
Happy Reading
Like dulu sebelum baca
Brian menuruni anak tangga rumahnya menuju ruang makan, sambil memasangkan dasi di lehernya.
"Selamat pagi sayang." sapa pria itu pada Aqira yang sedang menata makan di atas meja makan.
"Pagi..." jawab Aqira sambil tersenyum melihat Brian yang sedang memasang dasinya.
"Sini kubantu." mendekati Brian untuk memasang dasi suaminya.
Aqira sedikit menjinjitkan kakinya agar dapat menjangkau leher Brian.
Dengan lihai tangan mungil itu memasangkan dasi Brian.
Brian tersenyum hangat melihat istrinya yang begitu telaten dalam mengurus dirinya.
Pria itu benar-benar beruntung memiliki istri seperti Aqira.
Setelah selesai memasang dasinya, Brian langsung menangkup pinggang ramping Aqira, sebelum wanita itu menjauh darinya.
"Terima kasih sayang." ujarnya, kemudian mencium kedua pipi Aqira dengan mesra.
Aqira tersenyum malu-malu, "Sama-sama sayang." kemudian melepaskan diri dari rangkulan Brian.
Brian menjatuhkan bokongnya di atas kursi makan, sedangkan Aqira duduk di sampingnya sambil menyendokkan makanan untuknya.
"Sayang.. kau jadi ke rumah Mommy dan Daddy?" tanya Brian disela sarapannya.
"Hmm... iya. Hari ini aku libur kuliah, jadi aku mau pulang ke rumah untuk menjenguk Daddy." jawabnya sambil menyodorkan piring Brian.
Brian mengerutkan keningnya, "Menjenguk Daddy?"
"Iya, kemarin aku belum sempat menjenguk Daddy setelah keluar dari rumah sakit." jelasnya lagi.
Hingga Brian dapat mengingatnya, membuat pria itu tertawa dalam hati. Ternyata istrinya masih termakan sandiwara kedua orangtuanya.
Hah tapi biarkan sajalah, Brian juga senang kalau ternyata Aqira juga menyayangi kedua orang tuanya.
"Ohh." Brian membulatkan bibirnya.
"Kalau begitu, makanlah cepat. Aku akan mengantarmu ke rumah Daddy." mengusap surai hitam milik Aqira.
Aqira hanya tersenyum, lalu melanjutkan sarapannya lagi.
Setelah selesai sarapan Brian dan Aqira berangkat menuju rumah Daddy dengan Joe yang mengendarai mobil.
"Aku turun dulu sayang." tangan Aqira bergerak membuka pintu mobil.
"Tunggu dulu." Brian menarik tangan Aqira.
"Ada apa?"
"Cium dulu." menunjuk pipinya.
__ADS_1
"Tidak mau. Ada Joe di sini." bisik Aqira.
Wanita itu tidak mau terjadi kejadian seperti yang sudah-sudah.
"Joe..." panggil Brian.
"Saya tidak melihat apa-apa Tuan." ujar Joe dengan dingin. Pria malang itu seperti sudah tahu apa maksud dari Tuannya.
"Dengar sendiri kan?" ujar Brian.
Aqira masih tidak bergerak, "Ya sudah kalau tidak mau, kita akan terus di mobil ini sampai kau menciumku." menunjukkan seringaian licik di wajahnya.
Aqira sangat geram dengan kelakuan pria yang satu ini. Akhirnya dengan berat hati, dan menahan malu Aqira mengecup bibir Brian sebentar. Lalu dengan cepat turun dari mobil, sebelum suaminya berbuat lebih gila lagi.
Wanita itu cepat-cepat menutup pintu mobil, memasuki rumah mertuanya setengah berlari.
Sedangkan Brian terkekeh melihat sikap malu-malu istrinya, "Dasar sikap pemalunya itu membuatku gemas." lirih Brian, dan ternyata masih dapat didengar oleh Joe.
"Iya Tuan, Nona memang menggemaskan." sahut Joe tanpa sadar.
"Itulah istriku, malu-malu tapi mau." sahut Brian sambil memandangi istrinya yang berjalan memasuki rumah orangtuanya.
Sampai Brian menyadari sesuatu, lalu matanya melotot kepada Joe.
"Kau bilang apa tadi?" desis pria itu.
Joe tersadar apa yang diucapkannya baru saja. "Mulut sialan." umpat pria itu dalam hati sambil menepuk mulutnya.
"Ma..maaf Tuan, saya salah bicara." ucap Joe tergagap.
"Maafkan saya Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Sekali lagi kau memuji istriku, kugantung terbalik kau di atas menara eiffel." ketus pria itu.
Joe ketakutan, "Saya janji Tuan, saya tidak akan melakukannya lagi." Tuannya ini tidak pernah main-main dengan perkataannya.
"Hmm. Cepatlah jalan." memperbaiki duduknya dengan cool.
•••
"Mommy... Daddy..." teriak Aqira kepada kedua mertuanya yang hanya berjarak beberapa meter darinya. Nampaknya mereka sedang menikmati matahari pagi di taman belakang.
"Sayang.. jangan lari-lari." tegur Risa.
Melihat menantunya lari-lari seperti itu, membuatnya cemas pada menantu kesayangannya itu.
Aqira menyengirkan bibirnya dan langsung memeluk Risa sesaat setelah sampa.
"Aku rindu Mommy." manja Aqira.
"Heh kau ini, sudah menjadi istri tapi sifatmu masih seperti anak kecil saja." Risa terkekeh.
Aqira kembali menyengir menanggapi ibu mertuanya itu.
"Ohh jadi hanya Mommya yang dirindukan, dan Daddy tidak, begitu?" ujar Darman yang sedari tadi memperhatikan tingkah kedua wanita itu.
__ADS_1
"Daddy... tentu saja aku merindukanmu. Tujuan utamaku kemari adalah untuk melihatmu." ujar Aqira lalu beralih memeluk sang ayah mertua.
"Menantu kesayanganku." ucap Darman sambil mengusap kepala Aqira.
"Bagaimana keadaan Daddy?" tanya Aqira setelah melepaskan pelukannya.
"Kau lihat sendiri... Daddy sudah lebih sehat." jawab Darman santai.
Tentu saja itu hanya akal-akalan saja, padahal dari dulu pria itu selalu sehat jasmani.
"Syukurlah Daddy sudah sehat. Mulai sekarang Daddy harus jaga kesehatan ya." ucap Aqira sambil duduk di antara kedua mertuanya.
"Wah.. Kakak ipar kau sudah sampai?" tiba-tiba Sasha datang sambil membawa minuman di atas nampan.
"Iya Sasha, aku baru saja sampai diantar oleh Brian. Katanya pagi ini ada meeting penting jadi tidak sempat untuk mampir." tutur Aqira.
"Kami mengerti, anak tengil itu memang sangat sibuk dari dulu. Jadi kau tolong maklum padanya ya sayang?" Risa menimpali.
"Tentu saja Mom, lagipula Brian juga bekerja untuk kita semua." memegang tangan Risa.
"Oh ya, sekali lagi jangan lari-lari lagi ya." Risa memperingatkan.
"Kau harus berhati-hati, siapa tau sudah ada Brian junior di sini." tangan Risa beralih menyentuh perut Aqira.
Aqira hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan ibu mertuanya.
Dalam hati dia mengaminkan ucapan Risa.
Mereka berbincang-bincang di taman itu sampai sesekali terdengar tawa dari mereka akibat ocehan lucu dari Aqira.
Darman melihat menantunya itu dengan perasaan bahagia. Sungguh beruntung Brian memiliki istri sebaik Aqira.
Tak terasa hari sudah semakin siang, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian, Sasha yang baru pulang sekolah mengajak Aqira untuk keluar
untuk membeli keperluan sekolahnya.
Dan di sinilah mereka, duduk di sebuah foodcourt di salah satu pusat perbelanjaan.
Kedua wanita itu sedang menikmati makan siangnya karena tidak sempat makan dari rumah.
"Kak, aku ke toilet dulu sebentar. Aku sudah tidak tahan." pamit Sasha disela makan mereka.
"Iya, cepatlah. Jangan sampai nanti bocor di tengah jalan." canda Aqira.
Sasha tidak menjawab, gadis itu terburu-buru meninggalkan Aqira.
"Hah leganya." gumam Sasha yang baru saja keluar dari toilet.
Gadis itu berjalan kembali menuju tempat Aqira menunggunya.
Saat melewati toilet laki-laki tiba-tiba seorang pria tidak sengaja menabraknya, dan hampir terjatuh karena pria itu menahan pinggangnya.
Sasha memekik, sesaat kemudian terdiam menatap orang yang menabraknya.
__ADS_1
Mata gadis itu menampakkan keterpesonaan kepada orang itu.