
Happy Reading all
Like dulu sebelum baca ok😉
Brian membopong tubuh Aqira menuju mobil, mendudukkan Aqira di samping kemudi lalu memasangkan safety beltnya.
Wajah Aqira masih memerah, dirinya sungguh malu sekarang, bisa-bisanya suaminya ini menciumnya di depan umum. Dan hampir satu kampus menonton mereka berciuman.
Aaa mengingat itu membuat Aqira menjadi kesal pada Brian.
Aqira menatap tajam pada Brian yang sudah duduk di sampingnya, "Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Brian ketika merasakan tatapan tajam Aqira.
"Kenapa menatapku seperti itu." Aqira mengulang ucapan Brian seolah mencibir lelaki itu.
Brian mengerutkan keningnya, "Kau ini kenapa?"
"Kau tanya kenapa? Kau dengan tidak tau malu menciumku di keramaian seperti tadi!
Ahh sangat memalukan." Aqira menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
Brian tersenyum, lalu meraih kening Aqira, menyentilkan jarinya di sana, "Kenapa kau malu bodoh, aku ini suamimu. Lagipula harusnya kau senang mendapat ciuman dari seorang Brian Charles." ucap Brian dengan nada sombong.
Aqira mendelikkan matanya, "Senang? Malu, iya."
"Kau bilang apa?"
"Tidak ada. Sudah, cepat jalankan mobilnya, aku sudah lapar." ketus Aqira.
"Aku melakukan itu supaya tidak ada lagi lelaki yang berani mendekatimu." ucap Brian menatap lekat manik istrinya.
Wanita itu membalas tatapan Brian, kata-kata pria itu penuh keseriusan.
"Huh..terserah kau sajalah." Aqira memperbaiki posisi duduknya.
Brian terkekeh, lalu mencubit dagu runcing gadis itu, "Jangan marah tuan putri, sang pangeran ini akan membawamu ke suatu tempat." Brian melajukan mobilnya ke tempat tujuan yang sudah dipersiapkannya kemarin.
"Kemana?" melihat Brian.
"Kau akan tau nanti." menggaet hidung Aqira.
Aqira tersenyum senang akan sikap Brian yang selalu manis. Dia tidak pernah menyangka, pria dingin dan sombong ini ternyata juga memiliki sifat yang manis.
Aqira jadi penasaran, siapa saja wanita yang pernah mendapatkan sikap manis pria ini.
"Brian.." panggil Aqira yang dirundung rasa penasaran, memberanikan diri untuk menanyakannya langsung.
Brian tidak menjawab, pria itu tetap fokus pada jalan.
"Brian.." sampai tiga kali Aqira memanggil, pria itu tetap tidak menyahut.
Aqira mengerucutkan bibirnya, kesal kepada Brian.
__ADS_1
Brian melihat Aqira menggerutu, lalu dengan hati-hati menepikan mobilnya di jalanan sepi.
Aqira melihat Brian heran, "Kenapa berhenti?"
"Tidak bisakah kau mengubah panggilanmu untukku, setiap saat kau selalu memanggil namaku? Aku kesal mendengarnya."
"Kenapa bukankah itu namamu?"
"Ck...kau ini, aku ini suamimu, seharusnya kau memanggilku dengan panggilan romantis." menyentil kening Aqira.
"Aku harus memanggilmu apa, aku tidak tau."
"Dasar bodoh. Pikirkan sendiri, aku tidak mau tau, pokoknya setelah kita sampai kau sudah harus menemukan panggilan khusus untukku." Brian kembali menjalankan mobilnya.
Aqira memandang lautan di sepanjang perjalanan, "Kita akan ke pantai?" tanya Aqira.
"Hmm kau senang?" tangan Brian mengambil tangan Aqira, lalu menciumnya.
"Aku senang sekali, aku sangat suka pantai." Aqira tersenyum bahagia.
Akhirnya mereka sampai, Brian berdiri di belakang Aqira, lalu menutup mata gadis itu dengan kedua telapak tangannya.
"Kau sedang apa?" Aqira memegang tangan Brian.
"Aku punya kejutan untukmu, kau hanya perlu jalan saja sesuai intruksiku." lalu pria itu menuntun Aqira dari belakang sembari menutup mata gadis itu.
"Sebenarnya kejutan apa yang kau buat?" tanya Aqira masih dengan mata tertutup.
"Kalau kuberitahu bukan kejutan namanya." bisik Brian di telinga Aqira.
"Kita sudah sampai." Brian membuka tangannya dari mata Aqira.
Perlahan Aqira membuka matanya, alangkah terkejutnya wanita itu melihat pemandangan di depannya.
"Brian?" lirih Aqira pada Brian yang sudah memeluk pinggangnya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahunya.
"Kau suka?" tanya Brian sambil menghirup aroma tubuh wanita itu.
"Aku suka sekali, ini sangat indah." Aqira tersenyum, jelas sekali kebahagiaan terpancar di wajah wanita itu.
Brian melepas pelukannya, membalikkan tubuh mungil istrinya.
Mengambil kedua tangan Aqira, menggenggamnya erat, "Aqira..."
Aqira mengangkat pandangannya, membalas tatapan pria itu dengan penuh cinta.
Raut wajah pria itu berubah menjadi sendu, "Aqira aku minta maaf... aku minta maaf atas semua kesalahanku dulu padamu. Semua sikap kasarku dulu dan ...."
Aqira memotong ucapan Brian, kemudian meletakkan jari telunjuknya di bibir pria itu. "Sst.. aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau minta maaf. Semua sudah berlalu, tidak usah kita ungkit-ungkit lagi." ucap Aqira lembut.
__ADS_1
Senyum lelaki itu terbit, lalu menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya, "Terimakasih sayang, terimakasih kau sudah memaafkanku." mengusap surai hitam istrinya.
"Kau tau, aku sungguh menyesal telah menyianyiakan dirimu di masa lalu.
Aku begitu bodoh waktu itu, aku bodoh karena tidak pernah melihat ketulusanmu selama ini." pria itu semakin mengeratkan pelukannya, seolah ingin mengurai rasa bersalah dan penyesalan dalam hatinya.
"Aku berjanji, aku janji akan menebus segala kesalahanku padamu.
Aku janji, tidak membiarkanmu menderita lagi, kau akan selalu bahagia di sisiku." pria itu mengecupi puncak kepala Aqira.
Wanita itu tak kuasa menahan air matanya, sungguh dia begitu terharu akan semua ucapan Brian. Perasaan haru dan bahagia kini bercampur dalam hati wanita itu.
Bagaikan euforia yang menjalar, merasuki jiwa wanita itu. Sungguh dia sangat bahagia sekarang, baginya tidak ada lagi hal yang lebih membahagiakan saat ini.
Wanita itu merapalkan doa dalam hatinya, semoga kebahagiaan ini akan abadi selamanya.
"Brian..." lirih Aqira sambil melepas pelukannya, air mata bahagia masih menggenangi sudut matanya.
"Iya sayang...jangan menangis.." jemarinya bergerak mengusap air mata yang membasahi pipi wanita itu.
"Brian....aku mencintaimu..." ungkapan cinta yang selama ini dipendamnya, akhirnya terucap sudah dari mulut pria itu.
Brian hanya menyunggingkan senyumnya membalas ungkapan cinta wanita itu.
Hal itu membuat Aqira bingung dengan reaksi pria ini, tiba-tiba wajahnya menjadi mendung.
"Brian...?" lirih Aqira. Wanita itu sudah berpikir jauh. Dia berpikir bahwa Brian tidak suka akan pengakuannya baru saja.
Brian terkekeh, "Aku tau sayang..." kembali menarik Aqira ke dalam pelukannya.
"Aku juga mencintaimu.."
"Brian kau...?"
"Aku mencintaimu..." ucap Brian lagi.
Sedangkan Aqira, wanita itu kembali menangis dalam pelukan Brian, hingga membasahi kemeja pria itu.
"Kenapa menangis?" tanya Brian yang merasakan kemejanya basah. Brian menarik pelan wajah Aqira, mengusap air mata gadis itu.
"Ini air mata kebahagiaan..." jawab Aqira.
Kembali membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Aku tidak menyangka kau akan secepat ini membalas cintaku. Aku bahagia sekali Brian."
suara gadis itu tercekat oleh tangis bahagia.
"Bukankah aku sudah berjanji, bahwa aku akan menemukan jawabannya?"
"Dan kau menepatinya." lanjut Aqira. Aqira mengangkat pandangannya, menatap pria itu penuh cinta.
__ADS_1
Manik mereka bertemu, saling memancarkan cinta yang membuncah dalam hati kedua insan itu.
Tanpa mereka sadari bibir mereka sudah menyatu, ciuman lembut yang seolah mewakilkan isi hati masing-masing.