
"Rencana apa?" tanya Aqira melihat Brian dan Arian bergantian.
"Bukan apa-apa sayang. Tidak usah dengarkan dia." Brian langsung menjawab. Brian menatap Arian dengan kesal, mulut sahabatnya itu memang tidak bisa dijaga.
Arian terkekeh geli melihat ketakutan Brian. Ternyata benar sahabatnya itu sudah bertekuk lutut kepada istri kecilnya itu.
"Sebenarnya suamimu sudah merencanakan semua ini kakak ipar." ucap Arian dengan sengaja ingin memanas-manasi Aqira. Arian sangat senang melihat wajah Brian yang terlihat memucat.
"Rencana? Merencanakan apa maksudnya, aku tidak mengerti?" Aqira dibuat kebingungan akan ucapan sahabat suaminya ini.
"Sebenarnya kecelakaan ini sudah direncanakan oleh suamimu sebelumnya. Dia ingin berpura-pura sekarat agar kau tidak jadi meminta cerai darimu." ucap Arian dengan santai.
"Apa?!" Aqira membulatkan matanya. Menoleh kepada suaminya yang terlihat pias.
"Tidak itu tidak benar sayang. Hei kau jangan asal bicara!" bentak Brian kesal kepada sahabatnya itu.
Sedang Arian malah tertawa melihat sahabatnya sudah ketakutan begitu. "Dasar suami takut istri." batinnya.
***
__ADS_1
Hari ini Brian sudah diperbolehkan oleh dokter pulang, setelah memastikan tubuh Brian sudah pulih total.
"Sayang kau masih marah padaku?" tanya Brian dengan lembut. Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Brian mencoba mengambil hati istrinya yang masih kesal dengan dirinya.
"Hm.." jawabnya singkat.
"Hm.. apa maksudnya sayang, kau masih marah?"
"Tidak." jawabnya ketus.
"Kau masih marah, bicaramu saja ketus begitu."
Aqira sangat marah, bagaimana mungkin ada orang seperti suaminya yang bermain-main dengan hal seperti itu, imbasnya menjadi benar-benar terjadi kan.
"Maafkan aku." Brian sepertinya sudah menjadi suami yang takut pada istrinya.
"Kau tidak pernah memikirkan perasaanku, jika saja kau benar-benar mati kemarin lalu bagaimana denganku. Kau tega meninggalkan aku sendirian di dunia ini?"
"Maaf, aku janji tidak akan melakukannya lagi." Brian menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Joe yang sedari tadi mendengarkan mereka, hampir saja meloloskan tawanya melihat Tuannya tunduk kepada istrinya. Ternyata cinta bisa membuat seseorang menjadi bodoh. Seperti Tuannya ini, Brian yang dikenal sebagai pria yang dingin dan sombong kini sudah bertekuk lutut kepada seorang anak kecil.
Dalam hati Joe berjanji tidak akan mau mencintai seorang wanita, selain karena merepotkan juga bisa membuat dirinya menjadi bodoh seperti Tuannya.
"Janji?"
"Iya aku berjanji." ucap Brian dengan semangat.
"Awas saja kalau diulangi, aku akan berdoa supaya kau benar-benar mati saja!" Aqira mendelikkan matanya melihat suami tampannya itu. Seharusnya dia memberikan hukuman berat kepada Brian agar dia jera.
"Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Tapi kau harus janji jangan minta pisah lagi dariku."
Aqira tersenyum tipis melihat suaminya itu, ternyata dia memang mencintainya. Aqira berjanji akan selalu mempercayai Brian.
Dan untuk Jessi, jika wanita licik itu masih berani mengacaukan rumah tangganya, maka dia yang akan turun tangan menjambak wanita itu.
"Hmm aku janji."
Brian langsung memeluk Aqira senang. Brian sebenarnya bersyukur karena rencananya yang malah benar-benar kejadian membuat istrinya tidak jadi minta pisah darinya.
__ADS_1
"Love you..." bisik Brian kemudian memberikan kecupan hangat di pipi wanita itu.