
LIKE DULU SEBWLUM BACA
Aqira berangkat ke kampus dengan wajah lesunya. Hati dan pikirannya begitu kalut pagi ini.
Karena Brian sedang marah kepadanya Aqira berangkat ke kampus diantar oleh sopir pribadinya.
Di ruang kelasnya Aqira juga terlihat tidak bersemangat mengikuti mata kuliahnya. Sikap Aqira tentunya menimbulkan pertanyaan di benak Sindy.
"Qira, kau kenapa, kau terlihat tidak bersemangat hari ini." tanya Sindy yang sudah duduk di samping Aqira.
"Aku tidak apa-apa Sindy." jawab Aqira singkat.
"Benarkah?" Aqira mengangguk.
"Tapi kulihat kau seperti tidak baik-baik saja." ujar Sindy sambil memperhatikan wajah lesu teman baiknya.
"Aku sungguh tidak apa-apa Sindy." jawab Aqira.
Sindy terdiam, mungkin Aqira sedang tidak ingin bercerita. Mungkin saja Aqira sedang punya masalah pada rumah tangganya, dan dia tidak berhak untuk ikut campur jika Aqira tidak mengizinkan.
Sindy kembali ke tempat duduknya, tetapi matanya terus mengawasi Aqira.
Aqira kini sedang memikirkan sikap Brian tadi pagi kepadanya, mengabaikannya.
Aqira berinisiatif untuk mengambil hati Brian. Segera diambilnya ponselnya dari tas, kemudian mengetikkan nama kontak suaminya.
__ADS_1
"Sayang, kau ingin makan apa siang ini, biar aku buatkan." begitulah pesan yang dikirimkannya kepada suaminya.
Aqira menunggu beberapa menit, menunggu balasan dari suaminya.
Wajahnya menjadi murung ketika melihat pesannya terbaca tapi tidak ada balasan sama sekali.
Brian benar-benar marah padanya.
Sepulang kuliah Aqira berencana untuk menyusul suaminya ke perusahaan.
Kelas mata kuliah terasa lambat bagi Aqira, ingin sekali rasanya Aqira keluar dari kelas ini.
Akhirnya kelas selesai pukul setengah dua belas.
"Sindy kau pulang sendiri ya. Aku mau ke kantor Brian." ujarnya pada Sindy sambil berjalan di sepanjang koridor kelas.
Aqira pergi ke kantor Brian diantar oleh sopir pribadinya.
Setelah dua puluh menit perjalanan, Aqira sampai di sana.
Aqira menggunakan list khusus petinggi perusahaan seperti biasa dia naiki bersama Brian.
Sesampainya di lantai dua puluh lima, lantai ruangan suaminya, Aqira tidak mendapati Joe maupun sekretaris suaminya yang lain di sana.
Oleh sebab itu, dia langsung masuk ke ruangan Brian.
__ADS_1
"Saya..." ucapan Aqira terpotong kala mata lebarnya menyaksikan suaminya sedang bercumbu dengan seorang wanita di dalam sana.
Dan betapa sakitnya hati Aqira, ketika mengetahui siapa wanita yang sedang duduk di pangkuan suaminya.
Jessi, wanita itu adalah Jessi, mantan kekasih suaminya. Mereka berdua juga tak kalah terkejutnya.
Wajah Brian seketika menjadi puas, tapi lain halnya dengan Jessi, wanita tidak tau malu itu menyeringai puas melihat ke arah Aqira.
"Sayang.." panggil Brian, lalu mendorong tubuh Jessi dengan kasar hingga terjengkang di lantai.
Brian berdiri, kemudian berjalan menghampiri Aqira.
"Sayang ini tidak seperti yang kau lihat." ucap Brian dengan wajah cemasnya.
Dengan pandangan nanar, seraya membekap mulutnya Aqira berjalan mundur.
"Kau jahat." teriak Aqira, kemudian berbalik meninggalkan Brian yang berdiri terpaku di sana.
Langkah kakinya bergerak seraya dengan suara hillsnya yang saling bergesekan dengan lantai keramik itu.
Aqira berlari setelah lift yang mengangkutnya terbuka, tanpa mempedulikan para pegawai kantor yang melihatnya dengan heran.
Sampai di luar kantor Aqira segera memberhentikan taksi yang lalu-lalang di jalan raya.
Wanita itu memasuki taksi dengan derai air mata yang membasahi wajahnya.
__ADS_1
Aqira mendudukkan tubuhnya yang kelelahan akibat berlari. Menarik nafas dalam seraya memejamkan kedua kelopak matanya.
Dia sungguh tidak percaya apa yang baru saja dia lihat.