
Like dulu sebelum baca
"Bagaimana ini Sindy, kenapa aku sampai melupaka hal itu?" tanya Aqira dengan nada cemas.
Sedangkan Sindy hanya diam, sungguh dirinya sangat merasa bersalah kepada Aqira, kalau bukan kareena dirinya, Aqira pasti tidak akan mengalami masalah ini.
"Maafkan aku Aqira, karena diriku kau harus menghadapi masalah ini." ujar Sindy dengan perasan bersalah.
__ADS_1
"Tidak Sindy, jangan menyalahkan dirimu, aku yang bersalah dalam hal ini." Aqira menggenggam tangan Sindy berusaha mengurangi rasa bersalah teman baiknya itu.
"Tapi Qira, jika bukan karena saran dariku kau pasti tidak akan melakukan hal itu." Sindy masih tetap dalam rasa bersalahnya.
"Sin, jangan menyalahkan dirimu lagi, sudah kukatakan ini semua adalah salahku. Sekarang yang aku takutkan, jika Brian ssampai mengetahui kalau aku memakai alat kontrasepsi, aku taku Brian kecewa padaku, lalu..lalu pergi meninggalkanku." manik Aqira memerah menahan air matanya yang menggenang di pelupuk matanya, ketika membayangkan Brian pergi meninggalkannya. Sungguh Aqira tidak ingin hal itu terjadi.
Sindy melepas genggaman tangan Aqira, kemudian menangkup kedua bahu Aqira,"Aqira dengarkan aku," mengguncang bahunya untuk menyadarkan wanita itu. "Jika Brian memang benar-benar mencintaimu, aku yakin Brian tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi, walau sebesar apapun kesalahanmu." Ucap Sindy penuh keyakinan berusaha menenangkan Aqira dari kecemasannya. Sungguh Sindy juga turut merasakan kegundahan teman baiknya ini, apalagi masalah wanita itu juga disebbabkan oleh dirinya sendiri.
__ADS_1
Aqira menatap Sindy, hatinya berusaha untuk percaya ucapan Sindy, tapi hatinya berkata lain, dia masih ragu Brian akan memaafkannya jika sampai Brian tau kesalahan fatalnya. Bukannya Aqira meragukan cinta Brian, tidak sama sekali, Aqira sangat percaya malah, hanya saja Aqira sangat takut akan kehilangan Brian.
"Tapi Sin, bukan hanya harapan Brian yang sudah kupupuskan, tapi kedua mertuaku juga, kau tau sendirikan betapa besarnya harapan mereka untuk memiliki cucu, tapi aku, pelayan yang mereka angkat menjadi menantu mereka malah menghancurkan harapan itu. Aku seperti orang yang tidak tau berterima kasih Sin.." isak wanita itu, sungguh dia sangat menyesali kesalahannya itu.
"Aku dan Brian masih ingin menikmati waktu berdua kami tanpa hadirnya anak, kau tau sendiri bukan, kami menikah tanpa mengenal satu sama lain. Jadi kami ingin menikmati kebersamaan layaknya pasangan yang belum menikah." Begitulah jawaban Aqira akan pertanyaan yang dilontarkan Jessi kepadanya.
Aqira menatap nanar bayangan wajahnya di cermin toilet dengan Sindy yang juga berdiri di sampingnya. Mereka masih berada di toilet kafe, dan memilih tempat itu meluapkan kekhawatirannya setelah menjawab pertanyaan dari Jessi. Aqira memang menjawab Pertanyaan Jessi dengan penuh percaya diri, tapi siapa yang tahu isi hati wanita itu, kegundahan kini meliputi dirinya.
__ADS_1