
LIKE DULU SEBELUM BACA
Brian melepas pertautan mereka, ketika merasakan Aqira yang mulai kehabisan pasokan oksigen.
Diraupnya wajah mungil yang kini terlihat nampak pucat dengan kedua telapak tangannya.
Manik coklatnya kian meredup seraya dengan pelukan erat tangannya mulai lepas dari tubuh Brian.
Dan akhirnya, tubuh wanita itu terkulai lemas di dalam pelukan Brian.
"Aqira..." Brian menjadi panik saat itu. Dia baru ingat ternyata tangan Aqira terluka saat itu.
"Sayang..." panggilnya lagi seraya menepuk pipi Aqira.
Karena tidak mendapat respon, Brian berteriak memanggil dokter, dengan sekuat suaranya.
Tak berapa lama, pintu terbuka dan muncullah Darman dan juga Sasha dari balik pintu.
"Brian..."
"Kakak..."
__ADS_1
Panggil mereka serentak.
Raut wajah mereka yang tadinya senang melihat Brian sudah sadar, tiba-tiba menjadi cemas ketika melihat Aqira tidak sadarkan diri di pelukan Brian.
"Dad...panggil dokter Dad..." teriak Brian.
Darman mengangguk, kemudian keluar dari ruangan tersebut.
"Apa yang terjadi dengan Kakak Ipar?" tanya Sasha cemas. Gadis itu terkejut melihat darah membanjiri pergelangan tangan Aqira, dan juga menodai pakaian yang mereka kenakan saat itu.
"Ya ampun Kak..apa yang telah terjadi, kenapa banyak darah...." pekik Sasha.
Tak butuh waktu lama, Darman datang beserta dokter dan juga dua perawat mengikutinya.
Dokter dan yang lain pun sama terkejutnya, tadi mereka mengira bahwa Brianlah yang kritis.
Dengan cepat dokter itu segera menangani luka Aqira. Setelah lukanya sudah diperban dan darahnya sudah berhenti mengalir, dokter mulai memeriksa keadaannya.
"Nona Aqira kehilangan banyak darah, jadi secepatnya harus mendapatkan donor darah." jelas dokter itu.
"Untuk beberapa saat, kami akan memindahkan Nona Aqira sementara kami memeriksa golongan darah Nona Aqira." ujar dokter itu lagi.
__ADS_1
"Tidak usah dipindahkan dok, biarkan istriku dirawat di ruangan ini." ujar Brian yang belum mau berpisah dengan Aqira.
Dokter mengangguk, dia juga mengerti akan keadaan saat ini, lagipula dimana pun Aqira dirawat, itu sama saja.
Aqira dibaringkan di brankar yang sudah disiapkan di sebelah brankar Brian. Kemudian perawat segera memasangkan cairan infus di pergelangan wanita itu, agar dapat bertahan menunggu transfusi darah dilakukan.
Tak butuh waktu lama, dokter selesai memeriksa golongan darah Aqira. Untung saja saat itu stok darah yang sesuai dengan golongan darah Aqira, tersedia di rumah sakit itu.
Hampir dua jam proses transfusi darah yang dijalani Aqira dan menghabiskan dua kantong darah untuk mencukupi jumlah darah di tubuhnya.
"Kenapa kau begitu bodoh?" ucap Brian yang kini sudah duduk di sisi brankar, tempat Aqira berbaring.
Meskipun tubuh Brian masih lemah, pria itu tidak bisa menahan diri untuk tidak menghampiri Aqira yang sedang menjalani transfusi darah di sampingnya.
Beberapa saat lalu, Brian sudah diperiksa oleh dokter, dan syukurlah tidak ada kerusakan yang berarti pada alat-alat vital tubuhnya. Semuanya sehat, hanya saja tubuhnya masih sangat lemah dan butuh banyak istirahat.
"Kenapa kau melakukan tindakan sebodoh ini?" ujarnya seraya mengambil tangan Aqira yang tertempel selang infus.
"Aku tidak mungkin sejahat itu meninggalkan istri kecilku sendirian di dunia ini. Kau terlalu berharga untuk kutinggalkan sayang. Kau adalah permata hatiku, aku juga tidak sanggup jika harus berpisah darimu." ucapnya dengan sendu sembari memberikan kecupan hangat di pergelangan tangannya.
LOVE YOU ALL...
__ADS_1