JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Sindy Jatuh Cinta


__ADS_3

Like dulu sebelum baca


Sore ini, sesuai janjinya dengan dokter kandungan Aqira akan melakukan kontrol yang pertama sore ini.


Dan Sindy akan selalu mendampinginya hari ini, dan untuk seterusnya Sindy berjanji akan selalu menemani teman baiknya itu.


Setelah minta izin kepada Brian berdalih mengerjakan tugas bersama Sindy, dan akan pulang sedikit terlambat, Aqira pergi ke rumah sakit.


Proses kontrol pemulihan rahim tidak membutuhkan waktu lama. Dokter menjelaskan beberapa gaya hidup yang harus Aqira jalani agar tubuhnya tetap sehat dalam menjalani proses ini.


Setelah beberapa jam di rumah sakit Aqira dan Sindy akan pulang. "Kau dengar kan apa yang dokter katakan tadi?" ujar Sindy dengan senyum menjengkelkan.


Aqira berdecak, "Diamlah Sin." desis Aqira.


Sindy malah tertawa, "Kenapa? Aku hanya mengingatkanmu agar rajin melakukan itu dengan suamimu." Sindy tertawa meledek.


"Dasar, kenapa otakmu jadi mesum Sindy?" kesal Aqira menghentakkan tangan Sindy.


Sindy semakin tertawa terbahak-bahak, melihat teman baiknya kesal.


Di dalam mobil keduanya sibuk dengan ponselnya masing-masing.

__ADS_1


Hingga Sindy teringat sesuatu. "Qira?" panggil Sindy.


"Ya Sin, ada apa?" jawab Aqira mengalihkan pandangannya kepada Sindy.


Sindy sedikit ragu ingin mengatakannya, "Mmm Qira boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tentu saja boleh, kenapa harus minta izin dulu, aneh." Aqira mendelik, karena biasanya Sindy akan bertanya sesukanya.


"Kau..kau punya hubungan apa dengan Kak Hans?" tanya Sindy pelan.


Aqira melihat Sindy lekat, "Kau menyukai Kak Hans?" tanya Aqira tiba-tiba. Membuat Sindy menjadi salah tingkah.


"Eh tidak tidak," menggoyangkan telapak tangannya di depan Aqira.


"Kenapa kau berkata begitu, aku kan tidak bilang kalau aku menyukainya." tutur Sindy.


Aqira terkekeh dibuatnya, "Sindy, kau pikir aku bodoh. Aku tau kok sejak pertama kali bertemu Kak Hans kau sudah menyukainya."


Sindy semakin dibuat salah tingkah oleh Aqira, dia merutuki dirinya yang tidak pandai berbohong.


Sindy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tersenyum kikuk melihat Aqira.

__ADS_1


Aqira tersenyum menyeringai, "Aku kira kau tidak akan pernah jatuh cinta, mengingat dirimu yang belum pernah pacaran itu." ledek Aqira.


Sindy mencekik kesal, "Kau..!"


Aqira terkekeh, lalu menarik tubuh Sindy, "Tenang saja Sin, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Kak Hans, kami hanya berteman biasa." ucapan Aqira membuat Sindy merasa lega.


"Tenang saja, aku akan membantumu dekat dengan Kak Hans." ujar Aqira lagi.


"Benarkah?" Sindy tersenyum, yang diangguki oleh Aqira.


"Tapi Qira, sepertinya Kak Hans tidak menyukaiku." Sindy menjadi murung ketika mengingat kemarin, Hans yang mengabaikannya saat pertama kali bertemu. Sindy bagaikan tak kasat mata bagi Hans, yang selalu fokus dengan Aqira.


"Sin, jangan pesimis begitu. Tidak mungkin kan Kak Hans langsung mencintaimu padahal kalian baru bertemu. Semuanya butuh waktu Sin." Aqira mencapit hidung Sindy gemas.


"Aku juga baru bertemu, tapi kenapa aku sudah menyukainya?"


"Dasar bodoh. Itu namanya cinta pada pandangan pertama." ujar Aqira kesal.


"Dengar ya Sin, jika kalian sering bertemu lama kelamaan Kak Hans juga akan menyukaimu. Tapi kau harus sedikit bersabar, karena melihat Kak Hans orangnya susah dekat dengan orang lain." jelas Sindy.


Sindy mengangguk, "Tapi janji ya, kau akan membantuku." tanya Sindy yang diangguki oleh Aqira.

__ADS_1


"Janji." ucap Aqira bertepatan mobil sudah sampai di pekarangan rumah Sindy.


Aqira langsung pulang ke rumahnya yang berjarak tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan Sindy.


__ADS_2