JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Percaya Pada Kak Brian..


__ADS_3

Happy Reading


"Nona..nona..?" suara bariton orang itu memanggil-manggil Sasha.


Mata gadis itu tidak beralih sama sekali, dirinya seakan terhipnotis akan ketampanan pria ini.


Sampai panggilan ketiga, barulah Sasha tersadar akan lamunannya.


"Ah maaf maaf." Sasha menjauhkan diri dari pria itu.


"Tidak apa-apa Nona, saya yang kurang berhati-hati." ucap pria itu.


"Sekali lagi maaf Nona, saya sedang terburu-buru. Saya permisi dulu." ujar pria itu dengan sopan. Kemudian berlalu dari hadapan Sasha yang masih terhipnotis.


Sasha tersadar saat menyadari pria itu sudah pergi, "Aduh aku lupa berkenalan dengannya." rutuk Sasha. Menatap punggung pria itu yang sudah hilang dari pandangannya.


"Wah pria itu tampan sekali, baru kali ini aku melihat pria setampan dia. Bahkan dia lebih tampan dari Kak Brian." Sasha kembali membayangkan wajah pria itu, mematri ketampanan itu di dalam otaknya agar tidak mudah lupa.


"Pangeran tampanku, kuharap kita bertemu lagi." lirih Sasha sambil melanjutkan langkahnya.


"Kakak ipar sudah selesai makan?" Sasha mendudukkan bokongnya di kursinya tadi.


"Sudah. Kau lama sekali." gerutu Aqira.


"Hehe maaf Kak. Soalnya tadi aku bertemu pangeranku, makanya lama." Sasha cengar-cengir membayangkan wajah tampan pria yang menolongnya tadi.


"Pangeran tampan?"


"Sst.. jangan keras-keras. Aku akan mengenalkannya kepada kakak ipar. Tapi nanti setelah aku bertemu lagi dengannya." ujar gadis itu yang kembali dengan khayalannya.


"Heh.. kau ini." menepuk tangan Sasha.


"Jangan mengkhayal di siang bolong seperti ini." kesal Aqira melihat adik iparnya yang suka berkhayal ini.


Sasha mengerucutkan bibirnya sambil mengelus tangannya yang dipukul Aqira tadi.


"Aku tidak mengkhayal Kak... aku sungguh bertemu dengan pangeranku tadi."


"Sudah diamlah, aku tidak percaya. Lanjutkan saja makanmu itu." mengalihkan matanya ke ponselnya yang berdering.


Wah Brian mengiriminya pesan, Aqira senyam-senyum membalas pesan dari suaminya, tanpa mempedulikan Sasha yang menggerutu sambil memakan makanannya.


Beberapa saat kemudian, keduanya bersiap akan meninggalkan foodcourt itu. Tapi tidak jadi karena Aqira menahannnya.

__ADS_1


Wanita itu teringat sesuatu, lalu mengajak Sasha duduk kembali.


"Ada apa Kak?" tanya Sasha bingung.


Aqira merogoh slingbagnya, mencari-cari sesuatu yang dibawanya dari rumah.


Wanita itu mengeluarkan sebuah kertas yang terlihat kusut massai.


Merapihkannya lalu menyodorkannya kepada Sasha.


"Sasha.. apa kau mengenal wanita di foto ini?" tanya Aqira hati-hati.


Ya itu adalah foto yang ditemukannya dari dompet Brian.


Setelah memikirkan matang-matang, Aqira memutuskan untuk bertanya langsung pada orang-orang terdekat suaminya saja.


Karena mereka pasti lebih tahu mengenai suaminya.


Aqira memilih Sasha karena dia tau, gadis ini adalah orang yang jujur dan masih sangat polos. Jadi akan lebih mudah mengorek informasi dari gadis polos ini.


Sasha terpaku melihat foto itu, walaupun sudah terlihat kusut, tapi dia tau betul gambar siapa yang ada dalam foto itu.


"Jessi..?" lirih Sasha.


Sasha mengalihkan pandangannya pada Aqira, "Dari.. dari mana kakak dapat foto ini?" mata gadis itu menampakkan ketidaksukaan pada wanita dalam foto.


"Aku menemukannya dari dompet Brian, apa kau mengenal wanita ini? Dia pasti mantan kekasih Brian bukan?" cecar Aqira penasaran.


"Dari mana kakak tau?"


"Kau lihat ini?" Aqira membalikkan foto itu, menunjukkan tulisan yang kembali membuat hatinya seperti tersayat-sayat.


Sasha membulatkan matanya, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Sasha menatap sendu pada Aqira, dia begitu kecewa pada kakak laki-lakinya itu.


Sasha pikir Brian sudah melupakan kekasih masa lalunya itu, dan sudah mencintai wanita yang ada di depannya ini.


Melihat bagaimana posesifnya Brian terhadap Aqira membuat Sasha berpikiran seperti itu. Tapi nyatanya tidak, pria itu masih saja terjerat akan masa lalu kelamnya itu.


"Sasha kenapa kau diam, katakan padaku siapa wanita ini." suara Aqira terdengar parau, mencoba menahan tangisnya yang tercekat.


Wanita itu sudah dapat melihat bahwa berita buruk yang akan disampaikan sang adik ipar.

__ADS_1


Tapi ditahannya, dia ingin mendengar penjelasan dari Sasha sendiri.


Sasha meraih tangan Aqira, menggenggam erat, seolah menyalurkan kekuatan pada wanita itu.


Dengan hati-hati, Sasha menceritakan semuanya kepada Aqira.


Mulai dari hubungan Brian dengan wanita bernama Jessi dalam foto itu, sampai kandasnya hubungan mereka dan sampai sekarang Brian masih belum bisa melupakan kekasih masa lalunya itu.


Aqira mendengarnya dengan seksama, tapi tidak luput air mata wanita itu telah teurai membasahi wajahnya.


"Kakak ipar, aku mohon, kuatkan dirimu." Sasha mengusap-usap bahu Aqira. Gadis itu mengerti bagaimana perasaan kakak iparnya itu.


"Sasha... kalau Brian belum bisa melupakannya, tapi kenapa Brian bersikap seperti ini padaku, kenapa dia bersikap seolah-olah dia benar-benar mencintaiku?" Aqira terisak.


Sasha memeluk Aqira, tatkala air mata gadis itu juga ikut jatuh, melihat kakak iparnya menangis seperti ini.


"Kak aku mohon percaya pada Kak Brian. Kak Brian sungguh mencintai kakak, aku tau sangat mengenal sifat kak Brian. Jika dia bilang benci, berarti dia memang benci, dan jika dia bilang cinta, berarti dia memang benar-benar cinta." ujar Sasha.


"Aku tidak tau harus bagaimana Sasha, aku bingung, apa aku harus percaya atau tidak. Aku sangat bingung." lirihnya.


"Kak.. aku rasa, kakak perlu menanyakannya langsung kepada kak Brian. Supaya semuanya lebih jelas, kak Brian pasti punya jawaban yang tepat untuk menjawab segala pertanyaan-pertanyaan dalam hati kakak." ujar Sasha sambil mengusap punggung wanita itu.


"Maksudmu?" melepas pelukan Sasha.


"A.. aku tidak bermaksud membela Kak Brian, tapi mungkin saja Kak Brian lupa mengambil foto itu dari dompetnya Kak. Makanya kusarankan kakak tanyakan pada Kak Brian agar semua lebih jelas." tutur Sasha, tangannya bergerak mengusap air mata wanita itu.


Aqira hanya terdiam, memikirkan saran dari adik iparnya. Keraguannya kepada suaminya kini meliputi hati wanita itu.


"Sudah Kak, jangan menangis lagi." sambil menepuk-nepuk bahunya.


Setelah beberapa menit meluapkan tangisnya, keduanya memutuskan untuk pulang.


Sasha menggagalkan rencananya untuk membeli perlengkapan sekolahnya. Sekarang yang terpenting adalah kondisi perasaan kakak iparnya.


Aqira permisi ke toilet sebentar sebelum keluar dari mall itu.


Aqira membasuh wajahnya yang sembab lalu memperbaiki riasannya yang berantakan.


Sebelum keluar Aqira menghubungi Sindy, teman baiknya.


Setelah berbincang sebentar Aqira keluar dari toilet menghampiri Sasha yang menunggunya.


Terlebih dulu Sasha mengantar Aqira pulang ke rumah Brian setelah itu kembali ke mansion.

__ADS_1


__ADS_2