JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Harusnya Aku


__ADS_3

Happy Reading


Like dulu sebelum baca 😉😀


Brian dan Aqira kembali ke rumah mereka saat hari menjelang malam.


Setelah kegiatan panas mereka berakhir, Brian memutuskan untuk tinggal lebih lama di rumah orangtua istrinya.


Terasa nyaman dan damai menghabiskan waktu bersama istri tercinta di tempat ini.


Pada saat itu juga Aqira lebih banyak menceritakan kenangan-kenangan semasa kedua orangtuanya masih hidup.


Dan malah melupakan cerita tentang masa lalu Brian.


Sebelum keluar dari rumah, Aqira memandangi foto kedua orangtuanya yang tergantung di dinding ruang tamu.


"Sayang." pria itu tiada henti membelai surai hitam wanitanya.


Aqira mendongak, "Hmm..?"


"Kau tidak ingin membawa foto ayah dan ibu ke rumah kita?" sambil meremas tangan Aqira pelan.


"Bolehkah..?"


"Tentu saja boleh.. bawalah beberapa, agar mereka dapat selalu mengawasi kita.."


Brian tau pasti sulit bagi istrinya yang sudah kehilangan kedua orangtuanya di usianya yang masih belia ini.


Menurut Brian, dengan membawa foto ini, setidaknya dapat mengobati rindu istrinya kepada kedua orangtuanya.


Sungguh Brian sangat mengerti dirinya saat ini, dan dengan perasaan bahagia Aqira memeluk tubuh Brian.


"Terimakasih sudah mengerti perasaanku..." lirih wanita itu.


Brian membalas pelukannya, "Asal kau bahagia.." mengecupi kening wanita itu.


••••


"Sayang aku kuliah saja." rengek Aqira yang sedari tadi tidak mau diajak ke kantor suaminya.


"Tidak, kau harus ikut, temani aku di kantor." membukakan pintu mobil untuk wanita itu.


Aqira masuk ke mobil dengan wajah cemberut.


"Aku tidak mau bolos, dosenku yang masuk hari ini galak, nanti dia menghukumku."


rengeknya lagi.


"Siapa yang berani menghukum istriku huh, tenang saja aku akan mengurus semuanya.


Bahkan jika kau tidak kuliah pun tidak apa-apa, semuanya mudah untukku." ucapnya arrogant.


"Huh menyebalkan." Aqira mendengus kesal.


Setelah setengah jam perjalanan, keduanya sampai di kantor Brian.


Hampir semua pegawai yang mereka lewati menatap heran sekaligus bingung kepada Aqira.


Benar saja, karena ini adalah pertama kalinya Brian membawa seorang wanita ke kantor. Apalagi Brian memeluk pinggang Aqira dengan mesra.


"Sayang.. lepaskan, semua orang melihat kita.." bisik Aqira di telinga Brian.


Ternyata melakukan hal itu adalah sebuah kesialan bagi Aqira. Bisikannya telah membuat tubuh suaminya menegang, dan tanpa peringatan Brian menyergap bibir Aqira.


Melumati bibir gadis itu tanpa mempedulikan para pegawai yang terperangah sekaligus terkejut, melihat perbuatan bos mereka.

__ADS_1


Aqira mendorong dada Brian, membuat tautan bibir mereka terlepas.


Wajah Aqira memerah, dia seperti mengalami deja vu. Teringat akan hal sama yang dilakukan Brian di parkiran kampusnya.


"Kau gila!!" Aqira setengah berteriak.


"Kau yang menggodaku.." Brian menyeringai.


Aqira mendengus kesal, "Hanya bisikan saja kau sudah menciumku, dasar mesum!" gerutu Aqira pelan agar tidak di dengar para pegawai yang masih menonton mereka.


Brian terkekeh, lalu sedetik kemudian mengubah mimik wajahnya menjadi dingin kepada para pegawainya.


"Kalian perhatikan baik-baik wajah ini, wanita ini adalah istriku yang berarti nyonya pemilik perusahaan ini. Kalian harus hormat sama seperti kalian menghormatiku." ucap Brian dengan lantang.


"Ayo sayang.." menarik tangan Aqira memasuki lift khusus petinggi perusahaan.


Meninggalkan para karyawan yang terkejut akan pengakuan Brian.


Pasalnya mereka belum pernah mendengar bahwa boss mereka sudah menikah.


Ini akan menjadi kabar panas yang akan menggemparkan kantor hari ini.


Setelah lift tertutup, tiba-tiba suasana menjadi riuh. Karyawan-karyawan itu sibuk membahas peristiwa tadi. Banyak karyawan yang memuji Aqira, sebab dapat menaklukkan bos mereka yang terkenal dingin, mereka bahkan memberikan gelar kulkas tiga pintu atau gunung es untuk Brian.


Tetapi tidak bagi seorang wanita yang juga ikut menonton Aqira dan Brian sedari tadi.


Wanita itu menatap nanar tempat Aqira dan Brian berciuman tadi dan tempat dimana Brian memperkenalkan Aqira sebagai istrinya.


"Harusnya aku yang di sana.." lirihnya dengan air matanya yang sudah meluncur bebas dari sudut matanya.


Wanita itu tersadar ketika seorang petugas kebersihan menyapa wanita itu, agar dapat melakukan pekerjaannya.


Di dalam lift, Aqira merutuki perbuatan Brian saat di lobi tadi.


Sedangkan Brian, pria itu menikmati wajah kesal Aqira. Bahkan dia malah tertawa saat Aqira menggeram kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa padanya.


"Tertawalah.. tertawa sepuasmu sampai gigimu lepas.." geram Aqira.


Brian semakin mengeraskan tawanya, hingga suaranya membahana di dalam lift itu.


"Tapi ingat! Nanti malam kau tidur di luar..!" seketika tawa Brian berhenti.


"Sayang jangan.. sayang. Aku minta maaf, aku tidak akan tertawa lagi..."


Brian memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangannya dengan wajahnya yang memelas.


"Terlambat sudah!" sinis Aqira. Lift terbuka tepat waktu, Aqira meninggalkan suaminya di sana.


•••


Hari ini Sasha sedang berada di sekolahnya.


Gadis itu sedang duduk di kursinya sedang mengerjakan sesuatu. Padahal sedang jam istirahat, tetapi gadis itu enggan keluar dari kelas bersama teman-temannya.


Manik hitam gadis itu tiada henti memandangi lukisan yang baru saja diselesaikannya.


Gambar lukisan seorang pria tampan yang ditemuinya ketika di mall beberapa hari yang lalu.


Tidak sia-sia dia memiliki bakat untuk melukis, sehingga dia dapat melukis wajah pria itu persis seperti dalam bayangannya.


"Pangeranku.. kapan kita akan bertemu lagi." gumamnya sambil memandangi gambar lukisan itu.


"Hei kau.. apa yang kau lihat." tiba-tiba seorang temannya datang mengagetkan Sasha.


Sasha mendesis kesal, "Sima! Kau mengagetkanku saja." kesalnya.

__ADS_1


Temannya terkekeh, "Hehe maaf. Lagi pula kau senyum-senyum sendiri dari tadi seperti orang gila. Apa yang kau lihat?"


Sasha menyembunyikan lukisan itu di belakangnya, yang akan direbut oleh temannya.


"Tidak boleh. Ini rahasia negara. Tidak sembarang orang dapat mengetahuinya." ketus Sasha.


"Dasar pelit." dengus Sima lalu meninggalkan Sasha.


•••


Hari demi hari mereka jalani dengan damai.


Tidak terasa umur pernikahan Brian dan Aqira sudah memasuki bulan kelima.


Hubungan keduanya semakin erat seiring berjalannya waktu.


Brian juga sudah lebih jujur akan perasaannya dan selalu menceritakan keluh kesahnya kepada sang istri. Baginya tiada tempat curhat yang lebih nyaman dari Aqira.


Aqira kini juga sudah mengetahui bagaimana kisah cinta suaminya dengan Jessi di masa lalu.


Wanita itu turut bersedih atas apa yang telah dialami suaminya dulu.


Sakitnya ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, pergi begitu saja hanya karena kita tidak lebih baik dari orang lain.


Entah Aqira harus marah atau bersyukur menanggapi masa lalu suaminya itu.


Marah karena suaminya telah mengalami hal buruk di masa lalu atau bersyukur karena wanita itu meninggalkan suaminya sehingga dia bisa bersama suaminya sekarang ini.


Seperti biasa, Aqira selalu menghabiskan waktunya setiap sore dengan menikmati secangkir teh di balkon kamarnya.


Tempat yang dulunya dijadikannya sebagai tempatnya untuk menangis, melampiaskan sakit hatinya setiap Brian menyakitinya dulu.


Dari sana Aqira melihat sebuah mobil yang terlihat mewah memasuki gerbang rumahnya.


Aqira nampak berpikir mobil siapa itu. Bukan mobil suaminya ataupun milik mertuanya, lalu siapa?


Sesaat setelah mobil itu parkir di halaman rumah, seorang wanita keluar dari dalam mobil itu.


Aqira menajamkan matanya, dia seperti mengenal wanita itu.


Aqira terkesiap setelah mengetahui siapa yang turun dari mobil itu.


"Mau apa dia kemari." gumam Aqira dengan pandangan matanya tidak pernah lepas dari wanita itu.


.


.


.


.


.


.


.


Annyeong 😀


Jangan lupa like dan votenya ya.


Votenya yang banyak ok 😉


Love you all 😘😗

__ADS_1


__ADS_2