JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Happy Reading😀


Like dulu sebelum baca


Langit telah membuka tabirnya, menampakkan mentari yang bergerak dari ufuk timur, menerangi setiap tempat yang ada di bumi. Hingga perlahan mengusik tidur lelap setiap orang yang ada di bumi ini.


Brian perlahan mengerjapkan kedua matanya, yang terganggu akibat silaunya mentari pagi.


Pria itu menyunggingkan senyum manisnya, ketika menyadari sesosok gadis cantik menyambut paginya.


"Selamat pagi gadisku."


Gadis itu masih memejamkan matanya rapat, seolah enggan untuk membukanya, dengan tangannya yang tidak pernah lepas dari pinggang Brian.


Cahaya sang surya yang menelisik lewat gorden tipis di kamar itu, menjamahi kulit wajah gadis itu, membuat wajahnya terlihat begitu bersinar, layaknya malaikat yang berdiri di tengah kumpulan awan-awan putih yang bersinar terang.


Untuk kesekian kalinya, Brian terpana akan kecantikan gadis itu. Wajahnya terlihat begitu teduh di bawah terpaan sinar matahari, membuat Brian tidak tahan untuk tidak menyentuh wajah itu.


Perlahan tangannya menelusuri setiap sudut wajah itu, seakan ikut merasakan indahnya ciptaan Tuhan yang satu ini.


Rasanya ini seperti mimpi, gadis cantik yang sebelumnya adalah pelayannya kini menjadi istrinya. Gadis yang dulu disiksanya habis-habisan kini menjadi pengisi relung hatinya.


Brian memejamkan matanya sejenak, menarik nafas dalam seolah menahan emosi yang bercampur rasa penyesalan dalam hatinya.


Meski pria itu berusaha melupakan kesalahannya dulu, tetap saja dia akan teringat kembali setiap melihat wajah polos gadis ini. Kenapa dulu dia tega menyiksa gadis ini, kenapa dia tidak pernah memiliki rasa kasihan pada gadis kecilnya itu.


"Maafkan aku yang dulu sayang, aku berjanji mulai hari ini, aku akan membahagiakanmu." lirih Brian di telinga Aqira.


Rupanya, bisikan lirih Brian mengusik tidur lelap gadis itu, "Brian..?" lirih Aqira dengan suara khas baru bangun tidur.


Kata itulah yang pertama keluar dari bibir mungilnya, ketika merasakan bibir Brian bertengger di daun telinganya.


"Sudah bangun sayang?" sapa Brian, mengangkat kepalanya menatap wajah Aqira.


"Hmm.." jawab Aqira diikuti anggukan kepalanya.


Cup


"Morning kiss, baby.." ucap Brian setelah mengecup bibir Aqira.


Pipi Aqira memerah malu, dia masih belum terbiasa dengan ini.


"Kenapa hmm..? Mau lagi?"


"Ti..tidak, sudah cukup. Minggir aku mau turun." ucap Aqira gelagapan.


"No no no, wajahmu mengatakan masih menginginkannya." Brian menarik Aqira yang ingin melarikan diri darinya.


Memposisikan kepalanya agar dapat meraih bibir Aqira, ini bukanlah sebuah kecupan biasa, melainkan ******* yang menuntut lebih dari sekedar ciuman.


Brian seketika menyadari sesuatu di bawah sana menegang, Brian melepaskan tautan bibir mereka, kemudian beralih mengelus pipi Aqira yang sudah memerah.


"Maafkan aku sayang." ucap Brian dengan suara serak akibat hasratnya yang tertahan.


Brian bergerak menjauhi Aqira, berniat menuju kamar mandi untuk meredakan hasratnya.

__ADS_1


Tapi langkahnya tertahan ketika Aqira mencekal tangannya, "Ada apa?" tanya Brian.


"A..ku sudah siap." cicit Aqira lalu menundukkan wajahnya yang merona.


Brian mengernyitkan keningnya, "Apa maksudmu?"


"Aku sudah siap Brian." ucapnya dengan suara tertahan. Oh ini sangat memalukan.


Sejenak Brian dapat menangkap pembicaraan dari Aqira, "Aqira sayang...jangan terlalu memaksakan dirimu. Kita bisa membicarakannya baik-baik pada Daddy dan Mommy." ucap Brian dengan jelas. Dia tidak mau gadis ini menyesal di kemudian hari hanya karena keinginan orangtuanya.


"Ini bukan karena Daddy dan bukan karena siapapun." tegas Aqira.


"Hmm..?" Brian masih bingung.


"Ini karena dirimu."


"Aqira..." Aqira mengumpat dalam hati, merutuki kebodohan Brian.


"Aku siap karena dirimu."


"Aqira jangan sampai kau menyesal di kemudian hari." peringat Brian.


"Tidak. Aku tidak akan menyesal." tegas Aqira. Ya Tuhan, kenapa rasanya jadi aku yang terlihat lebih menginginkannya.


"Dengar Aqira, ini peringatan terakhir, lepaskan aku sebelum aku memakanmu habis-habisan."


*Readers kesayangan : Ayolah Brian, ga usah sok jual mahal deh, basi tau gak sih.


Brian : serah guelah. Orang Aqira istri gue kok .


Brian : Ampun thor, ampuni hambamu ini😣.


Aqira : Woi kapan nih mulainya, lanjut gak nih.


Brian : Tunggu sayang. Aku datang...


Author and Readers kesayangan : Dasar Brian munafik 😏😏🙄*.


Back to the story.


Aqira malah mengeratkan genggamannya di tangan Brian.


"Baiklah. Ini adalah keinginanmu." Brian mendorong tubuh Aqira yang setengah berbaring. Mengurung tubuh mungil itu dalam kungkungannya.


Tanpa aba-aba membenamkan bibirnya di antara belahan bibir Aqira yang setengah terbuka.


Aqira hanya diam saja, tidak menolak ataupun membalas. Brian menjauhkan bibirnya, menggesekkan bibirnya di bibir merah gadis itu. "Kenapa tidak membalas?" suaranya sudah dipenuhi hasrat yang menggebu-gebu.


"A..ku tidak tau." cicit Aqira.


Brian baru ingat, Aqira adalah gadis polos. Dia masih ingat ciuman panas mereka waktu itu, ciuman gadis ini sangat buruk.


"Tidak apa-apa...aku akan mengajarimu perlahan."


"Cukup ikuti saja apa yang kulakukan." ucap Brian sebelum kembali merengkuh bibir Aqira dalam ciuman panasnya.

__ADS_1


Sungguh Brian memang pantas disebut penakluk wanita. Lihatlah gadis polos itu bisa terbuai dengan begitu mudahnya akan sentuhan Brian.


Aqira mulai mengalungkan tangannya di leher Brian, perlahan mengikuti gerakan lidah Brian, membalas apa yang dilakukan pria itu padanya.


Tidak tahu kapan, tanpa disadarinya, Brian telah berhasil melucuti pakaiannya.


Brian kembali terpana melihat tubuh polos Aqira, tubuh yang selama ini begitu didambakannya.


Tangan Aqira bergerak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, ini sangat memalukan baginya. Dengan cepat Brian menarik kembali selimut itu, lalu melemparkannya ke lantai.


"Tidak usah malu sayang, aku ini suamimu." bisik Brian lembut.


Aqira mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, ketika Brian juga akan melucuti pakaiannya sendiri.


Brian kembali mengungkung gadis itu ketika tubuh mereka sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.


Brian beralih menatap manik coklat milik Aqira, seolah meminta persetujuan dari gadis itu. Tanpa sadar, Aqira mengangguk pelan menjawab tatapan Brian yang begitu menghujam.


Kembali Brian menghujani wajah gadis itu dengan ciuman panasnya.


"Katakan jika aku menyakitimu." bisik Brian setelah mendaratkan ciuman panasnya di bibir gadis itu.


Aqira mengangguk pasrah di bawah tubuh Brian, matanya sudah dipenuhi kabut gairah sama seperti suaminya.


Brian melancarkan aksinya pagi ini, pagi yang harusnya waktu yang digunakan untuk mengawali aktivitas hari ini, tapi pagi ini berbeda untuk kedua insan yang sedang dimabuk asmara ini.


Mereka memulai aktivitas dengan percintaan panas yang membakar api gairah dalam diri mereka.


Brian melakukannya berbeda dari caranya memperlakukan wanita bayarannya dulu.


Pria itu lebih mementingkan gadis ini dari pada hasratnya yang menggebu-gebu, apalagi setelah mengetahui ini merupakan yang pertama bagi istrinya, Brian berusaha memperlakukan Aqira selembut mungkin.


Dia tidak ingin menyakiti gadis ini.


"Aku mencintaimu.." lirih Brian, kemudian menghapus air mata Aqira yang mengaliri pipinya.


Brian kembali menghujani ciuman di wajah Aqira dengan sayang, seolah menyesali telah menyakiti Aqira baru saja.


Ya, Brian telah mengambil mahkotanya, semua hal berharga yang begitu dijaganya, kini sudah diserahkannya pada pria ini.


"Ya Tuhan, semoga pilihanku ini benar." lirih Aqira dalam hati, di sela percintaan panas mereka.


•••


Brian menjatuhkan tubuhnya di samping Aqira. Nafas keduanya masih terengah-engah, dengan keringat yang masih membasahi tubuh polos mereka.


Kemudian menarik tubuh mungil Aqira ke dalam dekapannya. Membenamkan kepala gadis itu di atas dadanya yang masih basah akan peluh setelah kegiatan panas mereka.


"Aqira..." panggil Brian setelah menyelimuti tubuh polos mereka dengan sprei yang sudah kusut tidak karuan.


"Hmm.." jawab Aqira lemah, hampir jatuh dalam tidurnya.


"Aku mencintaimu..." lirih Brian di telinga Aqira.


"Hmm..." gumaman Aqira sebagai tanda bahwa gadis itu benar-benar telah jatuh dalam tidurnya.

__ADS_1


Brian mengusap lekuk punggung Aqira yang lembab, memberikan sedikit pijatan di sana, agar Aqira tidur dengan lelap.


__ADS_2