasa kantuk mulai menyerang, tapi tiba tiba Brian teringat Aqira. Diliriknya sofa, tidak ada gadis itu di sana, lalu beralih menatap pintu kamar mandi, tidak terdengar apapun dari sana.


"Lama sekali gadis ini di kamar mandi, apakah dia tidur di sana?" lirih Brian.


Brian beranjak dari tempat tidur, lalu tangannya mengetuk pintu kamar mandi

__ADS_1


"Hei gadis rubah, kau sedang apa di dalam sana." tidak ada jawaban.


Brian tidak sabar, tangannya memutar knop pintu kamar mandi, kedua matanya menyusuri kamar mandi, kosong, tidak ada seorang pun di dalam sana.


Brian mulai panik, kemana gadis itu malam malam begini pikirnya.


"Apa mungkin memang benar dia melihat kejadian tadi, kalau iya kenapa dia harus pergi?" gumam Brian.


"Kalau sampai Daddy tau, bisa bisa aku dibunuh nanti." gumam Brian mulai panik.


Bukannya khawatir dengan istrinya, ternyata Brian hanya takut dengan kemarahan orang tuanya, memang dasar lelaki baj*ngan.


Brian langsung menyambar ponselnya yang tergeletak di atas nakas, berniat menghubungi istrinya.


Belum sempat menekan tombol hijau pada layar ponselnya, tiba tiba pintu kamarnya terbuka.


Gadis yang sedari tadi membuatnya panik muncul dari balik pintu.


Wajah gadis itu terlihat sembab, seperti sehabis menangis.


"Dari mana saja kau gadis rubah?" Brian langsung menyambar Aqira dengan pertanyaannya.


"Tidak dari mana mana." jawab Aqira dingin dengan suara sedikit serak.


Aqira tetap menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajah sembabnya dari Brian.


Tingkah Aqira tidak luput dari pandangan Brian.


"Jawab yang jelas, dari mana kau malam malam begini?" bentaknya lalu tangannya mengayun mencengkeram dagu gadis itu.


Mengarahkan wajah Aqira ke wajahnya, menatap wajah gadis itu lekat lekat.


"Kau habis menangis? Apa kau melihat kejadian tadi?" ucapnya tersenyum miring memandang Aqira.


"Kejadian apa maksudmu?"


"Aku menangis karena menonton film sedih bersama Bibi Lusi dan beberapa pelayan lainnya tadi!!" tegas Aqira lalu menepis tangan Brian yang mencengkeram wajahnya.


Aqira berlalu dari hadapan pria itu menuju sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.


Tangannya bergerak menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


.


.


Buat yang nanya kapan Brian bucin, tenang aja mungkin beberapa episode lagi kebucinan akan menguasai novel ini๐Ÿ˜‚ yang sabar ya para readersku.


Jangan lupa like, coment dan votenya ya


Mungkin kalau kalian rajin like sama vote aku janji bakal sering sering update ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Ngarep bgt hahaha๐Ÿ˜‚


Love you all๐Ÿ˜—


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2