JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Dia Milikku


__ADS_3

Happy Reading


Like dulu sebelum baca


Ajak yang lain baca juga ok 😀


Kini Aqira duduk di depan meja riasnya, bibir gadis itu tiada hentinya menggerutu sejak keluar dari kamar mandi.


"Tidak bisakah bibirmu itu berhenti menggerutu? Atau mau kuremukkan saja bibirmu dengan ciuman mautku?" Brian memutar bola matanya jengah, yang sedari tadi mendengar gerutuan Aqira yang tidak berhenti.


Pria itu sedang mengeringkan rambut panjang istrinya menggunakan hairdryer.


"Bagaimana aku tidak kesal, kau menahanku berjam-jam di kamar mandi. Lihat tanganku sampai keriput karena terlalu lama di air dan juga perutku lapar sekali, kau tidak memberiku makan sama sekali. Dasar menyebalkan." Aqira bangkit, lalu berjalan keluar dari kamar menuju dapur.


Brian menoleh ke arah jam dinding, sudah jam delapan malam, dia baru ingat mereka belum makan satu hari ini.


Akibat terlalu sibuk menjamahi tubuh istrinya membuatnya sampai lupa makan.


Brian mengejar istrinya menuju dapur, lalu duduk di samping Aqira yang sudah duduk di meja makan.


"Maafkan aku. Aku sampai lupa kalau kau belum makan seharian. Sini biarkan aku menyuapimu." Brian mengambilalih sendok dari tangan Aqira, lalu menyuapi Aqira dengan lembut.


Aqira pasrah saja, dirinya terlalu lemas jika harus meladeni Brian berdebat.


Bi Lusi tersenyum kecil melihat perhatian majikannya itu, dia lega akhirnya Nona mudanya tidak menderita lagi.


"Besok pulang kuliah jam berapa?" tanya Brian sambil memandangi wajah istrinya yang hampir terlelap di depannya. Pria itu menggunakan siku tangannya sebagai tumpuan kepalanya, agar leluasa melihat wajah Aqira.


"Em.. sepertinya cepat, jadwal kuliahku kebanyakan pagi, makanya aku selalu pulang cepat." jelas Aqira yang mendongakkan kepalanya untuk melihat suaminya.


"Kalau begitu besok aku akan menjemputmu, kita akan makan siang di luar."


"Makan siang?"


"Iya, kenapa? Kau tidak mau?"


"Tentu saja aku mau, siapa yang tidak mau makan siang dengan suamiku ini." Aqira memeluk pinggang Brian.


"Jangan menempel padaku, nanti kau membangunkan sesuatu."


"Membangunkan sesuatu?" bingung Aqira.


Brian geram dengan kepolosan Aqira, meski mereka sudah melakukannya, tetap saja kepolosan wanita itu tetap melekat dalam diri wanita ini.


"Sudahlah, anak bayi tidak akan mengerti." Brian menarik tubuh Aqira ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Brian lepas." Aqira menggeliat.


"Diam. Kalau tidak aku akan memakanmu sekarang juga."


Aqira langsung terdiam, takut jika sampai Brian melakukan itu lagi.


Dia jera, sudah cukup satu harian ini Brian menjamahinya, kalau sampai Brian melakukannya lagi, bisa-bisa dia pingsan nanti.


Melayani pria itu sungguh tiada habisnya, pria itu sangat gagah hingga membuat wanita itu kewalahan.


Akhirnya Aqira diam, membiarkan Brian memeluknya. Sedangkan Brian tersenyum tipis melihat kepatuhan Aqira. Pria itu juga tidak akan meminta Aqira melayaninya malam ini, dia kasihan, pasti gadis ini sudah sangat lelah.


•••


Aqira sedang fokus memperhatikan dosen yang sedang menerangkan di depan kelas.


Ponselnya tiba-tiba bergetar, Aqira mengambil dari dalam tasnya, sebuah pesan dari Brian.


Sayang, kelasmu sudah selesai? Datanglah ke parkiran setelah kelasmu siap, suamimu yang tampan ini ada di sana. Isi pesan Brian.


Aqira tersenyum membaca pesan dari Brian, suaminya sangat narsis.


Iya suamiku yang tampan, tunggulah limabelas menit lagi . Pesan terkirim.


Akhirnya kelas berakhir, Aqira dengan penuh semangat berjalan menuju parkiran, suaminya sedang menunggu di sana.


Aqira semakin mempercepat langkahnya, akan tetapi terhenti saat seseorang mencekal pundaknya, Aqira langsung berbalik untuk melihat orang itu.


"Dave...?" Aqira seketika panik saat Dave memegang tangannya, mata bulatnya celingukan menoleh ke arah Brian yang sudah keluar dari mobil dengan tatapan matanya yang tajam.


Niat Brian yang tadinya ingin membukakan pintu mobil untuk Aqira, tergantikan dengan niat ingin membunuh pria yang berani menyentuh istrinya.


"Lepaskan aku Dave...!" Aqira berusaha menarik tangannya dari cekalan Dave tapi tidak dibiarkan Dave sama sekali.


Pria itu malah menguatkan genggamannya.


"Kumohon Dave lepaskan aku." ucap Aqira panik saat melihat Brian mendekat dengan tatapan membunuhnya.


"Ada apa denganmu Aqira, kenapa kau begitu panik? Kau sakit?" Dave menjulurkan tangannya ingin menyentuh kening Aqira.


"Singkirkan tangan kotormu dari istriku!" suara Brian yang terdengar menahan amarah mengurungkan niat Dave.


"Lepaskan istriku!" Brian menarik tangan Aqira yang dicekal oleh Dave.


Tapi Dave tidak melepaskannya begitu saja, Dave malah semakin kuat menggenggam tangan Aqira.

__ADS_1


Suara Brian yang keras, kini mengalihkan pandangan orang yang ada di sekitar parkiran itu ke arah mereka bertiga.


"Maaf, paman siapa, kenapa mencampuri urusan orang lain?" Dave menatap tidak suka pada Brian.


"Hei bodoh, orang lain katamu? Dia istriku, tentu saja aku harus ikut campur. Lepaskan!" kembali menarik tangan Aqira.


"Suami? Yang benar saja paman, anda lebih cocok sebagai paman atau kakaknya, sadarlah paman, itu tidak mungkin." Dave terkekeh.


"Dave lepaskan. Dia memang suamiku!" Aqira menarik tangannya, tapi tidak lepas juga.


"Kau dengar sendiri bukan? Lepaskan tanganmu, sebelum aku sendiri yang memotong tangan busukmu itu."


"Aqira kau berbohong kan? Tidak mungkin dia suamimu.."


"Aku tidak berbohong, dia memang suamiku." tegas Aqira.


Dave mulai melongarkan genggamannya, rasanya ini sungguh tidak mungkin.


Baru kali ini pria itu merasakan jatuh cinta, tapi kenapa belum juga beberapa hari, ternyata cinta pertamanya sudah menikah.


Aqira langsung menarik tangannya, sesaat setelah merasakan genggaman Dave melonggar.


Brian dengan cepat meraih pinggang Aqira, menempelkan tubuh mereka dan tanpa aba-aba, pria itu membenamkan bibirnya ke dalam bibir Aqira.


Tidak memikirkan tatapan tercengang semua orang yang ada di parkiran itu.


Brian merengkuh tubuh Aqira erat, seolah memberitahukan kepada semua orang di sana, bahwa wanita ini adalah miliknya.


Brian melepas tautan bibir mereka, lalu menenggelamkan wajah Aqira yang sudah merah padam di dadanya.


Lelaki itu menatap ke arah orang-orang yang sudah berkerumun menonton pertunjukan gratis tadi.


Pertunjukan yang dibuat oleh pemilik kampus terlalu sayang untuk diabaikan.


"Hei kalian semua yang ada di kampus ini, ingat wajah ini." mengangkat kepala Aqira lembut, "Wanita ini adalah istriku, istri Brian Charles, jadi jangan sampai aku mengetahui satupun pria yang mendekatinya. Atau kalian akan berakhir buruk nantinya." ucap Brian dengan lantang, sambil menatap Dave yang masih membeku setelah melihat adegan ciuman tadi.


Brian tersenyum puas melihat raut wajah Dave yang berubah menjadi pias.


Kembali Brian menyembunyikan wajah Aqira di dadanya, dia tau wanita ini sudah sangat malu.


"Bubar!" perintah Brian kepada kerumunan orang yang sedari tadi menundukkan kepalanya hormat ke arah Brian.


"Pergilah bocah, jangan sampai aku melihatmu mendekati istriku lagi, bisa saja aku membuatmu menghilang dari dunia ini nanti. Kau sama sekali bukan tandinganku." ucap Brian sarkas kepada Dave.


Kemudian pria itu meraup tubuh mungil Aqira ke dalam gendongannya, membawa gadis itu masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Sedangkan Dave masih sama, tubuh pria itu seolah sulit untuk digerakkan.


Tidak tau lagi harus apa. Cinta pertamanya telah berpemilik.


__ADS_2