JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Jalan Pintas


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA


Ini adalah hari ketiga pasca Brian selesai operasi.


Dan hari ini juga Aqira dan kedua mertuanya juga Sasha dilanda kecemasan yang amat sangat.


Karena hari ini adalah hari terakhir mereka menunggu Brian tersadar. Namun Brian tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran sama sekali.


Pria itu masih saja seperti patung bernyawa yang terbaring tanpa ada pergerakan sedikitpun.


Sedangkan dokter yang baru saja keluar dari kamar perawatan Brian, kembali menghampiri keluarga itu.


Aqira yang melihat wajah dokter itu tampak lesu, sudah dapat menebak apa yang akan dokter itu katakan.


Brian tidak selamat, Brian tidak selamat. Kata-kata itulah yang berungkali dijeritkan wanita itu dalam hatinya.


Darman yang melihat menantunya kini sedang berada dalam kekalutan hatinya, mewakilkan untuk bertanya kepada dokter.


"Dok bagaimana keadaan putra saya?" hanya itulah yang dapat Darman katakan.


Hati pria paruh baya itu juga sama sedihnya, ayah mana yang sanggup melihat putranya sudah diambang kematian saat ini. Tapi dia berusaha tegar, karena ada tiga wanita yang kini juga butuh untuk ditenangkan jika sampai ada kabar buruk yang akan dokter ini beritahukan.


Dokter itu terlebih dahulu menghela nafasnya dalam sebelum berucap.

__ADS_1


"Seperti yang sudah saya jelaskan tempo hari, jika Tuan Brian belum sadar maka kesempatan untuk selamat hanya ada sekitar dua puluh lima persen.


Dan saya sudah memeriksa Tuan Brian baru saja, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa beliau akan sadar."


jelas dokter tersebut hati-hati.


"Jadi maksud dokter putraku tidak akan selamat dok?!" kali ini Risa dengan tubuh lemahnya mengguncang lengan dokter itu. Berharap semua yang baru saja di dengarnya adalah bohong.


Dokter itu terlihat bingung cara menyampaikan kata-kata yang tepat agar tidak membuat keluarga ini sedih.


Tapi mau sehalus apapun cara penyampaiannya, tetap saja akan membuat mereka akan terluka.


"Kami minta maaf yang sebesar-besarnya Tuan, Nyonya, kami tidak dapat menyelamatkan Tuan Brian, sekarang kita menunggu bagaimana kondisi Tuan Brian selanjutnya. Saya berharap Tuhan akan menunjukkan keajaibannya untuk Tuan Brian ." ujar dokter itu.


Sesingkat inikah dia berjodoh dengan Brian?


Sesingkat inikah dia merasakan cinta tulus yang Brian berikan kepadanya?


Kenapa di saat dirinya jatuh cinta untuk pertama kali, harus terpisah dengan cara seperti ini?


Dulu kedua orangtuanya pergi meninggalkannya untuk selamanya, apakah sekarang pria yang dicintainya juga akan meninggalkannya?


Kenapa Tuhan sekejam ini kepadanya?

__ADS_1


Apa salahnya, apa salahnya?!


Jeritan hati Aqira.


•••••


"Kenapa kau sejahat ini sayang? Kenapa kau tidak mau bangun? Apakah kau tidak mencintaiku lagi? Bangun sayang, bangun....kumohon bangunlah..."


"Lihatlah sayang...Mommy saat ini sedang tidak sadarkan diri, sudah berkali-kali Mommy pingsan hanya karena memikirkanmu yang tak kunjung bangun. Bangun sayang...." Aqira mengguncang tubuh Brian, berharap pria itu sadar.


"Bukankah kau sangat menginginkan anak dariku? Bangunlah dan temani aku bersama anak-anak kita nanti...."


Aqira sengaja mengucapkan kata-kata yang mungkin membuat Brian akan sadar. Tapi tetap saja pria itu tidak bereaksi sama sekali.


Sekarang Aqira tidak tau lagi harus berbuat apa. Tidak tau lagi harus mengatakan apa agar suaminya ini terbangun.


Kini pandangan Aqira beralih menelusuri ruangan itu, pandangannya jatuh pada pisau belati yang terdapat di atas nakas di samping brankar Brian.


Pisau itu adalah pisau yang digunakan untuk memotong buah oleh Sasha siang tadi.


Aqira mengambil pisau itu, lalu mengarahkan ke pergelangan tangannya.


LOVE YOU ALL

__ADS_1


__ADS_2