JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Terpergok


__ADS_3

Like dulu sebelum baca


Setelah menumpahkan semua kesedihannya akan kerinduan yang mendalam kedua orang tuanya, tanpa sadar Aqira tertidur di pelukan Brian.


Saat Brian tidak merasakan isak tangis Aqira lagi, tangan kekarnya bergerak menengadahkan kepala Aqira. Benar saja wanita itu tertidur dengan sangat pulas.


"Jangan pernah berpikir kau sendirian lagi, aku selalu di sisimu." lirih Brian sebelum mengecup bibir ranum itu.


Tidak mau membangunkan wanita itu, Brian dengan hati-hati mengangkatnya dan membawa Aqira ke sebuah kamar di ruangan itu. Kamar ini biasa digunakan Brian untuk istirahat.


Dinaikkannya selimut sampai menutupi lehernya, lalu meninggalkan kecupan penuh kasih sebelum keluar dari kamar itu.


Sebelum melanjutkan pekerjaannya, Brian mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Konsepnya akan kukirim melalui email, tolong kau urus. Aku mau semuanya sudah selesai dalam satu bulan ini." Perintah Brian kepada salah satu bawahannya.


Pria itu langsung mematikan ponselnya setelah percakapan singkat mereka berakhir. Kemudian melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Lamanya Brian berkutat dalam pekerjaannya, tanpa disadari hari sudah semakin sore.


Bahkan lelaki itu tidak menyadari Aqira yang sudah bangun, berdiri di pintu geser terbuat dari kaca sebagai pembatas ruang kerja dan kamar.


Manik coklat wanita itu memperhatikan suaminya yang sedang bekerja dengan intens. Pesona suaminya sangat luar biasa bahkan sedang bekerja, menambah kesan gagah dan berwibawa menurut Aqira.


Aqira tidak tahan untuk tidak menghampiri Brian dan duduk di pangkuannya.


"Sayang." panggil Aqira dengan suara paraunya.


Brian terkesiap saat Aqira tiba-tiba duduk di pangkuannya.


Tangan wanita itu menggelayut manja di leher Brian sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang itu.


Brian menaikkan sebelah alisnya, terheran-heran dengan tingkah manja sang istri.


"Sudah bangun?"


"Hmm.." gumam Aqira, masih menyandarkan kepalanya.


"Ada apa ini?"


"Apanya?" mendongakkan kepalanya kepada Brian.


"Tidak biasanya kau bermanja-manja seperti ini."


Wanita itu mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Brian, "Jadi aku tidak boleh manja pada suamiku sendiri?" raut wajahnya nampak kesal.


"Baiklah, aku akan turun!" Aqira hendak turun dari pangkuan Brian, tapi Brian dengan cepat menangkup pinggangnya, tidak membiarkannya turun.


Brian terkekeh, "Kau ini pemarah sekali, ada apa denganmu." gemas Brian sambil menciumi pipi Aqira.


"Duduklah dengan tenang, aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku, setelah itu kita pulang." ujar Brian, lalu menyandarkan Aqira di dadanya.


Brian bekerja dengan komputernya, membiarkan Aqira duduk di pangkuannya.


Tubuh Aqira yang mungil tidak membuat pria itu merasa keberatan sama sekali.


Wanita itu memperhatikan wajah suaminya yang sedang fokus bekerja, siluet wajahnya yang simetris sangat pas dengan rahang tegas yang dimiliki pria itu.

__ADS_1


"Suamiku sangat tampan." lirih Aqira sambil memainkan kancing kemeja Brian.


"Aku tau, suamimu ini memang tampan." sahut Brian tiba-tiba.


"Eh kau mendengarku?"


"Tentu saja, dan itu," menunjukkan jari Aqira yang masih memainkan kancing kemejanya.


"Singkirkan tanganmu."


"Memangnya kenapa?" tanya Aqira pura-pura polos. Senyum menjengkelkan terbit di sudut bibir wanita itu.


Brian menggeram, "Tidak apa-apa, lanjutkan saja jika kau ingin kumakan sekarang juga."


"Makan saja." tangannya dengan sengaja meraba dada pria itu, mengusapnya seolah ingin menggoda Brian.


"Otot dadamu sangat besar." ucap Aqira, dengan sengaja Aqira mencubit p*t*ng dada Brian.


Perbuatan Aqira baru saja telah membangkitkan gairah Brian, "Dasar mesum." geram Brian dengan suara beratnya.


Tanpa membiarkan Aqira menjawab, Brian langsung membungkam bibir menjengkelkan itu dengan bibirnya.


Mel*mat bibir itu dengan gairah yang sudah membara, dengan lihai lidah Brian mencecapi setiap sudut rongga mulut Aqira tanpa membiarkan wanita itu bernafas.


Sungguh Aqira merutuki kejahilannya pada Brian, jika tau seperti ini, Aqira tidak akan mau melakukan itu dan tidak akan mau lagi.


Setelah ciuman yang berlangsung cukup lama itu selesai, Brian melepasnya dan membiarkan Aqira bernafas.


"Bagaimana? Masih berani menggodaku lagi?" ucap Brian dengan seringaian puasnya sambil melihat Aqira yang masih terengah-engah.


"Dan satu lagi, aku tidak mesum!" bantah wanita itu.


"Kalau bukan mesum, lalu apa namanya hmm?" bisik Brian, tangan kekarnya mer*m*s dada Aqira dengan sengaja.


"Aakhh." Aqira mengerang.


Seolah masih belum cukup, Brian meremas lebih kuat dada Aqira dan memainkan ujungnya.


"Masih berani menggodaku lagi?"


"Tidak.. Ampun. Aku tidak akan mengulanginya lagi...."


Aqira jera, suaminya ini ternyata sangat berbahaya.


"Tidak ada ampun bagimu, ini masih belum cukup, perempuan mesum sepertimu harus diberi pelajaran." tanpa aba-aba bibir Brian menempelkan bibirnya di leher putih mulus Aqira.


Aqira mengerang tak tertahankan, saat Brian mengecap kuat lehernya hingga meninggalkan bekas merah di sana.


"Sayang... jangan gila, ini di kantor..." lirih Aqira, sesekali menggigit bibir bawahnya agar desahannya tidak lolos begitu saja.


Wanita itu khawatir, jika nanti tiba-tiba orang masuk dan melihat mereka seperti ini.


"Memangnya kenapa jika di kantor hmm..?" geram Brian masih betah di leher jenjang itu.


"Nanti ada yang masuk."


"Tidak akan ada yang berani masuk."

__ADS_1


Ujar Brian, kemudian sedikit mengangkat tubuh Aqira, agar dapat meraih resleting belakang dress yang digunakan Aqira saat itu.


Dress Aqira sudah turun hingga menampilkan dadanya yang masih terbungkus bra.


"Sayang kumohon, jangan di sini." rengek Aqira saat merasakan Brian akan berbuat lebih jauh.


"Kau yang lebih dulu menggodaku, jadi jangan salahkan aku, salahkan saja dirimu yang mesum itu."


Dibukanya pengait bra itu, lalu menariknya, membiarkan jatuh teronggok begitu saja di bawah meja.


Mata lelaki itu berbinar melihat pemandangan indah di depannya. Diraupnya kedua gundukan itu dengan bibirnya, dan memainkannya dengan lihai.


Bahkan Aqira yang memberontak sedari tadi, kini sudah terbawa arus gairah yang diciptakan oleh suaminya. Menikmati segala sentuhan dan belaian panas pria itu.


Kecemasannya kini sudah berganti menjadi nafsu gairah yang menggelora yang harus dituntaskan saat ini juga.


Brian memang benar-benar pandai membuatnya melayang.


Ditengah kenikmatan kedua insan yang sedang memadu kasih itu, keduanya dikejutkan akan seseorang yang tiba-tiba membuka pintu.


Keduanya terkesiap, Brian mendongak untuk melihat orang itu, sedangkan Aqira langsung menelusupkan badannya ke dalam tubuh Brian. Sungguh ini sangat memalukan bagi Aqira.


Segera Brian meraih jasnya yang tergantung di kursi kerjanya, lalu menutupi tubuh Aqira yang terpampang nyata akibat ulahnya.


Brian beralih kepada orang yang baru saja datang mengganggu aktivitasnya dengan sang istri. Menatap orang itu dengan tatapan mematikan.


Orang itu juga sama terkejutnya dengan Brian dan Aqira.


"Mau apa kau kemari." ucap Brian dengan dingin.


"Maaf aku mengganggu." jawab wanita itu, lalu berbalik dengan cepat meninggalkan ruangan itu.


Ya, wanita itu adalah Jessi, wanita yang datang tiba-tiba mengganggu aktivitas pasangan suami istri itu.


Kedatangannya kemari yang ingin menemui Brian dan memohon untuk kembali padanya, dan sungguh tidak menyangka malah mendapat pemandangan seperti tadi.


Hatinya memanas ketika melihat itu semua.


"Lihat saja Aqira, Brian akan kembali padaku." geram Jessi sambil mengepalkan tangannya.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan votenya ya


Love you all 😘😗

__ADS_1


__ADS_2