
Happy Reading
Like dulu sebelum baca😀
"Daddy..." panggil Aqira sesaat setelah masuk ke dalam kamar VIP itu.
Di dalam sana ada Brian dan Mommy yang berdiri mengelilingi Darman yang tengah berbaring di brankar rumah sakit, dengan selang infus melekat di salah satu tangannya.
"Menantuku... kemarilah." lirih Darman
Aqira mendekati Darman.
"Bagaimana keadaan Daddy, apakah sudah lebih baik?" tanya Aqira cemas.
Darman memegang tangan Aqira, "Daddy tidak apa-apa Nak. Mungkin ini hanyalah pertanda jika hidup Daddy sudah tidak lama lagi." ucap Darman lemah.
"Jangan bicara seperti itu Dad, Daddy pasti akan sembuh." ucap Aqira dengan air mata yang sudah berkaca-kaca.
"Daddy ini tidak lucu, jangan mati dulu, auu...." Brian memekik karena tiba-tiba Aqira mencubit lengannya.
"Kenapa mencubitku." protes Brian.
"Kau ini, bicaralah yang sopan pada Daddy!" Aqira mencebik kesal.
Sedangkan Risa yang berdiri di samping Brian terkikik geli melihat tingkah Brian dan Aqira.
Brian mencebik kesal pada Aqira, bisa-bisanya gadis ini termakan sandiwara Daddynya. Dasar gadis bodoh, apakah dia tidak bisa melihat hal itu dengan jelas, kesal Brian.
"Daddy jangan dengarkan dia, dia memang agak sedikit gila, jadi tidak usah dipikirkan. Pikirkan saja kesehatan Daddy ya?" Risa menatap senang pada Aqira, gadis ini memang baik, bahkan di saat seperti ini dia begitu khawatir pada ayah mertuanya.
"Hei aku tidak gila." Brian menatap tajam pada Aqira.
"Diamlah, Daddy sedang sakit.
Pergilah keluar jika tidak ingin kupanggil gila."
perintah Aqira galak.
Brian memegang lengan Aqira, "Aqira sayang... Daddy tidak sakit, dia hanya berpura-pura."
Brian menoleh ke arah Darman, "Daddy, kalau ingin mati ya mati saja dengan tenang, tidak usah membohongi istriku seperti ini."
"Brian!!" suara Aqira, Daddy dan Risa memenuhi kamar itu.
"Auuu..auu..." pekik Brian keras, yang mendapat capitan di lengan dan telinganya dari Risa dan Aqira.
"Kau memang dasar anak durhaka!" ucap Risa geram.
"Dasar pria tidak punya sopan santun!" Aqira makin memperkuat cubitannya.
"Aqira, Mommy tolong lepaskan, ini sakit." Brian memegangi telinga dan lengannya.
"Auu...." pekiknya lagi.
"Tidak, sebelum minta maaf pada Daddy." perintah Risa dan Aqira serempak.
"Kenapa aku harus minta maaf, bukankah Daddy hanya sedang bersandiwara, aku benarkan? Auu.."
Aqira dan Risa semakin menguatkan capitan mereka.
"Baik, baiklah...Daddy aku minta maaf." ucap Brian.
Sedangkan Darman tertawa dalam hati, "Rasakan itu anak durhaka." tersenyum mengejek kepada Brian.
Lalu dengan secepat kilat mengubah raut wajahnya menjadi sedih saat Aqira melihatnya.
"Aku sudah minta maaf, kenapa belum melepasku." protes Brian.
__ADS_1
"Daddy belum memaafkanmu." ucap kedua wanita itu serempak.
"Daddy kumohon maafkan aku."
Darman sengaja menjawab lama, dia ingin melihat Brian menderita, sudah lama dia ingin membalas putra sulungnya ini, dan akhirnya hari ini terbalas sudah.
"Iya Daddy maafkan." ucap Darman lemah,
agar Aqira tidak curiga akan sandiwaranya.
Saat itu juga capitan di lengan dan telinga Brian lepas.
Brian menatap tajam sang Daddy, "Lihat saja, aku akan membalas ini." rutuk Brian dalam hati.
Darman mengabaikan tatapan tajam Brian, kemudian beralih kepada Aqira, menantu kesayangannya.
"Nak tolong dengarkan Daddy." kembali menggenggam kedua tangan Aqira.
"Jangan sentuh istriku." ketus Brian.
"Diam!!" bentak ketiga orang itu kepada Brian.
"Baiklah. Aku diam." ucap Brian pelan. "Mereka sangat galak." gumam Brian dalam hati.
"Iya Dad, katakan saja, aku akan mendengarkannya." ucap Aqira lembut.
"Tapi berjanjilah lebih dulu, kau harus menuruti permintaan Daddy, dan kau juga Brian berjanjilah." pinta Darman.
"Hmph.. pak tua ini sangat pandai bersandiwara." gerutu Brian dalam hati.
"Hmm.." sahut Brian.
"Iya Dad. Aku janji, selagi aku masih bisa, aku akan menurutinya, katakanlah Dad." ucap Aqira lembut pada ayah mertuanya.
"Sebelum Daddy pergi, Daddy ingin merasakan rasanya menimang cucu dari kalian, Nak." Darman berusaha memainkan perannya dengan baik, agar Aqira percaya.
"Cu..cucu?" ucap Aqira gugup, lalu menatap Brian. Tapi Brian malah mengedikkan bahunya, yang seolah mengatakan terserah kau saja.
"Iya Nak, apa kau bersedia?" tanya Darman.
Aqira hanya diam saja, wajahnya berubah menjadi pias, dia bingung sekarang.
"Baiklah, tidak apa-apa jika kau tidak bersedia. Mungkin inilah jalan yang diberikan Tuhan kepadaku. Meninggal sebelum menikmati rasanya menimang cucu." Darman memainkan tarik ulurnya, dia tahu jika Aqira memiliki hati yang lembut. Dan tidak akan tega melihat orang lain bersedih.
"Siapa bilang aku tidak setuju Dad?" sergah Aqira langsung.
"Jadi kau setuju?" Darman terlihat senang.
"I..iya." Aqira mengangguk malu. "Tapi, Brian..."
"Brian apa kau setuju kan?" Brian hanya mendelikkan matanya, pura-pura tidak peduli.
Padahal dalam hatinya seruan Yes sudah diucapkan beberapa kali.
"Hmm.." sebagai jawaban Brian.
"Kau lihat kan, Brian setuju." ucap Darman semangat.
"I..iya Dad." Aqira tersenyum hambar menanggapi senyuman Darman.
"Yes, misi berhasil." teriak Risa dalam hati.
•••
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Brian pada Aqira yang hanya diam saja sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit.
Sebenarnya Aqira masih ingin di sana untuk menjaga Darman yang sedang sakit (pura-pura sakit maksudnya). Tapi Risa menolak, dia memaksa Brian dan Aqira untuk segera pulang saja. Kalau sampai Aqira menginap di rumah sakit bisa-bisa Aqira menjadi curiga.
__ADS_1
Brian juga heran dengan kelakuan orangtuanya, mereka sangat totalitas dalam sandiwara ini. Kalau saja ada kontes drama, pasti merekalah yang akan jadi pemenang.
Tapi di sisi lain, Brian juga senang, akhirnya hal yang ditunggu-tunggu akhirnya akan datang juga.
"Tidak ada." jawab Aqira tanpa menoleh kepada Brian yang sedang memegang kemudi mobil.
"Kau masih memikirkan permintaan Daddy?"
"Ti..tidak. Aku tidak memikirkan hal itu." Aqira gugup, karena Brian mengetahui apa yang sedang dipikirkannya.
"Kalau kau masih belum siap, tidak apa-apa, kita bisa membicarakannya kepada Daddy dan Mommy."
"Jangan. Aku sudah siap, jadi jangan menunda keinginan Daddy."
"Kau yakin?" tanya Brian.
"Iya aku yakin." jawab Aqira semangat.
•••
Brian dan Aqira akhirnya sampai di rumah hampir tengah malam. Mereka memutuskan untuk langsung tidur, karena sudah mengantuk.
Aqira membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tempat di sebelahnya masih kosong, Brian sedang berganti baju di walk in closet.
Aqira sedikit gugup, bagaimana jika Brian melakukannya hari ini, Aqira masih belum siap, karena ini merupakan hal yang pertama baginya.
Aqira menarik selimut sampai menutupi lehernya, kemudian memejamkan matanya rapat-rapat, supaya Brian tidak membangunkannya untuk melakukan hal-hal aneh.
Beberapa menit kemudian Aqira dapat merasakan tempat di sebelahnya bergerak. Brian naik ke tempat tidur, menggeser badannya mendekati Aqira lalu meraih pinggang gadis itu, mendekapnya dalam pelukannya.
Tiba-tiba tubuh Aqira menegang, rasanya darahnya seakan berhenti mengalir, dia begitu gugup sekarang.
Brian dapat merasakan tubuh Aqira yang membeku dalam pelukannya. Dilihatnya mata gadis itu yang tertutup rapat, dan raut wajahnya juga terlihat pias.
Dia tau Aqira pasti sedang gugup sekarang, "Tidak usah takut, aku tidak akan melakukannya jika kau belum siap." bisik Brian lirih di telinga Aqira.
Aqira lega setelah mendegar perkataan Brian, akhirnya dia bisa tidur dengan lelap sekarang.
.
.
.
.
.
.
Hayo Votenya slow nih ceritanya, Kita masih temenen gak sih 😂😂 .
Bercanda😂, votenya yang banyak ya readers kesayanganku semua.
Love you all😘😗
..
.
.
.
...
.
__ADS_1
.