JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Penyesalan


__ADS_3

Hampir tiga jam lamanya akhirnya lampu tanda operasi telah padam. Mereka semua yang sedang menunggu di depan ruang operasi langsung berdiri menunggu siapapun yang keluar dari dalam sana.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka, seorang dokter masih dengan jubah khusus berwarna hijau keluar dari dalam sana.


Dengan cepat Aqira menyambar dokter itu dengan pertanyaannya.


"Dokter bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Aqira cemas.


Darman, Risa dan Sasha menunggu dokter laki-laki itu berbicara harap-harap cemas.


"Operasinya berjalan lancar." hal itu seketika membuat mereka semua lega.


"Tapi meski operasi berjalan lancar..., kondisi Tuan Brian masih belum stabil. Ada beberapa bagian saraf Tuan Brian yang mengalami masalah. Sepertinya benturan yang dialami Tuan sangat keras." Dokter berhenti sejenak, memperhatikan wajah-wajah yang kini menjadi murung.


"Kita tunggu saja sampai tiga hari ke depan, jika Tuan Brian sadar dalam kurun waktu tersebut, maka kemungkinan besar Tuan Brian bisa diselamatkan. Tapi jika tidak, kemungkinan untuk selamat hanya dua puluh lima persen." jelas dokter itu.


Aqira yang mendengar penjelasan dokter itu menutup mulutnya, menggelengkan kepalanya tidak percaya. Tidak mungkin, jeritan hati wanita itu.

__ADS_1


Risa yang juga terkejut, tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas, hampir saja terjatuh jika Darman tidak menopangnya.


"Kita doakan saja yang terbaik, semoga Tuhan memberikan keajaiban untuk Tuan Brian." ujar dokter itu.


Aqira terduduk di kursi tunggu, tidak sanggup menanggung ini semua. Brian seperti ini karena dirinya, semua karena dirinya. Dia terlalu egois yang membuat suaminya harus mengalami musibah ini.


Aqira merasakan tubuhnya direngkuh oleh seseorang, "Sasha.." panggilnya dengan air mata yang berlinang.


"Kakak harus sabar ya, aku yakin Kak Brian akan selamat." ucap gadis itu berusaha menenangkan Aqira.


"Cukup Kak, jangan terus-terusan menyalahkan diri Kakak, ini semua sudah menjadi takdir Tuhan." ucapnya.


Aqira terdiam, tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Walaupun keluarganya tidak menyalahkannya atas semua kejadian ini, tetap saja Aqira merasakan penyesalan besar dalam hatinya.


Beberapa saat kemudian, Brian sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Dan keluarga sudah diperbolehkan untuk melihat kondisinya.


Aqira yang baru saja memasuki ruangan, dengan langkah cepat mendekati lalu memeluk pria yang sangat dicintainya. Tangisannya pecah di atas dada bidang pria itu.

__ADS_1


Melihat kondisi Brian saat ini, membuat hatinya sakit, andai saja dia bisa menggantikan posisinya, maka Aqira akan melakukan itu.


Wajah tampan yang dulunya selalu berseri-seri kini nampak pucat dengan beberapa luka goresan di sana.


Aqira tau, dibalik baju rumah sakit yang Brian kenakan saat ini pasti juga menyembunyikan luka yang sama.


"Sayang maafkan aku. Kalau saja aku tidak mengusirmu....saat itu...., kau pasti tidak akan mengalami kejadian ini.... Aku jahat...hu..hu..hu.." tangis wanita itu.


Risa juga sama histerisnya, wanita itu memeluk tubuh Brian dari sisi yang berbeda. "Bangunlah Nak..." Isak tangisnya.


Berkali-kali Risa menciumi wajah putranya itu, bagaimanalah perasaan seorang ibu, melihat anaknya sekarat seperti ini. Hatinya juga sama hancurnya seperti Aqira.


Kedua wanita itu menangis meraung-raung, menangisi pria yang sama-sama penting dalam hidup mereka.


Darman dan Sasha mencoba menenangkan keduanya, tapi tetap saja tangis kedua wanita itu tak kunjung berhenti.


Akhirnya Risa dan Aqira dipaksa keluar oleh perawat yang pada saat itu akan memeriksa kondisi Brian, meski banyak perlawanan yang dibuat oleh keduanya.

__ADS_1


__ADS_2