
Like dulu sebelum baca
Gadis manis, kau sudah bangun? kenapa mematikan telponku?
Aku merindukanmu, sudah lama kita tidak bertemu.
Serentetan pesan dari Hans terbaca oleh Brian.
Brian mengepalkan tangannya, darahnya seketika mendidih setelah membaca pesan itu. "Berani sekali kalian!!" geramnya dalam hati.
Brian melempar kasar ponsel Aqira sehingga membuat Aqira tersadar dari tidur lelapnya.
Aqira duduk, menatap Brian heran, lelaki itu menatapnya tajam dengan raut wajah menahan amarah.
"Ada apa?"
"Kau menghianatiku." suara Brian menggelegar dalam kamar itu.
Sontak Aqira terjengit kaget, "Apa maksudmu?" sikap Brian yang dulu kembali menggerogoti jiwa lelaki itu.
"Tidak usah berpura pura, seharusnya kau yang lebih tau apa yang kumaksud!!"
"Tolong katakan dengan jelas, aku tidak mengerti." Aqira meringis kesakitan saat Brian meremas lengannya kuat.
"Lepaskan aku."
"Tidak akan kulepaskan sebelum kau menjelaskan ini!" tangan Brian terulur mengambil kembali ponsel Aqira, mengangkat ke depan wajah Aqira, hingga susunan tulisan itu terpampang jelas di wajahnya.
"Jangan salah paham, ini tidak seperti yang kau pikirkan.." sambil menggelengkan tangannya.
Brian semakin mengeratkan cengkramannya, "Siapa yang tidak akan salah paham melihat ini, kalian pasti punya hubungan khusus, iya kan?"
"Jangan salah paham dulu, biarkan aku bicara!!" sergah Aqira melepaskan tangannya.
Aqira memegang lengannya yang sakit karena cengkraman Brian, "Kau itu selalu mengambil keputusan tanpa meminta penjelasan!" gerutu Aqira.
"Kalau begitu jelaskan, cepat!"
"Iya iya, tidak sabaran sekali."
"Kami tidak punya hubungan khusus seperti yang kau katakan itu, hubungan kami hanya sebatas keluarga. Kau mengerti!" Aqira sedikit berteriak di akhir penjelasannya.
"Keluarga? Setauku kau tidak memiliki keluarga yang lain, dari mana sejarahnya kau bisa bersaudara dengannya, jangan mengada ada!"
"Tanya saja guru sejarahmu." ucap Aqira malas dan langsung mendapat tatapan tajam dari Brian.
Aqira berdecak kesal, "Ck, hubungan kami hanya sebatas antara kakak dan adik, tidak lebih. Sudahlah kau tidak akan mengerti itu semua." Aqira beranjak dari tempat tidur.
"Kau mau kemana?!" Brian menangkup tangan Aqira hingga kembali duduk di tempat tidur.
"Aku mau memasak, pagi ini aku ada kelas, nanti aku terlambat. Minggirlah."
"Tetap di tempatmu! Sudah berapa kali kubilang, agar kau menjauhi semua pria di yang ada dunia ini, apa lagi Hans, kau mengerti?" Brian menunjuk wajah Aqira.
Tangannya menepis jari Brian, "Kalau pria lain, aku bisa. Tapi Kak Hans tidak mungkin."
Brian menggeram marah akan jawaban Aqira, "Baiklah kalau itu yang kau mau, silahkan saja temui dia sesukamu. Tapi...mulai hari ini kau tidak usah kuliah lagi."
Perkataan Brian sontak membuat Aqira menghentikan langkahnya yang akan menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Brian..." raut wajahnya terlihat cemas.
Brian tersenyum miring, "Pilih mana, kuliahmu atau Kakak Hansmu itu?" Brian sengaja menekankan kalimat terakhirnya.
Setelah menimang beberapa saat akhirnya gadis itu menyerah, "Baiklah baik, aku akan menjauhinya. Kau puas?!" Lalu berbalik meninggalkan Brian yang tersenyum puas.
"Lihat saja, tidak akan kubiarkan kau mendekati gadisku." gerutu Brian sambil mengotak atik ponsel Aqira.
Ternyata Brian memblokir kontak Hans dan bahkan menghapus kontaknya dari ponsel Aqira.
Setelah selesai Brian tersenyum puas, telah berhasil menjauhkan Aqira dari pria lain.
Dirasuki rasa penasaran, Brian kembali membuka ponsel itu, melihat apakah ada nomor pria lain di sana.
Brian menggeser dari atas sampai ke bawah layar ponsel itu. Matanya menangkap sebuah nama, "My Beloved Husband?" lirihnya.
"Dia memiliki suami lain? Tidak akan kubiarkan!" geram Brian dan langsung menekan tombol dial up ponsel itu.
Pagi itu Brian terlihat konyol, saat memeriksa semua isi ponsel Aqira.
Terdengar suara dering ponsel Brian, kemudian Brian mengambil ponsel yang tidak jauh darinya, gadis rubah is calling.
Brian memandang kedua ponsel itu bergantian, dan seketika tersadar, ternyata My Beloved Husband adalah dirinya sendiri.
Pria itu tersenyum senang sambil memandang nama kontaknya di layar ponsel Aqira, "Ternyata gadis rubah itu sudah tergila gila padaku. Itu sudah pasti, memangnya wanita mana yang sanggup menolak pesonaku." ucap Brian dengan percaya diri.
Aqira bergidik melihat kenarsisan Brian pagi ini, ternyata dari pintu kamar mandi dia sudah memperhatikan tingkah Brian sedari tadi.
"Kau terlalu percaya diri tuan Brian." Aqira mengejutkan Brian.
"Heh sejak kapan kau di sana?"
"Memangnya ada yang salah? Bukankah itu fakta? Tidak ada seorangpun yang bisa menolak pesona seorang Brian Charles, bahkan kau sendiri pun tergila gila padaku."
"Iiih... jangan terlalu narsis tuan muda Brian, siapa yang tergila gila padamu?" ucap Aqira dengan nada jengah.
"Aku tidak narsis, kau memang tergila gila padaku, tidak usah malu mengakuinya."
"Mana ada!" Aqira mencebik kesal.
Brian mengarahkan layar ponsel di depan wajah Aqira, "Ini buktinya." kemudian tersenyum penuh kemenangan saat melihat perubahan wajah Aqira. "Ya ampun, aku lupa mengubahnya." rutuk hati Aqira.
"Jangan berpikir terlalu jauh, bukan aku yang membuat itu!"
"Lalu siapa?" tersenyum seolah tidak percaya.
"Tanyakan saja pada Mommy." Aqira bergegas ingin turun ke dapur.
"Kenapa Mommy?"
"Karena Mommy yang membuatnya." Aqira mulai jengah melihat tingkah konyol sang suami.
"Jadi bukan kau?"
"Tentu saja bukan aku. Minggir aku mau ke dapur." menggeser tubuh Brian yang sedari tadi meghalanginya pergi.
"Dari tadi kau selalu membentakku, kau sudah mulai berani rupanya."
Kepala Aqira mendongak, menatap pria jangkung itu, "Jangan mengajakku bicara, aku masih marah padamu!"
__ADS_1
"Kenapa marah, hei kau tidak punya hak marah padaku, aku ini tuanmu."
"Kenapa tidak, tadi kau menuduhku selingkuh, aku tidak terima itu." Aqira mencebikkan bibirnya.
"Terserah aku mau menuduhmu, di sini aku bosnya.
"Lagipula kalau kau marah memangnya apa yang akan kau lakukan padaku, hmm?" ucap Brian terkekeh.
Aqira terlihat memikirkan sesuatu, "Aku akan menjualmu ke tempat pelelangan ******." Aqira tergelak membayangkannya, sehingga tawanya pecah seketika.
"Kau...berani sekali kau. Dari mana kau tau tentang itu semua huh?
Dasar gadis liar, ternyata kau tidak sepolos yang kukira." Brian menggeram kesal. Dan bersiap akan menangkap Aqira yang hendak lari.
Tapi gagal, gadis itu terlalu licin hingga dapat meloloskan diri dari Brian.
Aqira menjulurkan lidahnya ke arah Brian, "wekk tidak kena." lalu tertawa puas meninggalkan Brian.
Tawa Aqira masih berlanjut sampai di dapur, akhirnya setelah sekian lama dia bisa membalas pria itu.
Sedangkan di kamar, Brian tersenyum melihat kepergian Aqira. Walaupun dirinya dibuat kesal, tapi dia senang Aqira bisa tersenyum seperti itu, hatinya selalu berbunga bunga setiap melihat senyuman manis gadis itu.
Brian tersadar, dari tadi dia senyum senyum sendiri. Brian baru ingat, sejak menikah dengan Aqira, dirinya lebih sering tersenyum dan bahkan tertawa lepas, sedikitbanyak gadis itu telah mengubah sifat Brian.
Brian terkadang memikirkan ingin membuka hatinya untuk Aqira, tapi bagaimana dengan Jessi, gadis masa lalunya yang masih bersemayam dalam hatinya.
Padahal Brian ga tau kalau Aqira udah menguasai hatinya๐๐
Dasar Brian masa lalu kok diingat terus.
Masa depan tuh yang dipandang, udah cakep, pinter, masih muda lagi๐๐.
Kelamaan ya upnya, maaf hehe๐ tadi ketiduran sampe lupa bangun.
Dukung vote Brian sama Aqira ya guys.
Menunggu update, baca juga novel terbaruku, dijamin seru. Monggo mampir.
Udah ngantuk, lanjut tidur lagi kuy๐
.
.
.
.
.
.
.
.
Love you all๐๐
__ADS_1