
Happy Reading
Like dulu Sebelum baca...
Ajak yang lain baca juga yah...
Aqira mengerjapkan manik coklatnya, ketika merasakan goncangan di tubuhnya.
Senyum manis suaminya menyambut dirinya ketika pertama kali membuka mata.
"Selamat pagi sayang." sapa Brian lalu menempelkan keningnya di kening wanita itu.
Aqira tersenyum manis, "Selamat pagi." balas Aqira.
Beberapa saat kemudian, keningnya berkerut saat menyadari keberadaan mereka.
Kini Brian dan Aqira berada di dalam mobil yang sudah melaju. Tubuh Aqira berada dalam pangkuan Brian.
Aqira melihat ke arah tubuhnya dan tubuh Brian bergantian.
Huh Aqira bernafas lega, wanita itu mengira mereka masih berada di pantai dengan tubuh yang masih polos.
Semua tingkah wanita itu tidak luput dari pandangan Brian, "Apa yang kau pikirkan sayang?" Brian tersenyum, seolah sudah tahu apa yang ada dipikiran istrinya.
"Kenapa tidak membangunkanku dan... dan bajuku..?"
"Aku tidak tega membangunkanmu, kau pasti kelelahan setelah malam panjang kita.." Brian tersenyum menggoda.
Wajah Aqira memerah, "Diamlah." ujar Aqira lalu meluruskan pandangannya ke jalanan di depan.
Seketika Aqira menutup mulutnya, wanita itu begitu terkejut, Joe ada di depan kemudi.
Ternyata sedari tadi Joe mendengar percakapan mereka berdua.
"Kenapa tidak bilang kalau Joe ada di sini.
Turunkan aku." wanita itu memberontak ingin turun.
"Diamlah. Memangnya kenapa kalau Joe ada di sini?"
Aqira mencubit perut Brian, "Kau tanya kenapa? Aku malu.." menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Kenapa harus malu pada Joe?"
"Cepat turunkan aku!"
Kembali menggeliat ingin turun.
Ternyata tindakannya itu malah membuat sesuatu dalam diri Brian menegang.
Brian menahan pinggul Aqira agar tidak bergerak, "Jika kau masih terus bergerak, maka jangan salahkan aku jika aku memakanmu di sini, sekarang juga." Brian sengaja menekan kalimat terakhirnya.
Seketika tubuh Aqira berhenti bergerak, nyali wanita itu menciut, berdoa dalam hati semoga Brian tidak melakukan hal tidak senonoh di sini, apalagi di sini ada Joe.
Aqira berteriak dalam hati, membayangkan betapa malunya nanti dirinya pada sekretaris suaminya itu.
Brian tersenyum penuh arti melihat keturutan istrinya.
Brian memegang dagu Aqira, mengarahkan ke wajahnya, lalu merengkuh bibir ranum itu ke dalam mulutnya.
Menelusuri setiap rongga mulut wanita itu, mencecapnya, sampai terdengar decakan-decakan yang akan membuat orang malu mendengarnya.
Tidak terkecuali Joe, pria itu berusaha mengendalikan dirinya agar tidak menoleh ke kaca depan.
Sungguh pria itu tidak tau harus apa, dirinya menjadi salah tingkah sendiri.
Setelah Brian melepas tautan bibir mereka, Aqira memukul dada bidangnya.Gadis itu menggeruti kelakuan suaminya barusan.
Aqira tidak tau lagi cara menghadapi Joe setelah ini.
Sedangkan Joe yang sedari tadi menjadi obat nyamuk antara kedua majikannya, mencoba untuk tidak melihat kaca depan mobil.
__ADS_1
Tetapi kupingnya panas mendengar percakapan dan perbuatan suami istri itu.
Aqira masih menatap tajam pada Brian, "Kenapa? Ingin kutambah lagi." lelaki itu tersenyum licik.
"Kau memang tidak tau malu. Joe ada di depan.." kesal Aqira.
"Joe kau melihat apa yang baru saja kami lakukan?" tanya Brian dengan sampai pada Joe.
"Tidak Tuan." jawab Joe dengan wajah datarnya, sambil fokus mengemudi.
Padahal dalam hati dirinya mengutuki tuannya itu.
Pria itu menyesal datang menjemput mereka kemari, Joe merutuki kebodohannya.
Brian menoleh pada Aqira dengan seringaian di wajahnya, "Dengar sendiri kan? Joe tidak melihatnya." menekan kening Aqira yang masih berkerut kesal.
Sepanjang jalan hanya diam duduk di pangkuan suaminya. Dia tidak ingin suaminya melakukan hal akan membuat dirinya malu.
β’β’β’
Dua minggu sudah Aqira melewati kesehariannya dengan damai.
Setiap hari sikap Brian semakin manis saja kepadanya.
Aqira juga senang saat mendengar bahwa ayah mertuanya juga sudah sembuh (dari sakit pura pura maksudnya) dan baru kemarin baru pulang dari rumah sakit.
Wanita itu berencana ingin mengunjungi kedua mertuanya besok. Dirinya ingin memastikan keadaan ayah mertuanya itu sendiri.
Walaupun Darman hanyalah ayah mertuanya, tetapi Aqira sudah menyayangi pria paruh baya itu layaknya ayah sendiri.
Itu semua juga karena Darman juga sudah menganggapnya sebagi putrinya sendiri.
Saat ini, Aqira sedang membereskan pakaian suaminya di walk in closet.
Ini sudah menjadi kebiasaannya, mengatur tata letak keperluan kantor Brian.
Setelah itu, Aqira beralih ke kamar mereka, dirinya berniat ingin mengganti sprei tempat tidur mereka.
Sepertinya pekerjaan suaminya sedang ada masalah di kantor, hingga Brian memilih berendam di air hangat untuk meredakan lelahnya sejenak.
Aqira sudah membuka sprei bekas, dan memasangkan yang baru.
Gerakan tangannya terhenti ketika ekor matanya menangkap sesuatu di atas nakas dekat tempat tidur.
Aqira mengalihkan pandangannya ke nakas, dompet suaminya tergeletak di atas sana.
Sebenarnya, bukan dompet Brian yang menjadi fokus manik coklatnya, melainkan sebuah kertas dengan gambar seorang wanita terlihat di lipatan dompet tebal.
Aqira menajamkan penglihatannya ingin melihat foto itu lebih jelas, tetapi nihil dia tidak bisa melihatnya dengan jelas. Hanya setengah dari foto itulah mampu di lihatnya.
"Foto siapa itu?" gumam Aqira.
Sebenarnya Aqira ingin melihatnya dengan jelas, tapi dia ragu. Sebelumnya dia belum pernah menyentuh barang-barang pribadi suaminya yang satu ini. Dia tidak ingin begitu lancang, sebelum suaminya mengizinkan.
Tapi dia penasaran foto siapa itu sebenarnya, sebab Aqira yakin tidak mungkin dirinya yang ada dalam foto itu.
Akhirnya dengan dilanda rasa penasaran, wanita itu memberanikan diri untuk mengambil foto itu.
Sebelumnya Aqira mengedarkan pandangannya ke arah pintu kamar mandi, memastikan suaminya belum keluar.
Setelah dirasa aman, tangan mungilnya langsung menarik foto dari lipatan dompet itu.
Aqira membalikkan foto, melihat siapa sebenarnya wanita dala foto itu.
Manik coklatnya membelalak melihat apa yang ada dalam foto di genggamannya.
Ternyata memang benar wanita dalam foto ini bukanlah dirinya, melainkan seorang wanita cantik yang tersenyum manis, terpatri dalam foto itu.
"Siapa wanita ini?" lirih Aqira.
"Apa mungkin...?" Aqira menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
__ADS_1
Pikiran wanita itu sudah melayang jauh.
Wanita itu masih menatap foto itu dengan nanar, jantungnya berdegub kencang membayangkan jika tebakannya ini benar.
Aqira membalikkan kertas tipis itu, dirinya tidak tahan melihat foto itu. Dan betapa terkejutnya wanita itu saat menemukan sebuah tulisan di balik foto.
Jantung hatiku... Saat itu juga air matanya lolos begitu saja, setelah membaca tulisan itu.
Tangannya meremas foto itu dengan kuat, hingga kertas itu kini tak berbentuk lagi.
Wanita mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang, menutup mulutnya rapat-rapat agar isakan tangisnya teredam.
"Tidak mungkin... tidak mungkin...." jeritan hati wanita itu.
Aqira berdiri dari duduknya lalu melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari kamar itu.
Air matanya masih mengalir dengan deras, seakan tidak mau berhenti membasahi pipinya.
Langkah wanita itu berhenti di sebuah kursi panjang, di taman depan rumah.
Suasana malam hari yang dingin, tidak membuat Aqira merasakan dinginnya angin yang berhembus menerpa kulit putihnya.
Aqira meluapkan perasaannya di sana, isakannya terdengar begitu lirih.
"Mungkinkah semua sikapnya ini hanya sandiwara Brian...?" lirih Aqira dalam tangisnya.
"Tapi... tapi kenapa... kenapa dia melakukan itu padaku...?" suara wanita itu tercekat dalam tangisnya.
"Readers semua, apakah benar Brian hanya bersandiwara selama ini? Apakah semua sikap manisnya selama ini hanya kebohongan semata? Katakan padaku...cepat katakan... katakan!!" bentak Aqira kepada readers yang nggak mau like dan vote....π
.
.
.
.
.
.
.
Annyeong... Lisa balik lagiππ
Jangan lupa like coment dan vote yah
Votenya yang banyak okπ
Salam sehat untuk kita semua, semoga kita semua terhindar dari musibah yang sedang melanda dunia saat ini ya readersku semua.
Dan jangan lupa, kita doakan juga orang2 yang sedang menderita akibat wabah ini agar dapat bertahan, juga kepada para peneliti/dokter2 agar cepat menemukan jalan keluar dari musibah ini ya teman2.
Supaya, secepatnya kita dapat melakukan aktivitas kita seperti dulu lagi.
Sumpah ya, Lisa bosan bgt di rumah terus, udah kayak mau busuk nih badan di rumah aja.
Kalian semua pada bosan ga di rumah aja...?
Love you all...ππ
.
.
.
.
..
__ADS_1
.