JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Jangan sia siakan


__ADS_3

Jangan lupa votenya yahhh


Selamat membaca


Aqira segera menghapus air matanya berusaha menutupi luka mendalamnya.


Secepat kilat mengubah raut wajahnya tersenyum pada Hans.


Hans



"Kak Hans.." panggilnya lagi.


"Aqira, kau sedang apa di sini" menghampiri Aqira.


"Ah.. aku sedang menikmati udara malam Kak.. Kak Hans kenapa bisa di sini?"


"Hanya kebetulan lewat saja" lalu menatap wajah Aqira yang masih sembab habis menangis.


" Kau menangis?"


Aqira gelagapan lalu mengusap matanya yang masih sedikit basah.


"Ti..tidak Kak, ini tadi kelilipan kena debu"


"Hahaha.. kau ini lucu sekali mana ada debu malam malam begini" Hans tertawa geli


"Kau berbohong, kau ada masalah?


Apa karena suamimu lagi?"


"Kak Hans..." lirih Aqira lalu menundukkan kepalanya begitu suaminya disebut.


"Kemarin aku membiarkanmu, karena menurutku kau belum bisa menceritakannya kepadaku, tapi sekarang kau harus menceritakannya"


"Kak..." cicit Aqira dengan air matanya yang kembali berlinang.


"Kita duduk di sana" ajak Brian sambil menunjuk kursi panjang di seberang jalan.


Kini mereka duduk bersebelahan. Aqira masih setia dengan tangisannya, melihat Aqira seperti ini, hatinya sakit, Hans ingin sekali memeluk tubuh gadis itu, merengkuhnya, memberikan kekuatan untuk gadis itu.


Tapi Hans tidak bisa, dia bukan siapa siapa. Akhirnya hanya tangannyalah bergerak untuk mengelus bahu gadis itu.


"Ada apa Aqira, ceritakan padaku, tidak apa apa" Aqira masih menangis.


"Anggap saja aku ini kakakmu" sebenarnya hatinya sakit mengatakan itu, dia tidak ingin gadis ini memandangnya sebagai saudaranya. Dia berharap lebih dari itu.


Aqira langsung mengangkat kepalanya, menatap Brian dengan matanya yang masih basah berlinang air mata.


"Kak Hans, Brian.."


"Iya kenapa dengan Brian, dia menyakitimu?"


Aqira masih diam.


"Dia mengkhianatiku Kak...." ucapnya tersedu sedu.


Hans tidak terkejut, semua orang tau bahwa Brian seorang yang suka bermain wanita.


Tapi Aqira tidak tau itu, dia yang hanya gadis biasa bahkan mendengar namanya saja tidak pernah sebelumnya.


Hans mengerti bagaimana perasaan Aqira saat ini.


Di saat dia berusaha untuk merebut hati Brian, tetapi malah pengkhianatan yang dia dapat.


"Dia membawa wanita itu ke rumah.. dan...dan..." Aqira tidak dapat melanjutkan kalimatnya.


" Ini baru satu Aqira" gumam Hans dalam hati. Hans tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Aqira jika tau Brian adalah seorang casanova.


"Kau mencintainya?" tanya Hans


Dijawab anggukan pelan dari Aqira


Jantung Hans serasa diremas, Aqira


mencintai Brian. Ternyata Aqira menangis bukan hanya karena harga dirinya sebagai istri telah dijatuhkan, melainkan karena mencintai pria brengs*k itu.


Hans sangat menyayangkan cinta Aqira.


Hatinya juga merutuki Brian yang telah menyianyiakan gadis seperti Aqira.


Kalau saja ia bisa, dia akan berusaha membahagiakannya dan tidak akan pernah menyakiti gadis sebaik Aqira.


"Aku tidak tau cara menenangkan orang yang sedang bersedih, tapi aku sarankan bersabarlah sedikit, mungkin Brian bisa merubah sikapnya (walaupun tidak mungkin, batinnya)" ucapnya sambil menepuk nepuk pundak Aqira.


"Tapi kak..aku tidak sanggup melihat lelaki itu"


"Kakak yakin kau bisa, kalau terjadi sesuatu datanglah padaku, jangan pernah segan datang padaku aku selalu siap mendengarkan ceritamu" ucapnya tersenyum sendu. Sebenarnya hatinya sakit mengatakan itu, tapi demi Aqira dia akan berusaha membuat perasaan gadis itu tenang.


*Aqira terdiam, menatap wajah pria itu,terdapat pancaran ketulusan dalam matanya. Hatinya tersentuh mendengar ucapan pria jangkung itu, baru kali ini ada orang mengatakan seperti ini selain ayah dan ibunya.


"Sekarang pulanglah, ini sudah tengah malam.


Nanti suamimu mencarimu" ucapnya meledek sambil menghapus air mata Aqira.


"Jangan meledekku. Dia tidak peduli padaku.


Dia pasti sedang bersenang senang sekarang" mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Sudah jangan cemberut" menjepit hidung Aqira dengan gemas.


"Jangan menangis lagi ya" mengelus kepala Aqira.


"Jika sudah sampai di rumah, jangan berdebat dengan Brian, kalau bisa acuhkan saja dia, oke"


"Terima kasih Kak Hans, kau selalu datang saat aku sedih"


"Apa mungkin kau malaikat penolongku?" ucapnya lalu tertawa.


"Kau ini, jangan mengada ada"


"Pulanglah, tidak baik keluyuran malam malam"


Mereka bangkit dari kursi "Aku pulang dulu, kakak hati hati di jalan"


"Perlu kuantar?" canda Hans.


"Tidak perlu, hanya beda dua rumah lagi" ucapnnya terkekeh lalu berjalan meninggalkan Hans.


Setelah memastikan Aqira masuk ke dalam rumah, baru Hans pergi dari tempat itu*.


Flashback off


•••


Di dalam ruangan dengan dinding dominan putih, Brian duduk di kursi kebesarannya.


Brian tengah memeriksa beberapa dokumen di atas mejanya.


Tangannya memijit pangkal hidungnya, dia sama sekali tidak fokus hari ini.


Pikirannya selalu dipenuhi wajah Aqira.


Mengingat sikap gadis itu tadi pagi, yang begitu acuh padanya.


Biasanya gadis itu akan selalu melayani apapun yang dia butuhkan.


"Kenapa aku selalu memikirkan rubah itu" rutuknya dalam hati.


Di tengah lamunannya, seseorang masuk ke dalam ruangannya.


Brian menoleh, pria brengs*k ini"


"Hai Brother, long time no see" ucap lelaki yang masuk ke ruangan Brian.


Pria itu menepuk bahu Brian lalu berniat merangkul Brian.


"Menyingkir Arian... kau menjijikkan" desis Brian.


"Come on man, kau tidak merindukanku?


Hampir enam bulan kita berpisah" lalu berjalan ke arah sofa.


"Kau selalu mengataiku brengs*k, padahal kaulah rajanya brengs*k" ucapnya terkekeh.


"Mau apa kemari"


"Aku merindukanmu" tertawa lalu berjalan ke arah lemari pendingin mengambil satu botol alkohol.


"Arian jangan sampai aku memanggil security"


"Kau ini sangat mudah marah"


"Apakah istrimu tidak bisa memuaskanmu makanya kau selalu marah?" terkekeh meledek Brian.


"Istri..? Kau tau dari mana? Aku tidak pernah mempublikasikannya" bingung Brian.


"Tentu saja dari Daddymu, memang siapa lagi?"


"Sudah kuduga"


"Apa aku benar?"


"Benar apanya?"


"Istrimu tidak bisa memuaskanmu.


Kudengar dia masih muda, pasti dia tidak berpengalaman untuk memuaskan casanova sepertimu hahahha" meledek Brian.


Brian hanya menatap Arian tanpa membalas pria itu.


"Hei kenapa menatapku, apa aku benar? ucapnya sambil menyesap alkohol di tangannya.


"Aku tidak pernah menyentuhnya"


Arian hampir saja menyemburkan alkohol di mulutnya.


"Kau belum pernah menyentuhnya? Are you serious? Berarti dia masih virgin?" tanya Arian penasaran.


"Hei harusnya kau tanya kenapa, memang dasar brengs*k"


"Kalau dia masih orisinil berikan saja padaku"


"Tutup mulutmu, dia milikku" melempar bantal sofa ke arah Arian.


"Kau ini memang aneh, apa kau mencintainya?"


"Tentu saja tidak" sarkasnya.

__ADS_1


"Kalau kau tidak mencintainya, ya sudah


berikan saja padaku, kau tidak masalah bukan?"


"Tentu saja masalah bagiku. Aku tidak suka barang milikku diambil orang lain"


"Hah kau ini memang brengs*k Brian"


"Lalu kenapa kau menikahinya?"


"Karena Mommy dan Daddy" jawabnya malas


"Kalian dipaksa?"


"Hemm.."


"Kau ini bodoh sekali"


"Aku bodoh? Kau yang bodoh!!"


"Brian kau bodoh, telah menyianyiakan daun muda"


"Otakmu itu memang perlu direhabilitasi, semua dipenuhi se*" Menjitak kepala Arian.


"Lagi pula aku akan menceraikannya setelah satu tahun"


"Kenapa?" tanya Arian penasaran.


"Aku tidak mencintainya" jawabnya dingin.


"Ini pasti karena wanita sialan itu!" kesal Arian.


"Siapa maksudmu?"


"Siapa lagi kalau bukan wanita masalalumu itu"


"Jaga mulutmu Arian!!" Brian mulai marah.


"Hah sudahlah, sampai berapa kali aku harus memberitahumu agar kau percaya"


"Kumohon Brian lupakan dia"


"Kau tau apa brengs*k"


"Iya memang aku brengs*k.


Tapi aku tidak mau kau terpuruk hanya karena masa lalumu" ucap Arian dengan wajah sendunya.


Arian memang sangat menyayangi Brian, dia sudah menganggap Brian seperti saudaranya.


Dia tau semua tentang Brian, bahkan tentang kebusukan mantan kekasih Brian pun, Arian tau.


Hanya saja Brian tidak pernah percaya sekalipun.


Brian hanya ingin mendengar penjelasan dari mulut wanita sialan itu.


"Pergi" ucap Brian dingin.


"Baiklah, aku akan pergi"


"Tapi Brian ingat satu hal ini, jangan sia siakan gadis itu, kalau sampai dia pergi, kupastikan kau akan menyesal seumur hidup.


Dan akulah orang pertama yang akan menertawakan kebodohanmu" ucap Arian dan berjalan keluar dari ruangan Brian.


.


.


.


.


.


.


.


Hai Lisa balik lagi.


Capek bgt nulisnya.


Like, coment and vote ya😁


Votenya yang banyak yahhhh biar lanjut truss😁


Love you all😗


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2