JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Rencana


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA


Brian menceritakan masalah rumah tangganya kepada Arian.


Mendengar cerita sahabat baiknya itu, Arian juga sama emosinya seperti Darman ketika mengetahui bahwa Jessi mengganggu rumah tangga sahabatnya.


"Brian." panggil Arian serius.


"Apa?" jawab Brian menatap Arian heran, karena sahabatnya ini jarang menggunakan wajah serius itu saat bersamanya.


"Sebagai sahabat yang baik, kusarankan kau harus tegas pada Jessi. Jangan membuatnya berharap, bahwa kau masih menginginkannya. Lihatlah, jika sedari dulu kau tegas padanya, hal ini tidak akan terjadi padamu." tutur Arian serius.


Arian benar, Brian memang tidak tegas pada Jessi. Sikap diamnya selama ini yang membiarkannya menemui Aqira ternyata telah disalahartikan oleh. wanita itu.


Apalagi saat pertama kali mereka bertemu setelah beberapa tahun tidak bertemu, Brian malah memeluknya di depan Aqira, yang mana membuat Jessi merasa bahwa Brian masih mencintainya.


"Sudah beberapa kali aku mengingatkan wanita itu, tapi sepertinya dia sudah terobsesi denganku. Kau tau, wanita itu bahkan mengancamku akan menyakiti istriku." ucap Brian sembari menyesap minuman alkohol yang baru saja dituangnya.


"Mengancam?" tanya Arian kaget.


Brian mengangguk, "Aku rasa wanita itu sudah gila."


"Gila harta."

__ADS_1


"Bro, kurasa kau harus menjaga istrimu dengan ketat. Seperti yang kau bilang, Jessi terobsesi denganmu. Setahuku orang yang sudah terobsesi akan melakukan apa saja demi mendapatkan tujuan mereka. Jadi tidak menutup kemungkinan, Jessi akan benar-benar melakukan ancamannya kepada istrimu, di saat kau lengah." jelas Arian.


Brian mengangguk, "Kau benar. Aku sudah meminta Daddy mengirimkan anak buahnya untuk mengawasi Jessi dan untuk menjaga istriku di luar." jawab Brian.


"Kenapa wanita sangat menakutkan." ujar Arian seraya meneguk minumannya.


"Sekarang masalahku yang lebih parah adalah istriku sendiri. Menurutmu apa yang harus kulakukan agar dia mau menemuiku." tanya Brian kepada sahabat baiknya itu.


Arian terkekeh, "Kau sudah ditaklukkan anak kecil itu Brian." ujarnya dengan senyum meledek.


Brian menendang kecil kaki Arian, "Aku sedang meminta saranmu, bukan ejekanmu." ucap Brian mendelikkan matanya melihat sahabat menyebalkan itu.


"Tenang, jangan sensitif begitu Bro." Arian tertawa kecil.


"Heh Kau pikir istriku burung?!"


Arian tidak menghiraukan kekesalan Brian. "Diamlah, dengarkan aku. Kau ingin bertemu istrimu tidak?" sebuah kesempatan bagi Arian untuk membentak Brian saat ini. Dan benar saja, Brian langsung terdiam.


"Istrimu akan mendatangimu dengan sendirinya, saat kau sudah mati." Arian langsung tergelak menikmati wajah Brian yang kini menatapnya jengkel.


"Kau!!!" geram Brian.


"Tenang Brother." masih dengan senyum jenakanya.

__ADS_1


"Kemari." perintah Arian mengkode dengan dua jarinya.


"Kau mau apa? Jangan macam-macam." Brian masih saja kesal.


"Kubilang kemari!" perintah Arian.


Dengan kesal, Brian mendekatkan telinganya di depan Arian.


Arian membisikkan sesuatu kepadanya.


"Apakah itu akan berhasil?" tanya Brian yang masih ragu akan rencana sahabatnya itu.


"Tenang saja. Jika istrimu benar-benar mencintaimu, dia pasti akan berlari mendatangimu."


Brian mengangguk, "Terima kasih Bro atas saranmu." ucap Brian, menepuk bahu Arian.


"Jangan sungkan, kita ini sahabat bukan. Kutunggu kabar baik darimu." ujar Arian.


Brian pulang dari club saat jam menunjukkan pukul setengah satu. Pria itu masih memikirkan rencana sahabatnya tadi, semoga saja berhasil, harap pria itu.


"Sayang aku merindukanmu."


LOVE YOU ALL

__ADS_1


__ADS_2