
Siang ini, sesuai janjinya dengan Jessi, Aqira akan bertemu di tempat mereka biasa bertemu.
Kali ini Aqira pergi bersama Sindy, niat awalnya yang ingin memperkenalkan Sindy kepada Jessi, kini Aqira meminta Sindy untuk berpura-pura saja.
"Dimana wanita itu, kenapa lama sekali." rutuk Sindy tidak sabaran.
"Sabar, sebentar lagi dia pasti datang." ucap Aqira santai tetapi matanya tidak lepas dari ponselnya. Suaminya sedari tadi mengirimi pesan, mengingatkan Aqira agar berhati-hati kepada Jessi.
"Aku tidak bisa bersabar lagi, tanganku sudah panas ingin mencakar wajah wanita picik itu." geram Sindy.
Setelah Aqira menceritakan tentang kepulangan Jessi, Sindy yang jadi panas dibuatnya. Gadis itu menjadi geram sendiri, ingin sekali menghajar wanita itu.
"Hei jaga sikapmu nanti, ingat tadi aku bilang apa?" kesal Aqira akan tingkah absurd teman baiknya ini.
Sindy berdecak, "Iya iya. Aku mengerti." ketus Sindy.
Tak berapa lama kemudian, Jessi datang menghampiri Aqira dan Sindy yang menunggunya.
"Hai Aqira.." sapa Jessi begitu duduk di kursi antara Aqira dan Sindy.
"Hai Jessi." sapa Aqira. Senyum yang tulus yang biasa Aqira gunakan pada Jessi sekarang tidak nampak lagi. Hanya senyum paksaan menghiasi wajah cantik itu.
Aqira menjadi sedikit risih ketika mengetahui ada niat terselubung dalam hati wanita itu.
Jessi melirik Aqira dan Sindy bergantian, seakan mengerti Aqira memperkenalkan Sindy.
"Jessi, kenalkan ini Sindy, teman baikku sekaligus teman satu kelasku. Sindy, kenalkan, ini Jessi, dia.." Aqira sedikit bingung memperkenalkan Jessi sebagai apa, Mantan suaminya?
"Teman baru Aqira." Jessi menyahut, lalu mengulurkan tangan kanannya ingin menjabat Sindy.
"Jessi.. senang bertemu denganmu." ucap Jessi dengan senyum cerianya.
Sama seperti Aqira, Sindy juga sama terpesonanya akan paras cantik Jessi, dan sifat cerianya yang membuat Sindy tidak percaya jika wanita ini adalah seorang yang licik dan pandai bersandiwara.
Sindy tersenyum kikuk, "Aku Sindy, aku juga senang bertemu denganmu." ujar Sindy.
"Semoga kita menjadi teman baik nantinya." ucap Jessi.
Sindy mengangguk pelan, lalu menoleh kepada Aqira, sorot matanya memancar penuh tanya kepada teman baiknya itu.
Aqira hanya mengangkat bahunya, menjawab tatapan Sindy.
"Ada apa?" sambar Jessi karena melihat gelagat Aqira dan Sindy.
"Ah tidak ada apa-apa, Sindy hanya tersedak duri tahu yang dimakannya tadi." canda Aqira untuk menghilangkan ketegangan.
Jessi terkekeh geli mendengar candaan Aqira, "Kau bisa saja Aqira, tahu mana ada durinya." masih terkekeh.
__ADS_1
"Ada kok." sambar Sindy.
"Hah..?" bingung Jessi.
"Tidak ada kok hehe." Sindy tertawa hambar.
"Garing." cibir Aqira.
Sindy hanya melirik sinis teman baiknya itu.
"Oh ya Aqira, sejak kapan kalian berteman, kulihat kalian sepertinya sangat dekat." tanya Jessi memandang keduanya bergantian.
"Kami masih baru kenal, mungkin sekitar dua bulan yang lalu kita bertemu."
Ketiganya mengobrol dengan santainya.
Tidak ada gelagat yang mencurigakan dari Jessi pada pertemuan kali ini, bahasan mereka hanya sekitar pelajaran fashion designer yang sama-sama diminati ketiga wanita itu.
•••
"Kau yakin dia selicik itu?" cecar Sindy begitu mereka masuk ke dalam mobil.
"Mungkin ya, mungkin tidak."
"Kau ini, tidak jelas sama sekali." cibir Sindy.
Mobil melaju setelah Aqira menyuruh supir pribadinya mengantar Sindy terlebih dahulu.
Suamiku mengatakan bahwa dia sangat pintar bersandiwara, makanya gadis bodoh sepertimu bisa termakan sandiwara si Jessi itu." jelas Aqira.
"Heh kenapa aku yang bodoh.." protes Sindy.
"Karena kau termakan sandiwara Jessi."
"Hei bukankah kau yang lebih dulu termakan sandiwaranya, bisa-bisanya kau berteman dengan mantan kekasih suamimu." ujar Sindy kesal.
"Aku juga tidak tau, kenapa saat itu aku percaya begitu saja dengannya, wajah polosnya itu sungguh tidak cocok dengan sifat liciknya itu."
"Itu karena kau bodoh." sergah Sindy.
"Aku tidak bodoh!" protes Aqira.
"Kau sama saja dengan Brian!" kesal Aqira.
"Aku sama dengan Brian?" bingungnya.
"Aa~ aku tau, pasti Brian menyebutmu bodoh bukan. Brian benar, kau itu memang bodoh." Sindy tertawa mengejek.
__ADS_1
"Ck diamlah." manik wanita itu memutar jengah mendengar ejekan dari teman baiknya.
•••
Di sebuah apartemen yang terlihat cukup besar dan mewah, seorang wanita tengah duduk terkapar di karpet bulu di tengah ruangan itu.
Botol alkohol berserakan di sekitarnya.
Wanita itu meneguk botol minuman yang perlahan membuat kewarasannya menghilang.
"Brian.. maafkan aku, aku sungguh menyesal meninggalkanmu dulu.
Brian... kumohon maafkan aku..." racau wanita itu menyebut pria yang pernah ditinggalkannya dulu.
Ya, wanita itu adalah Jessi, sepulang menemui Aqira dan Sindy, Jessi memilih menghabiskan waktunya dengan minuman beralkohol.
Wanita itu sangat kacau, terlalu banyak masalah yang menimpanya saat ini.
Suaminya menceraikannya begitu saja setelah mendapat wanita lain yang lebih cantik dan lebih baik darinya, beberapa bulan yang lalu.
Setelah itu, orangtuanya membencinya karena telah diceraikan oleh suami br*ngs*knya yang kaya raya, menyebabkan ladang uang orangtuanya juga hilang begitu saja.
Padahal dulu, suaminya itu sampai mati-matian mengejar Jessi, yang saat itu sudah menjadi kekasih Brian.
Berbagai macam cara dilakukannya, hingga dia menunjukkan kekayaannya kepada Jessi yang tentunya membuat wanita itu tergiur.
Akhirnya Jessi menerima suaminya sebagai kekasih gelapnya dan pria itu dengan senang hati menerimanya, walau hanya menjadi selingkuhan.
Jessi yang sangat serakah tidak mau melepas Brian saat itu. Brian memang mapan, tapi masih kalah mapan dari kekasih gelapnya. Hanya saja wajah tampan yang dimiliki oleh Brian terlalu sayang untuk ditinggalkan begitu saja.
Saat itu Jessi memiliki dua sumber uang, yaitu dari Brian dan sang kekasih gelap.
Hubungan Jessi dan Brian sudah hampir sampai ke jenjang pernikahan, dan tentu saja kekasih gelapnya itu tidak tinggal diam.
Berbagai macam tawaran menggiurkan dijanjikan pria itu, asalkan Jessi tidak menikah dengan Brian dan ikut dengannya.
Jessi yang notabenenya seorang yang serakah dan pecinta uang, tentu saja tergoda akan tawaran itu.
Hingga akhirnya Jessi menemui Brian, memutuskannya tanpa alasan yang jelas sama sekali.
Beberapa bulan kemudian, Jessi menikah dengan kekasih gelapnya itu, di luar negeri. Awalnya hubungan mereka baik-baik saja, tetapi sifat tamak Jessi yang semakin merajalela, suka beroya-foya dan menghabiskan uang untuk hal yang tidak perlu, perlahan membuat suaminya muak.
Dan akhirnya menceraikan wanita tamak itu begitu saja.
Setelah bercerai dengan suaminya, hidup Jessi menjadi tidak jelas, tidak ada uang yang akan difoya-foyakannya lagi.
Sampai dia mendengar Brian, mantan kekasihnya, kini menjadi seorang pengusaha sukses di negaranya. Jessi menjadi sumrigah dan berniat kembali lagi kepada Brian.
__ADS_1
Tapi Jessi terkejut bahwa ternyata Brian sudah menikah, tidak ada lagi harapan untuknya, tapi semua itu ditepisnya. Jessi bertekad akan merebut kembali hati Brian.
"Aku bersumpah, aku akan merebut Brian kembali padaku, Brian hanya milikku...!" racau Jessi sebelum akhirnya kesadarannya menghilang.