
LIKE DULU SEBELUM BACA
"Brian..." terdengar suara Risa dari arah pintu.
Brian berbalik, "Mom.." panggilnya.
Risa berlari menghampiri putra sulungnya yang dia kira tidak akan selamat. Sudah beberapa kali wanita paruh baya itu pingsan, setiap dokter selalu memberikan kabar buruk mengenai putranya.
Wanita itu mengira, bahwa anaknya tidak akan selamat, namun Tuhan berkehendak lain, Dia menunjukkan keajaiban-Nya di saat-saat terakhir.
Risa beringsut memeluk putranya itu, memberikan ciuman bertubi-tubi di pipi pria itu. "Kau sudah sadar Son.."
"Bagaimana keadaanmu, apakah masih sakit? Katakan pada Mommy Son.." cerca Risa kepada putra sulungnya.
"Aku tidak apa-apa Mom, berhentilah Mom..." ujarnya karena Risa masih saja menciumi wajahnya.
Risa menghentikan ciumannya, menangkup wajah Brian dengan kedua telapak tangannya. "Mom takut kau kenapa-napa lagi. Mom sangat takut..." lalu memeluk Brian lagi.
"Tenanglah Mom, aku tidak apa-apa. Sembari mengusap punggung wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.
"Sekarang yang perlu Mom cemaskan adalah menantumu." ucapnya seraya memandang wajah pucat Aqira yang terbaring lemah di atas brankar.
__ADS_1
Risa melepas pelukannya, kemudian mengikuti pandangan Brian.
Wanita itu terkejut melihat menantunya itu. Beberapa saat lalu, ketika dia baru saja sadar dari pingsan yang sudah ke sekian kalinya, Darman langsung memberitahukannya bahwa Brian telah sadar. Dan dengan langkah seribu, wanita itu datang kemari tanpa mendengar ucapan Darman selanjutnya.
"Brian...menantuku kenapa? Kenapa dia ..?"
"Ini semua salahku Mom.." potong Brian.
"Apa maksudmu?"
Brian menghela napasnya, "Dia hampir saja mengakhiri hidupnya..., karena diriku...karena aku yang tak kunjung bangun." ucap Brian dengan menatap sendu wajah pucat Aqira.
Risa menutup mulutnya tidak percaya. Tidak mungkin menantunya ini melakukan tindakan itu. Karena sejauh yang dia tau, Aqira adalah sosok yang kuat dan tidak akan melakukan sesuatu hal sebelum memikirkannya matang-matang.
Dia senang kalau ternyata Aqira sangat mencintainya, bahkan hingga rela mengakhiri hidupnya demi bisa bertemu dengannya. Tapi Brian juga sedih, karena cinta wanita itu yang terlalu besar padanya, membuat nyawanya hampir saja melayang.
"Dia sangat mencintaimu Son..." ucap Risa yang juga turut merasakan kesedihan menantunya. Dia sungguh bersyukur bisa mendapatkan menantu sebaik Aqira, yang sangat menyangi putranya juga seluruh keluarganya.
"Ya Mom... istriku sangat mencintaiku..." sahut Brian lalu mengecup punggung tangan Aqira.
•••••
__ADS_1
"Apa?! Brian kecelakaan?!!" teriak wanita yang kini sedang mengenakan lingerie merah terang, memamerkan tubuh seksinya.
Wanita itu kini sedang berbicara lewat telepon dengan anak buahnya.
Setelah selesai bicara dengan anak buahnya, wanita itu mematikan teleponnya.
"Ada apa Jessi? Kenapa wajahmu terlihat murung?" tanya seorang pria yang hanya memakai celana boxer tanpa menggunakan baju.
Pria itu memeluk Jessi dari belakang dan dengan sengaja merem*s dadanya membuat Jessi mendesah saat itu.
"Brian kecelakaan..." jawabnya.
"Benarkah?" tapi tangannya sudah menjalari tubuh wanita itu.
"Hmm...dia sedang kritis saat ini."
"Bukankah itu berita bagus?"
"Berita bagus?"
"Ya...Jika Brian sedang kritis saat ini, otomatis Brian tidak akan ke kantornya beberapa waktu ini. Dan aku akan dengan mudah melancarkan rencana yang sudah kita susun bersama." ujar pria itu.
__ADS_1
Mendengar itu, raut wajah Jessi menjadi cerah kembali. Benar juga, pikirnya.
LOVE YOU ALL