
Selamat membaca
Jangan lupa votenya yah😀
"Terima kasih sudah mengantarku Kak Hans." ucap Aqira tersenyum pada Hans.
Kini mobil Hans berhenti tepat di depan rumah Brian.
"Iya, kalau aku punya waktu aku akan mengajakmu lagi."
"Terima kasih Kak, lain waktu kita pergi lagi.
"Kalau begitu, aku turun dulu." sambil membuka sabuk pengamannya.
"Sampai jumpa Kak, hati hati di jalan." Aqira melambaikan tangannya saat sudah keluar dari mobil Hans.
"Iya, sampai jumpa manis. Aku pergi dulu." pamit Hans lalu melajukan mobilnya perlahan.
Di dalam mobil, Hans sedang memikirkan Aqira, gadis yang telah mencuri hatinya.
"Sayang sekali gadis sebaik dirimu menikah dengan lelaki ******** seperti Brian, kalau saja aku lebih dulu bertemu denganmu, pasti kau akan bahagia saat ini." lirih Hans yang masih fokus dengan kemudinya.
"Bersabarlah Aqira, setelah kalian berpisah nanti, kupastikan kau akan menjadi milikku dan kita akan bahagia bersama selamanya." tiba tiba pandangannya melembut saat membayangkan wajah Aqira.
Sampai di kamar Aqira merebahkan tubuhnya di atas ranjang, "Hmm.. empuknya, ternyata tuan muda itu tidur nyaman di sini, sedangkan aku tidur di sofa sempit sana. Aku ingin tidur di sini sebentar saja sebelum Brian pulang."
Aqira terbaring sambil menatap langit langit kamar itu, "Huh, sampai kapan aku bisa bertahan dengan lelaki itu? Brian, kapan kau akan memandangku sebagai wanita baik baik? Selama ini kau selalu berburuk sangka padaku dan selalu menuduhku." memejamkan matanya yang sudah berlinang air mata.
"Brian, aku mencintaimu.." lirih Aqira sebelum terlelap ke alam bawah sadarnya.
Kembali Aqira merasakan sakitnya tidak dihargai sebagai seorang istri. Bagaimana tidak, Brian tidak pulang lagi selama tiga hari ini dan tidak memberinya kabar sama sekali.
Membuat hati gadis itu gundah selama beberapa hari ini, antara rasa takut dan rindu yang mendalam.
Kemana dia pergi sebenarnya, apa dia bersama wanita waktu itu? Kenapa tidak mengabariku sama sekali.
Hah Aqira, jangan bodoh. Untuk apa dia memberitahumu kemana dia pergi, kau tidak dianggap Aqira.
Ingat! kau hanyalah istri sementara, dia akan segera menceraikanmu, jadi jangan terlalu berharap terhadap pria itu. gumamnya merutuki dirinya sendiri.
Aqira sedang duduk di balkon kamarnya malam ini, seperti biasa jika sendiri di rumah gadis itu akan menghabiskan waktunya di sana.
Aqira yang terlalu larut dalam pikirannya, sampai tidak menyadari mobil Brian yang memasuki gerbang rumahnya.
Brian turun dari mobil, melangkahkan kakinya cepat, ingin segera segera menemui istri kecilnya dan memberikan pelajaran pada sang istri.
Mengingat foto Aqira dengan pria lain tempo hari membuat emosinya kembali memuncak.
Brian sengaja menyuruh salah satu orangnya untuk mengawasi Aqira selama dia pergi keluar kota. Dia hanya penasaran kemana gadis itu pergi tempo hari tanpa memberitahunya, dan tidak disangka ternyata istrinya pergi denga pria lain, terlebih lagi Brian mengenal pria itu.
__ADS_1
Brian menaiki anak tangga dengan tergesa gesa, sampai di atas lalu membuka pintu kamarnya dengan kasar sehingga menghasilkan dentuman yang memekakkan telinga.
Brian menyusuri kamar itu, tidak ada Aqira di sana, kemana gadis rubah itu, atau jangan jangan dia masih bersama pria itu? Dasar gadis murahan!! emosi Brian kian memuncak membayangkan Aqira masih bersama Hans saat ini.
Aqira yang terkejut karena suara pintu kamarnya di dorong paksa, segera bangkit dari duduknya bergegas masuk ke dalam kamarnya. Mata Aqira seketika menjadi sendu melihat sang suami sudah kembali ke rumah. Kerinduannya yang ditahan beberapa hari ini akhirnya terbayarkan sudah, ingin sekali rasanya gadis itu memeluk tubuh kekar pria itu, tapi apalah daya dia tidak seberani itu melakukan hal yang akan membuat pria itu marah.
"Kau sudah pulang?" tiba tiba suara lembut menyapa pria itu dari arah pintu balkon. Gadis yang telah membangkitkan amarahnya tengah berjalan ke arahnya sambil tersenyum manis.
Melihat senyum manis Aqira, membuat pandangan Brian melembut seketika cantik sekali gumamnya. Tapi sekelebat bayangan istrinya dengan Hans dengan cepat mengubah emosi Brian, amarah pria itu kembali panas dan langsung mencengkeram lengan Aqira yang saat itu ingin mengambil jas yang ada di tangannya.
"Auu.. ka..kau kenapa..?" pekik Aqira saat Brian meremas kuat lengannya.
"Lepaskan...sakit sekali..." Aqira meringis tertahan karena Brian semakin kuat mencengkeram lengannya.
"Kenapa? Sakit hmm..? Hukumanmu selanjutnya akan lebih parah dari ini." ucapan Brian yang penuh penekanan dengan wajahnya yang sangar membuat Aqira ketakutan.
"Hu...hukuman apa maksudmu....aku tidak melakukan kesalahan apa apa..." cicit Aqira.
"Kau tidak melakukan kesalahan? Lalu ini apa?" melemparkan beberapa lembar foto saat Aqira bersama Hans.
"Beraninya kau menemui pria lain di belakangku!!" mencengkeram dagu Aqira.
Aqira terkejut saat melihat fotonya saat bersama Hans, "Kau mengawasiku?"
"Tentu saja, kau pikir kau bisa bebas dari pandanganku?"
"Apa maksudmu?" tidak terima disebut murahan.
"Jangan pura pura bodoh, aku tau bagaimana permainanmu, kau ingin menjerat laki laki kaya seperti kami, iya kan?"
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, aku tidak pernah punya niat seperti itu, jangan selalu menuduhku!" ucap Aqira terisak tak kuasa menahan air matanya.
"Aku tidak menuduh, itu memang kenyataannya!" membentak Aqira.
"Katakan, apa hubunganmu dengan pria itu hmm..?"
"Kami tidak ada hubungan apa apa, kami hanya teman..." ucapnya masih dengan tangisnya.
"Aku tidak percaya!"
"Mulai besok kau tidak boleh keluar rumah tanpa seizinku dan jangan pernah sekali kali menemui pria itu maupun pria lain, ingat itu!" lalu menghempaskan wajah Aqira dengan kasar.
"Kenapa?" menatap Brian dengan menantang.
"Kenapa...?"
"Iya, kenapa? Kenapa kau melarangku bertemu pria lain? Bukankah kau sendiri yang mengatakan untuk tidak mencampuri urusan kita masing masing, tapi kenapa sekarang kau mempermasalahkannya? Kenapa!!?" teriak Aqira yang geram dengan sikap Brian.
"Heh, jaga cara bicaramu gadis rubah, aku hanya tidak suka sesuatu milikku disentuh orang lain, kau ingat itu!" terkekeh pelan dengan senyum licik.
__ADS_1
"Milikmu?"
"Selama kau masih menjadi istriku, kau tidak boleh bebas bertemu dengan pria lain, awas saja kalau kau berani melanggar, aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang!!" Lalu meninggalkan Aqira menuju kamar mandi.
Setelah kepergian Brian, Aqira terduduk lemas di lantai dengan air matanya yang sudah berlinang. Aqira menangis tersedu sedu sambil menelungkupkan wajahnya di atas lantai.
"Ayah..., ibu... pria macam apa yang kunikahi ini..." lirihnya disela tangisannya dan tanpa sadar Aqira sudah terlelap tidur di atas lantai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hi I am come back😀😀
Mohon maaf sebelumnya, beberapa hari terakhir kemarin aku slow update, dikarenakan banyak tugas tugas kuliah yang harus cepat cepat diselesaikan.
Sekali lagi maaf yaa semuanya🙂
Jangan lupa like, coment and vote ya
Votenya yang banyak😁
.
.
.
.
.
.
Love you all😘😗
__ADS_1