
LIKE DULU SEBELUM BACA
"Ti tidak ada." jawab Aqira gugup.
Brian menatap Aqira tidak percaya.
"Aku tidak memikirkan apa-apa." ujar Aqira cepat.
"A aku mengantuk." Aqira semakin gugup karena Brian masih terus menatapnya intens.
Aqira memejamkan matanya, tapi merasa terganggu Brian masih terus menatapnya. "Sayang jangan menatapku seperti itu." ujar Aqira lalu membuka matanya.
"Kenapa kau tidak mau jujur padaku?" tanya Brian tiba-tiba tetapi penuh penekanan, seakan menghujam Aqira.
"A aku.."
"Apa yang sedang kau sembunyikan dariku?" suara Brian terdengar seperti membentak.
"A aku tidak menyembunyikan apapun darimu." ucap Aqira takut. Tatapan suaminya tidak selembut seperti biasanya. Tatapan itu mengingatkan Aqira ketika pertama kali bertemu Brian.
Brian mendesahkan nafasnya kasar, lalu melepas pelukannya dari tubuh Aqira. "Terserah kau saja." ujar Brian sebelum membalikkan tubuhnya membelakangi Aqira.
Brian kesal dengan Aqira yang tidak mau jujur kepadanya. Sejak Aqira bertemu dengan Jessi terakhir kali, sikap Aqira sedikit aneh menurut Brian.
Pria itu beberapa kali mendapati Aqira melamun dengan tatapan kosongnya. Hal itu menimbulkan pertanyaan dalam benak Brian.
Dan sekarang ketika Brian menanyakannya, Aqira malah tidak jujur padanya.
__ADS_1
Aqira terdiam melihat Brian tiba-tiba melepas pelukannya, dan semakin sedih saat Brian tidur membelakanginya.
Wanita itu tidak menyangka Brian akan marah akan ketidakjujurannya.
Belum juga Aqira memberitahukan perbuatannya Brian sudah semarah ini, lalu bagaimana jika Brian sampai tau, Aqira tidak dapat membayangkan.
"Sayang...." panggil Aqira pelan.
Tapi Brian seolah tuli, tidak menyahut sama sekali.
"Sayang aku sungguh tidak menyembunyikan apapun darimu." ucap Aqira.
Sia-sia, Brian tetap bungkam.
Aqira mengangkat tangannya, menyentuh punggung kekar Brian yang terpampang di hadapannya.
Aqira tak kuasa menahan air matanya yang sedari tadi menggenangi sudut matanya. Tangannya perlahan menelusup ke tubuh Brian, memeluk tubuh kekar itu dari belakang.
"Percaya padaku." cicit Aqira pelan seraya menenggelamkan wajahnya di balik punggung Brian.
Isakan kecil terdengar samar dari Aqira, sungguh Aqira sangat sedih Brian mengabaikannya.
Ingin sekali rasanya Aqira jujur pada Brian, tapi rasa takut kehilangannya lebih besar dari apapun.
Lebih baik Brian mendiamkannya dari pada Brian akhirnya meninggalkannya.
Hampir setengah jam Aqira menangis di balik punggung Brian hingga akhirnya tertidur begitu saja, selama itu pula Brian tetap terjaga mendengar isakan Aqira.
__ADS_1
Dengan pelan Brian melepas tangan Aqira yang melingkari perutnya, lalu membalikkan tubuhnya menghadap wanita itu.
Dapat Brian lihat wajah wanita itu yang sembab, dengan penuh kasih sayang Brian mengusap sisa air mata itu.
"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku." lirih Brian kemudian memeluk tubuh mungil itu erat.
Paginya Aqira terbangun, tetapi tidak mendapati Brian di sampingnya. Wajahnya menjadi murung, karena biasanya setiap bangun tidur Brian selalu di sampingnya menatapnya dengan tatapan cinta.
Bertepatan dengan itu pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Brian dengan sehelai handuk melingkar di pinggangnya.
"Sayang kau sudah mandi?" sapa Aqira sambil mendekati Brian.
"Hem." jawab Brian singkat lalu berjalan ke walk on closet, meninggalkan Aqira yang terpaku dibuatnya.
Brian masih marah padanya.
Dengan lesu Aqira melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Setelah limabelas menit Aqira selesai dengan ritual mandinya.
Dia tidak mendapati Brian di kamar lagi, mungkin sudah turun pikirnya. Dengan buru-buru Aqira memakai pakaiannya dan bersiap ke kampus.
Kemudian turun ke lantai bawah, menuju ruang makan.
"Bi Suamiku dimana?" tanya Aqira pada Bi Lusi yang sedang menyiapkan makanan.
"Tuan sudah berangkat limabelas menit yang lalu Nona." jawab Bi Lusi.
__ADS_1