
LIKE DULU SEBELUM BACA
Sebenarnya Hans cukup terkejut saat pertama kali masuk, karena ternyata Aqira juga ikut sakit.
"Cih tidak tau malu." kesal Brian dengan menatap tajam Hans.
Ingin sekali Brian memaki Hans saat itu, tapi Aqira segera menenangkan, membuat niatnya itu gagal.
"Tunggu tunggu...bukankah kau Hans? Hans Marcus?" tanya Darman antusias.
Hans mengangguk, "Benar Paman, saya Hans."
"Ooo jadi namanya Hans..." gumam Sasha dalam hati.
Sindy yang melihat bagaimana reaksi Sasha ketika melihat Hans, merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Sindy. Apakah Sasha juga menyukai Kak Hans, pikirnya. Entah mengapa Sindy seperti tidak rela jika Sasha ternyata juga menyukai Hans.
"Wah.. Hans, sudah lama tidak bertemu ya, terakhir kali saat kontrak kerja sama kita yang ada di luar kota." ucap Darman seraya menepuk bahu Hans.
Mereka terlihat akrab, karena perusahaan keduanya sering menjalin kerja sama yang tentunya menguntungkan kedua belah pihak.
"Ya..Paman benar." jawab Hans membalas dengan senyuman.
__ADS_1
Sasha benar-benar tidak tau malu saat itu. Gadis kecil itu, terang-terangan menatap Hans dengan tatapan memuja.
"Sasha, kenapa melihat Hans seperti itu?" bisik Risa kepada putri bungsunya itu.
Sasha tersadar, kemudian memperbaiki posisinya, tetapi mata bulatnya itu tiada henti menatap Hans.
"Oh ya, kau mengenal menantuku juga?" tanya Darman.
"Iya Paman, kami teman dekat." ucap Hans sengaja, seraya menatap Aqira dengan tatapan penuh arti.
"Bagaimana keadaanmu Aqira?" tanya Hans lembut kepada Aqira.
Aqira membalas senyuman itu, "Sudah lebih baik Kak. Terima kasih Kak Hans sudah menjengukku." jawab Aqira.
"Brian!" Darman kesal. "Kau ini tidak sopan sekali!"
Brian berdecak kesal, "Kalian semua keluarlah, terlalu banyak orang di ruangan ini. Istriku masih harus istirahat." usir Brian.
"Sayang!" kesal Aqira.
Tapi Brian tidak menghiraukannya.
__ADS_1
"Dasar tidak tau malu, bilang saja kau ingin bermesraan." ucap Risa kesal.
"Ayo kita semua keluar, tinggalkan anak tidak tau malu ini. Hans kita mengobrol di luar saja ya." ucap Risa sembari bangkit dari duduknya.
"Sayang, kalau dia berbuat macam-macam ketok saja kepalanya ya." ucap Risa kepada Aqira sambil mengusap kepala menantunya.
Akhirnya mereka semua keluar dari ruangan itu, meninggalkan Brian dan Aqira di sana.
Sasha mencibir Brian sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kau ini benar-benar..." kesal Aqira kepada Brian.
"Biarkan saja sayang, aku masih ingin berduaan denganmu." jawab Brian dengan senyum menyebalkan.
Hans dengan wajah kecewa mau tidak mau ikut keluar dari sana. Padahal tujuan utamanya kemari adalah ingin melihat Aqira. Dia sangat merindukan wanita itu karena dua minggu ini dia tidak bertemu Aqira sama sekali. Dan sungguh tidak menyangka bahwa ternyata Aqira sedang sakit.
Hans duduk di kursi tunggu di antara Sasha dan Sindy. Darman dan Risa batu saja permisi ke dokter, karena tiba-tiba Risa merasakan pusing lagi.
"Kakak temannya Kak Aqira?" celetuk Sasha tiba-tiba kepada Hans.
"Eh..." Hans terkejut. "Iya, kami berteman baik." jawab Hans tersenyum.
__ADS_1
Hans memang ramah terhadap semua orang dan mudah tersenyum, membuat banyak orang-orang menyukainya walau baru bertemu.
Sasha seakan dibuat melayang melihat senyuman itu, manisnya, batin gadis itu.