JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Harapan


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA


Ini semua salahnya, kesalahannya. Dia menyebabkan Brian seperti ini.


"Silahkan ikut saya Nona, Nona harus menandatangani persetujuan operasi Tuan Brian." ujar dokter menyadarkan Aqira.


Aqira mengangguk lemah, mengikuti dokter itu. Sebelum pergi, Aqira menatap pintu kamar Brian dirawat, ingin sekali rasanya dia berlari ke dalam sana, melihat jantung hatinya yang sedang sekarat di sana.


Setelah Aqira menandatangani surat persetujuan, Aqira kembali ke ruang perawatan suaminya.


Aqira masih belum diperbolehkan masuk, para dokter masih mempersiapkan Brian untuk kesiapan operasi.


Hampir lima belas menit, pintu terbuka. Beberapa perawat dengan tangan mendorong brankar dengan suaminya terbaring lemah di atasnya.


"Brian .." pekik Aqira ketika melihat keadaan suaminya terluka parah.


Tangis Aqira pecah seraya ikut berjalan mengikuti perawat yang akan membawa suaminya ke ruang operasi.


"Aku minta maaf sayang..." tangis Aqira sembari memegang tangan Brian yang pucat. Tapi Brian tidak ada respon sama sekali. Mata pria itu terpejam rapat, dengan banyaknya luka goresan di sekitar wajah pria itu.


Aqira bisa melihat sekujur kepala Brian diperban dengan kain kasa yang sudah ternoda akan darah yang mengucur dari kepalanya.


Melihat itu hati Aqira semakin teriris, dia tidak sanggup melihat Brian seperti ini.


"Sayang..." panggil Aqira untuk yang terakhir kalinya, karena mereka sudah tiba di ruang operasi. Perawat menghalanginya masuk dan memintanya menunggu di depan ruang operasi.

__ADS_1


Aqira menurut saja, yang penting Brian bisa disembuhkan.


Aqira berkali-kali mendoakan agar operasi suaminya lancar, dengan air mata menggenangi Aqira memejamkan matanya berharap Tuhan mengabulkan doanya.


Disela doanya, Darman Risa dan juga Sasha datang. Dapat dia lihat guratan kesedihan di wajah mereka.


Ini semua salahnya, berkali-kali dia membuat kedua orang tua itu bersedih.


"Bagaimana keadaan Brian?" tanya mereka bergantian.


Aqira terdiam, lidahnya terasa kelu menjawab pertanyaan mereka.


"Maafkan aku." ucap Aqira.


"Kenapa minta maaf sayang." Risa langsung memeluk Aqira.


"Tidak Nak, ini bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu, ini sudah takdir putraku yang harus melewati kejadian seperti ini." ucap Risa menenangkan.


"Tidak Mom. Jika saja aku tidak menyuruhnya pergi, dia pasti.." Aqira menangis sesenggukan.


"Jangan begitu Nak, ini bukan salahmu." kini Darman menimpali.


"Tapi..."


"Sudahlah Kak, tidak baik menyalahkan diri seperti ini. Yang penting sekarang, kita harus banyak berdoa, semoga operasi Kak Brian berjalan lancar." ujar Sasha menengahi.

__ADS_1


Aqira akhirnya mengangguk, tadinya dia pikir keluarga Brian akan menyalahkannya, karena sebagian besar penyebab Brian kecelakaan adalah dirinya sendiri.


Tapi sekarang, mereka malah menyemangati dirinya, harusnya merekalah yang disemangati, karena bagaimana pun juga mereka merupakan orang tua kandung Brian.


Hampir tiga jam, akhirnya lampu tanda operasi kini sudah padam.


Operasinya telah selesai.


Harap-harap cemas, mereka semua menunggu dokter keluar dari ruang operasi.


Akhirnya seorang dokter dengan masih memakai jubah hijau ditubuhnya keluar dari sana.


"Bagaimana dokter keadaaan suami saya?" tanya Aqira cemas.


Dokter menghembuskan napasnya dalam.


"Operasi berjalan dengan lancar."


ucapan seketika melegakan hati mereka.


"Tapi.. kondisi Tuan Brian masih belum stabil. Operasi memang berjalan lancar, tapi ada beberapa bagian saraf Tuan Brian mengalami masalah. Sepertinya benturan yang dialami Tuan sangat keras." Dokter berhenti sejenak.


"Kita tunggu saja sampai tiga hari, jika Tuan Brian sadar dalam kurun waktu tiga hari, maka kemungkinan besar Tuan akan selamat. Tapi jika tidak, kemungkinan untuk selamat hanya dua puluh lima persen." jelas dokter itu


LOVE YOU ALL

__ADS_1


Jan lupa follow akun Ig aku


@lisa_gultom


__ADS_2