JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Teman


__ADS_3

Happy Reading


Like dulu sebelum baca


Selama beberapa saat suasana canggung meliputi di antara kedua wanita yang sedang duduk saling berhadapan itu.


Aqira menatap bingung kepada wanita yang duduk di hadapannya ini yang juga merupakan wanita yang pernah menjalin hubungan dengan kekasihnya di masa lalu.


Ya, wanita yang baru saja turun dari mobil itu adalah Jessi. Mantan kekasih sekaligus wanita yang telah menghancurkan hati suaminya di masalalu.


Mau apa dia datang kemari, apa tujuannya?


Apakah ada maksud buruk atau apa?


Itu selalu terngiang-ngiang di otaknya sejak melihat wanita itu muncul di depan rumahnya.


Walaupun Aqira yang notabenenya berkepribadian ceria dan mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi itu tidak berlaku kepada wanita di hadapannya ini, mengingat bahwa dia pernah menjalin hubungan dengan suaminya membuat Aqira agak risih dan aneh.


"Hai... apakah aku mengganggumu?" tiba-tiba wanita itu membuka suara, membuat Aqira terkesiap dari lamunannya.


Wanita anggun nan elegan itu tersenyum manis kepada Aqira, menampakkan gigi putihnya yang berjejer rapi.


Ternyata senyum manis disertai sapaan ramah yang dilontarkan wanita itu dapat menggoyahkan keraguan hati Aqira.


"Ah.. tidak, tidak. Kau tidak menggangguku." Aqira menggelengkan kedua tangannya di depan Wanita itu.


Wanita itu tersenyum lagi, "Mungkin kau bertanya-tanya siapa aku dan kenapa aku datang kemari." ujar wanita itu ramah.


"Kenalkan namaku Jessi..." mengulurkan tangannya ke depan Aqira memperkenalkan diri.


"Aku sudah tau." batin Aqira.


"Oh Jessi.." membalas uluran tangan itu. "Aku Aqira.. senang bertemu denganmu Jessi.."


"Kau pasti bingung akan kedatanganku kemari bukan?" tanya Jessi.


"Sebenarnya iya, karena selama saya tinggal di sini, belum pernah ada tamu yang datang." jawabnya.


"Apakah suamimu tidak pernah menceritakan tentang diriku kepadamu?" Jessi.


"Cerita apa yang kau maksud?" Aqira berpura-pura tidak tau bahwa dia belum mengenal Jessi.


Jessi menyesap teh yang telah disiapkan oleh Bi Lusi tadi.Lalu melanjutkan kalimatnya, "Tentang kekasihnya yang pernah meninggalkannya begitu saja di masa lalu?"


Sejenak Aqira mencoba mencerna ucapan Jessi, apakah ada maksud terselubung di sana, Aqira ingin melihatnya.


"Oh.. tentang itu. Suamiku memang pernah menceritakannya, tapi aku tidak tau siapa wanita itu."


"Jadi Brian sudah menceritakannya." menghela nafasnya.


"Wanita itu adalah aku.." ucapnya pelan.


"Aku tau itu." gumam Aqira dalam hati.


Kini Aqira semakin bingung dibuatnya, apa maksud Jessi mengatakan itu kepadanya.


"Aku tau kau pasti bingung tujuanku datang kemari. Tenang saja, aku tidak punya niat buruk sama sekali, kedatanganku kemari hanya ingin mengenal wanita yang telah meluluhkan hati Brian setelah aku meninggalkannya. Jadi kau tidak perlu takut aku mengganggu rumah tangga kalian."


tutur Jessi dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


Aqira menatap Jessi penuh selidik, mencari setitik kebohongan dari ucapan wanita di hadapannya ini. Tapi sepertinya Jessi berkata jujur, entah Aqira yang terlalu polos atau Jessi yang sangat lihai dalam bersandiwara sehingga membuat Aqira percaya begitu saja kepada wanita masa lalu suaminya.


Tiba-tiba Jessi mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, seraya berkata, "Aku bersumpah, aku tidak memiliki niat buruk sama sekali.." ucapnya cepat.


Aqira malah tergelak melihat tingkah lucu Jessi, wanita yang dikenalnya sebagai wanita anggun ternyata bisa bertingkah lucu seperti ini.


"Kau lucu sekali.." kekeh Aqira.


"Awalnya aku memang berpikir jika kau punya niat buruk, tapi sekarang sepertinya tidak lagi.. kau sangat lucu." masih dengan kekehannya.


"Aku hanya takut kau tidak percaya padaku dan memikirkan sesuatu yang buruk tentangku. Tapi aku serius, aku tidak punya maksud lain, aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat saja, tidak lebih."


"Dulu aku memang pernah mencintai Brian tapi sekarang tidak lagi, aku hanya menganggapnya sebagai teman seperti kami sekolah dulu, jadi aku ingin mengenalmu dengan baik sebagai istri dari temanku." tutur Jessi sungguh-sungguh.


"Aku percaya kepadamu, tidak usah terlalu memikirkannya begitu." ujar Aqira.


"Jadi apa boleh aku menjadi temanmu?"


"Kenapa tidak? Tentu saja boleh..." jawab Aqira.


"Berarti kita berteman sekarang?" tanya Jessi antusias.


"Iya kita teman.."


"Terima kasih Aqira.." menghampiri Aqira lalu mengulurkan jari kelingkingnya.


"Mulai hari ini kita adalah teman." ucapnya semangat.


Aqira sungguh tidak menyangka, jika ternyata wanita anggun seperti Jessi ini memiliki sifat ceria dan kekanakan sama seperti dirinya. Padahal melihat umurnya yang hampir sama dengan suaminya, dan sudah cocok menjadi seorang ibu.


Keduanya begitu cepat akrab, mungkin karena memiliki sifat yang sama-sama ceria membuat Aqira cepat akrab sama seperti pertama kali bertemu dengan teman baiknya, Sindy.


Karena terlalu asyik bercerita, tidak terasa mereka telah menghabiskan waktu mengobrol selama beberapa jam. Jessi memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai gelap.


Padahal masih banyak yang ingin Aqira tanyakan, maka mereka memutuskan untuk bertukar nomer agar dapat bertemu lain waktu.


Aqira mengantar Jessi ke depan rumah.


Ada sesuatu yang mengganjal di hati Aqira sejak tadi, dirasuki rasa penasaran Aqira memanggil Jessi yang akan memasuki mobilnya.


"Jessi tunggu..." panggilnya.


Jessi berbalik, mengurungkan niatnya masuk ke mobil. "Iya Aqira, ada apa?"


Aqira menghampiri Jessi, "Jessi..." Aqira nampak ragu.


"Iya ada apa, jangan ragu mengatakan sesuatu kepadaku, kita kan sudah menjadi teman."


"Baiklah. Sebenarnya aku penasaran, apakah kau tidak menyesal telah meninggalkan Brian dan apakah kau tidak berharap untuk kembali padanya..?" tanya Aqira hati-hati.


"Kau ini. Kukira apa." kekehnya.


"Awalnya aku memang menyesal, dan masih berharap bisa kembali kepadanya, tapi setelah aku melihat dia telah menikah dan bahagia denganmu, aku segera mengubur harapan itu dalam-dalam." ucapnya serius.


Memegang kedua bahu Aqira, "Percayalah aku tidak memiliki perasaan apa-apa lagi pada Brian." Jessi meyakinkan Aqira.


"Maaf... aku membuat harapanmu..."


"Tidak Aqira, kau tidak salah sama sekali, ini sudah menjadi takdir." Aqira melihat Jessi dengan tatapan penuh arti, entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu.

__ADS_1


"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Aku mau pulang, aku punya urusan lain. Bye..." membuka pintu mobilnya lalu masuk.


"Jangan khawatir Aqira, aku tidak selera dengan lelaki yang sudah beristri.." canda Jessi dari kaca mobil yang terbuka.


Aqira tergelak mendengar itu, "Dasar." gumamnya.


"Aku pulang dulu.. bye." membunyikan klakson mobilnya sebelum meninggalkan halaman rumah Aqira.


Setelah mobil Jessi menghilang dari pandangannya, Aqira masuk ke dalam rumah. Ketika dia masih di ambang pintu rumah, saat itu juga suara deru mobil terdengar di telinganya.


Aqira membalikkan tubuhnya, suaminya turun dari mobil dengan gagahnya.


"Sayang.." Aqira berjingkrak senang, berlari menghampiri suaminya.


Aqira langsung memeluk pria yang dicintainya begitu mereka mendekat.


Begitu juga Brian, tangan kekarnya membalas pelukan sang istri disertai ciuman yang dihujaninya di sekujur wajah wanita itu.


Rasanya lelahnya bekerja selama satu hari ini sirna seketika hanya dengan melihat wanita yang dicintainya.


"Sayang aku merindukanmu.." bisiknya di telinga Aqira.


"Aku juga..." kekeh Aqira.


"Ayo masuk, aku ingin segera memakanmu."


"Dasar mesum!"


"Aku mesum hanya denganmu."


Aqira mencubit perut suaminya dengan keras, lalu berlari meninggalkan Brian.


"Awas kau rubah licik, akan kubuat kau menjerit malam ini." ikut berlari mengejar Aqira ke dalam rumah.


.


.


..


.


.


.


Jangan lupa like dan vote ok


Love you allπŸ˜˜πŸ˜—


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2