
LIKE DULU SEBELUM BACA
Sampai di rumah Aqira dikejutkan akan kedatangan Risa dan Darman di rumahnya. Kedua mertuanya itu sedang duduk di sofa ruang keluarga rumah itu.
"Mommy Daddy." sapa Aqira mendekati kedua orang tua paruh baya itu.
"Aqira kau sudah pulang?" tanya Risa lalu memeluk menantu kesayangannya.
"Ya Mom."
Aqira beralih pada Darman, mencium tangannya, "Bagaimana keadaan Daddy?" tanya wanita itu.
"Sudah lebih baik Nak." jawab Darman tersenyum lalu mendaratkan tangannya di kepala Aqira, mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
Aqira dan kedua mertuanya mengobrol ringan di sana, sampai Sasha muncul dari dapur membawa beberapa cangkir berisi teh.
"Sasha kau di sini juga?" sapa Aqira.
"Iya Kak, kami berencana makan malam di sini, katanya Mommy Daddy rindu dengan Kak Brian dan Kakak ipar."
Aqira tersenyum senang, "Senangnya aku jadi punya teman nanti." Aqira begitu girang karena selama ini dia bosan karena tidak punya teman di rumah.
Aqira dan Sasha memasak untuk makan malam dengan bantuan dari Bi Lusi, setelah Brian pulang dari kantor mereka telah berkumpul di meja makan.
__ADS_1
Makan malam berlangsung dengan khidmat, sesekali mereka bercanda membuat tawa riuh tercipta di meja makan.
Tapi tidak dengan Brian, lelaki itu hanya menampilkan senyum simpul di saat yang lain sudah tertawa terbahak-bahak.
"Sayang apakah sudah ada tanda-tanda?" tanya Risa tiba-tiba.
Aqira terdiam, menatap Risa bingung.
"Maksud Mommy tanda kehamilan?" jelas Risa melihat kebingungan menantunya.
"Uhhuk..." Aqira tiba-tiba tersedak.
Dengan sigap Brian memberikan minum untuk Aqira sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Hati-hati sayang." ucap Brian.
Aqira menatap suaminya dengan intens, suaminya telah menyelamatkan dirinya dari pertanyaan Risa. Rasa bersalah Aqira semakin menjadi, menyesal telah meragukan suaminya sendiri.
"Benarkah?" tanya Darman antusias. Tidak hanya Darman, Risa dan Sasha juga sama antusiasnya.
"I iya Dad." jawab Aqira gugup.
"Wah sebentar lagi aku akan memiliki keponakan?" ujar Sasha girang.
__ADS_1
"Kau harus menjaga kesehatanmu ya sayang, dan juga jangan terlalu banyak berpikir, karena perubahan emosi dan banyak pikiran juga berpengaruh dalam program hamil." jelas Risa.
"Nanti Mommy akan menyuruh Bi Lusi membuat masakan bergizi penyubur kandungan untukmu." Aqira mengangguk samar.
"Ya Mom, Terima Mom."
Malam ini Aqira bisa melihat betapa besar keinginan keluarganya akan hadirnya seorang anak di tengah keluarga ini.
Aqira berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat keluarganya bahagia.
Pandangan Aqira berlabuh pada suaminya yang juga sedang menatapnya, Aqira tersenyum dan dibalas pria itu dengan senyum manisnya.
Setelah acara makan malam berakhir, Darman, Risa dan Sasha pulang ke rumah utama.
Kini Aqira dan Brian sudah berbaring di tempat tidur. Aqira berada di pelukan suaminya dengan tangan pria itu mengelus surai hitam Aqira lembut.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Brian karena Aqira sedari tadi menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Tapi Aqira nampaknya larut dalam lamunannya dan tidak mendengar ucapan Brian.
"Sayang?" panggilnya lagi sembari mengguncang pelan kepalanya.
"Eh ya sayang ada apa?" Aqira tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lamunkan?"
"Ti tidak ada." jawab Aqira gugup.