
Seminggu setelah kedatangan Jessi ke kantor Brian, Jessi kembali menghubungi Aqira. Sebenarnya hampir setiap hari wanita itu menghubungi Aqira, tapi Aqira tidak pernah menjawabnya dan mengabaikan pesan dari Jessi. Akhirnya dengan terepaksa Aqira menjawab telepon Jessi kali ini. Jessi kembali mengajak Aqira bertemu lagi seperti biasanya. Dengan persetujuan dari Brian, Aqira akhirnya mau bertemu dengan Jessi.
Aqira semakin geram kepada Jessi, nampaknya wanita itu sangat berambisi untuk merebut suaminya lagi.
Baiklah, kali ini Aqira akan menemui Jessi. Bukan sebagai teman, melainkan sebagai istri yang ingin mempertahankan rumah tangganya. Kali ini Aqira akan membuktikan pada Jessi bahwa Brian sudah menjadi miliknya dan dirinya tidak punya kesempatan untuk merebut Brian darinya.
Tidak lupa Aqira mengajak Sindy untuk ikut menemaninya bertemu Jessi. Keduanya kini sedang dalam perjalanan menuju kafe tempat mereka biasanya bertemu. "Kenapa kau masih mau menemui wanita licik itu?" tanya Sindy melihat Aqira yang duduk di sampingnya.
"Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu kepada wanita ular berkepala tujuh itu." ucap Aqira dengan percaya diri.
"Ular berkepala tujuh?" bingung Sindy.
"Ya, itu panggilan Brian untuk wanita licik itu." Aqira tertawa puas.
Cindy juga ikut tertawa, "Panggilan itu memang cocok untuknya.
"Aku heran saja, kenapa wajah sepolos itu ternyata menyimpan banyak kebusukan, aku sangat menyayangkan wajah itu." Sindy menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aqira mengangkat kedua bahunya acuh, tepat mobil mereka sampai di tempat tujuan mereka. Keduanya berjalan beriringan memasuki kafe. Tepat di pintu masuk seseorang tidak sengaja menabrak Sindy, membuat tubuh gadis itu terhuyung tetapi tertahan saat sebuah tangan kekar menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Sejenak pandangan Sindy terpaku pada mata yang juga memandangnya.
"Kak Hans." panggil Aqira yang memutus pandangan Sindy dengan pria itu.
Hans melepas tangannya yang melingkar sempurna di pinggang Sindy.
"Aqira.." panggil Hans dengan senyum manis menghiasi wajah tampannya, Hans tidak menyangka akan bertemu Aqira, gadis pujaan hatinya.
"Aqira kau di sini? Sedang apa?" tanya Hans dengan dongkolnya, pria itu sangat gugup sekarang.
"Ah itu, aku dan temanku ingin menemui seseorang." jawab Aqira memegang lengan Sindy.
"Mmm bolehkah aku bergabung?" tanya Hans ragu.
Aqira terdiam sejenak, bukankah Hans hendak meninggalkan kafe ini, bingungnya.
"Bukankah Kak Hans mau pergi?"
"Sepertinya aku tidak jadi pulang, kita sudah lama tidak bertemu, tidakkah kau merindukan kakakmu ini?" ucap Hans dengan nada bercanda.
"Kak Hans bisa saja."
"Apakah aku bisa bergabung?" tanya Hans lagi.
Aqira tersenyum, "Tentu saja, ayo masuk." ajak Aqira melanjutkan langkahnya memasuki kafe. Aqira dengan mudahnya mengizinkan Hans bergabung, dia pikir suaminya tidak akan marah karena Sindy juga ada bersamanya.
Hans begitu senang, dia tidak menyangka akan bertemu Aqira hari ini, mengingat betapa sulitnya menemui Aqira setelah pertemuan terakhir mereka. Tampaknya Brian memang sengaja menjauhkan Aqira darinya.
__ADS_1
Sedangkan Sindy yang sedari tadi gadis cerewet itu hanya memandang Hans dengan penuh arti. Ada suatu getaran aneh dalam hatinya setelah pertama kali melihat Hans. Sindy berjalan di belakang Hans dan Aqira yang berjalan beriringan di depannya, pandangannya tidak lepas dari Hans barang sedikitpun.
Ketiganya duduk di meja bundar berhadapan, dengan Aqira berada di antara Hans dan Sindy. Hans mengajak Aqira mengobrol setelah memesan pesanan mereka, tidak sedikitpun Hans mempedulikan Sindy, gadis yang beberapa menit lalu ditabraknya .Aqira juga sebenarnya tidak ingin mengacuhkan teman baiknya, tapi pembicaraan mereka kurang dimengerti oleh Sindy. Karena Hans dari tadi selalu membahas kenangan mereka dulu, membuat Aqira mau tidak mau menanggapi pria itu. Sindy hanya menjadi pendengar di meja itu, sesekali dia membuka ponselnya untuk mengurangi kecanggungannya di situasi ini.
Kecanggungan itu berakhir ketika orang yang sedari tadi mereka tunggu datang dengan santainya, duduk di kursi salah satu kursi yang kosong.
"Hai Aqira, Sindy." tegur Jessi begitu duduk di kursinya.
"Hai." sapa Aqira dan Jessi berbarengan.
Jessi menoleh ke arah Hans yang duduk di sampingnya, yang juga memandangnya penuh tanya.
"Hans?" panggil Jessi dengan menaikan sebelah alisnya.
Hans mengubah mimik wajahnya, lalu menoleh kepada Aqira.
"Kak Hans kenalkan Jessi." ucap Aqira seakan tau maksud tatapan Hans.
"Kami sudah saling mengenal Aqira." sambar Jessi.
"Benarkah?" tanya Aqira melihat Hans.
Hans hanya mengangguk membenarkan ucapan Jessi.
"Kami satu kampus dulu, jadi jangan heran jika kami saling mengenal. Brian juga kenal dengan Hans." jelas Jessi. Aqira mengangguk, dia juga tau kalau Hans dan suaminya sudah saling mengenal jauh sebelum dia menjadi istri Brian.
Aqira mengangguk, "Ya, kami berteman." ucap Aqira tersenyum, memandang Hans yang juga tersenyum kepadanya.
Jessi memeperhatikan Aqira dan Hans secara bergantian, lalu terkunci pada Hans. Jessi melihat keanehan dari Hans, cara pandang pria itu kepada Aqira terlihat berbeda. Pandangan yang dipancarkan bukan pandangan seperti biasanya, pandangan teduh yang baru dilihatnya selama bertahun-tahun mengenal Hans.
Lamunan Jessi buyar ketika pelayan kafe datang membawa pesanan mereka.
"Ayo kita makan dulu, Jessi aku juga sudah memesan makanan kesukaanmu." ucap Aqira.
Hans menikmati minumannya sembari memandang Aqira yang makan dengan lahapnya. Hans memang tidak memesan makanan lagi, karena dia baru saja selesai makan di tempat ini, sebelum tidak sengaja bertemu Aqira.
Senyuman Hans tidak menyurut dari tadi menatap Aqira, apa lagi melihat pipi Aqira yang menggembung saat makan, lucu sekali. Kalau saja Aqira belum menikah, ingin sekali Hans mencium pipi wanita itu.
Setelah acara makan siang itu selesai, Jessi terlebih dahulu membuka pembicaraan. "Hmm sepertinya kau sangat menyukai Aqira." ujar Jessi tiba-tiba, membuat Hans, Aqira dan Sindy mengernyit bingung.
Ucapan Jessi terdengar ambigu, apa maksud Jessi. Pikir ketiga pendengar itu. Apalagi mengingat status Aqira yang sudah berstatus istri orang, membuat perkataan Jessi tidak enak didengar.
Beberapa detik suasana di meja itu hening dan terasa canggung.
Jessi tertawa kecil, "Kenapa kalian begitu tegang, ayolah aku hanya bercanda." ucap Jessi membuat mereka bernafas lega.
__ADS_1
Aqira cukup kesal akan ucapan Jessi baru saja, sepertinya wanita ular berkepala tujuh itu memiliki tujuan lain.
"Bercandamu tidak lucu." Aqira tertawa hambar untuk mencairkan suasana.
Keempat orang dewasa itu akhirnya berbincang-bincang, sesekali Sindy ikut menyahut saat ditanya, begitu juga dengan Jessi yang hanya memperhatikan Aqira dan Hans mengobrol, karena Hans nampaknya juga tidak tertarik berbicara dengannya. Hal itu mebuat Aqira menjadi tidak enak kepada Sindy yang mengabaikan temannya itu.
Aqira tidak tau harus melakukan apa, karena nampaknya Hans juga terlihat tertarik bicara dengan Sindy.
Kalau Jessi, jangan ditanya, Aqira tidak peduli dengan wanita itu.
Jessi menatap Aqira lekat, pandangannya menggelap memperhatikan wanita yang menjadi istri mantan kekasihnya. Jessi berusaha mencari apa kelebihan Aqira, sehingga membuat Brain terpikat kepada anak kecil ini.
Jessi akui Aqira memang cantik, bahkan lebih cantik darinya. Hanya wajahnya saja, yang lainnya biasa saja, dibandingkan dengan dirinya, memiliki tubuh yang menarik dan menonjol di bagian-bagian tertentu. Pasti membuat lelaki manapun yang melihatnya pasti bertekuk lutut kepadanya.
Sesaat kemudian Jessi menyadari sesuatu, Wanita itu melihat perut Aqira yang masih rata. Jessi mengingat-ingat usia pernikahan Brian dan Aqira, sudah hampir setahun usia pernikahan mereka harusnya Aqira sudah mengandung bukan? pikir Jessi.
Jessi menarik sudut bibirnya, nyaris tak terlihat. Dia masih ingat masa-masa saat dirinya menjadi kekasih Brian beberapa tahun silam. Brian selalu membahas tentang pernikahan mereka di masa depan dan ingin sekali memiliki banyak anak jika mereka sudah menikah. Di setiap pembahasan mereka, Brian pasti menyinggung betapa besarnya keinginan pria itu memiliki anak.
"Wanita miskin ini pasti tidak bisa memberikan keturunan."
Ini akan semakin mudah bagiku." gumam Jessi tersenyum licik.
"Aqira." panggil Jessi membuat percakapan Aqira dan Hans terpotong.
"Ya Jessi?" jawab Aqira mengalihkan pandangannya kepada Jessi.
"Begini aku ingin menanyakan sesuatu?" Jessi menggantung ucapannya.
Aqira melihat Jessi penuh tanya, menunggu Jessi melanjutkan ucapannya.
"Maaf jika aku terlalu lancang, aku tidak memiliki maksud apa-apa, tapi percayalah aku hanya penasaran saja."
Hans dan Sindy juga menatap Jessi penasaran akan apa pertanyaan Jessi.
"Pernikahanmu dengan Brian sudah menjalani satu tahun bukan?" Aqira mengangguk membenarkan Jessi, tapi di satu sisi Aqira bingung, kenapa Jessi menanyakan hal itu. Perasaannya mendadak tidak enak.
"Mmm kenapa kalian belum memiliki anak?"
Halo semua.
Maaf ya kalo seminggu ini Lisa nggak update. Akhir-akhir ini author lagi disibukkan sama tugas2 kuliah, jadi waktu buat nulis juga berkurang.
Sebenarnya author mau nyerah aja lanjutin novel yang satu ini, mau fokus novel Balas Dendam Tuan Muda aja. Tapi ga enak rasanya kalo cerita ini nanggung, jadi dalam waktu dekat ini Novel Jodohku pembantuku bakal aku tamatin.
Oh ya, kalian jangan lupa cek novel aku yang satu lagi ya, dijamin seru deh.
__ADS_1
Judulnya BALAS DENDAM TUAN MUDA.