
Happy Reading all
Like dulu sebelum baca
Wanita itu menarik napasnya dalam hingga berulang kali, bertujuan untuk meredakan luapan tangisnya yang tercekat di tenggorokannya.
Tangan mungilnya bergerak menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. Tangan kirinya masih terkepal kuat, meremas gambar foto yang menjadi sumber kekalutannya saat ini.
Manik coklatnya memandang nanar taman bunga di depannya, yang bergoyang melenggak akibat terpaan angin malam.
Beberapa saat wanita itu meluapkan tangisnya, setidaknya itu dapat meredakan segala rasa sakit yang ada dalam hatinya.
Setelah pikiran wanita itu cukup jernih, Aqira mulai memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah ini.
Dirinya tidak boleh gegabah, setidaknya dia harus tahu kebenarannya terlebih dahulu.
Aqira ingin tahu bagaimana perasaan lelaki itu kepadanya.
Jika memang benar suaminya hanya berpura-pura selama ini, maka dia akan mundur. Wanita itu sudah cukup sabar menghadapi perbuatan Brian kepadanya dulu.Dan jika asumsinya ini benar-benar terjadi, maka dirinya lebih baik meninggalkan Brian daripada terus-terusan menderita di sisi lelaki itu.
Aqira tidak ingin, jika dirinya salah mengambil langkah, bisa saja hal itu akan berujung penyesalan nantinya. Lebih baik memastikannya lebih dulu sebelum mengambil keputusan selanjutnya.
Aqira bangkit dari duduknya perlahan, melangkahkan kakinya menuju rumah.
Tangan mungilnya kembali mengusap wajahnya yang sembab, kemudian memasukkan gambar foto wanita itu ke dalam kantong piyamanya.
Aqira sudah mengambil keputusan, dirinya memilih untuk berpura-pura tidak tau saja.
Dan menjalani kehidupan rumah tangganya dengan Brian seperti biasa.
Aqira pikir ini adalah pilihan terbaik, dengan begitu dia akan dapat melihat bagaimana perasaan suaminya sebenarnya.
Sebelum menaiki tangga, Aqira terlebih dahulu membasuh wajahnya di kamar mandi lantai bawah.
Aqira tidak ingin Brian melihat wajah sembabnya, sehingga akan menimbulkan kecurigaan suaminya.
Ketika sampai di kamar mereka Aqira melihat suaminya baru keluar dari walk in closet.
Brian tersenyum ketika melihat kedatangan istrinya, "Sayang kau dari mana?" tanyanya sambil berjalan menghampirinya.
Aqira membalas senyuman Brian, "Aku dari bawah tadi." tubuhnya mendadak kaku saat Brian merengkuh tubuhnya lalu meninggalkan kecupan hangat di keningnya.
Brian dapat merasakannya, kemudian menatap wajah istrinya intens.
"Ada apa sayang? Kau menangis?" tangan kekarnya mengusap sebulir air mata yang bertengger di sudut mata istrinya.
"Air mata bodoh..." umpat Aqira dalam hati.
"Iya... tadi aku menonton film sedih bersama Bi Lusi, kau tau suaminya itu sangat jahat."
Hanya itulah alasan yang dapat dibuatnya, alasan yang sama di malam dia melihat Brian sedang bercinta dengan wanita lain di rumah ini.
"Sudah jangan diceritakan lagi, mulai sekarang aku melarangmu menonton film seperti itu lagi. Aku tidak suka melihatmu menangis. Mengerti?" sambil mengusap wajah Aqira.
"Hmm.. aku mengerti." menganggukkan kepalanya.
"Brian.. sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku? kalau kau memang hanya berpura-pura, tapi kenapa sandiwaramu sesempurna ini?" lirih Aqira dalam hati.
"Ya sudah. Ayo tidur aku sudah lelah." menarik Aqira ke atas ranjang.
Aqira merebahkan tubuhnya di pelukan Brian, dengan hati yang masih berkecamuk penuh pertanyaan.
__ADS_1
Hampir saja dia memejamkan matanya, tetapi gagal ketika dirinya merasakan tangan Brian berkeliaran di tubuhnya.
"Sayang?" panggilnya pelan.
"Hmm...?" gumamnya. Bibirnya sudah menciumi tengkuk wanita itu dengan tangannya yang masih sibuk menjamahi tubuh istrinya.
"Tadi kau mengatakan sudah lelah, tapi..." ucapannya terpotong oleh Brian.
"Kalau untuk ini aku tidak akan pernah lelah." terdengar suaranya yang sudah berat.
Brian membalikkan tubuh Aqira, menindih wanita itu dalam kungkungannya.
Lelaki itu menatap Aqira dengan penuh cinta, lalu tangannya menyibakkan surai hitam istrinya ke balik telinganya, seakan meminta persetujuan dari wanita itu.
Melihat tindakan Brian kembali membuat Aqira menjadi bingung, dia dapat melihat cinta dalam mata pria itu, tetapi jika mengingat foto wanita itu selalu menggoyahkan hatinya untuk percaya pada Brian.
Aqira menganggukkan kepalanya menjawab tatapan suaminya.
Brian menghujani wajah wanita itu dengan kecupan sayang. Mulai dari kedua mata indahnya, hidung mungilnya dan terakhir berlabuh di bibir meronanya.
Brian kini memulai permainannya, pria itu berusaha untuk melakukannya selembut mungkin, tidak ingin membuat wanitanya kesakitan.
Brian menggulingkan tubuhnya di samping Aqira dengan nafasnya yang terengah-engah setelah kegiatan panas mereka.
Setelah cukup tenang, Brian menoleh ke samping, melihat istrinya yang juga sedang menatapnya.
Brian menegakkan punggungnya, menyenderkan punggungnya setengah berbaring di kepala ranjang.
Kemudian mengangkat tubuh Aqira ke atas tubuhnya, menyandarkan kepala wanita itu di dada bidangnya.
"Tidurlah, aku masih ada pekerjaan." tangannya beralih mengambil benda pipih lebih besar dari ponsel dari atas nakas di sampingnya.
Terlebih dahulu dia meninggalkan kecupan hangat di puncak kepala istrinya sebelum memulai pekerjaannya.
Membuat Brian mengusapkan salah satu tangannya di punggung istrinya yang sedikit lembab, dan memberikan pijatan kecil di sana.
•••
Keesokan harinya, Brian dan Aqira berangkat bersama. Brian terlebih dulu mengantar istrinya ke kampus setelah itu ke kantornya sendiri.
Di dalam kelasnya Aqira tidak fokus dalam pelajarannya, hingga dosennya beberapa kali menegurnya yang melamun sedari tadi.
Setelah kelasnya selesai Aqira duduk sendirian di kursi taman sembari menunggu kelas selanjutnya dimulai. Wanita itu kembali melamun di sana.
Ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran wanita itu. Tadi pagi Risa menghubunginya menanyakan apakah dirinya sudah hamil atau belum.
Hal itulah yang menjadi sumber kegelisahan Aqira sedari tadi pagi.
Bagaimana jika dia hamil dan ternyata Brian benar-benar memiliki hubungan dengan wanita di foto itu.
Bagaimana nanti nasib dirinya dan anaknya kelak.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya membuyarkan lamunan wanita itu.
"Sindy..." ujar Aqira pada temannya yang sudah duduk di sampingnya.
Sindy adalah teman satu kelasnya, mereka berteman baik mulai pertama kali Aqira masuk di kampus ini.
"Hei Nyonya Charles... ada apa dengan dirimu hari ini." tanya Sindy bercanda. Gadis ini memang memiliki sifat ceria sama seperti Aqira, makanya mereka bisa cepat beradaptasi satu sama lain.
"Kau ini, jangan memanggilku seperti itu.." kesal Aqira karena dipanggil dengan nama belakang suaminya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Satu kampus ini sudah tau kalau temanku yang paling cantik ini adalah istri dari Brian Charles, pemilik kampus ini." ujar Sindy dengan jenakanya.
"Sudah jangan katakan lagi!"
"Memangnya kenapa?"
"Aku tidak suka, ini di kampus jadi tolong jangan memanggilku seperti itu."
"Hmm.. baiklah, terserah Nyonya saja. Kalau aku membantah nanti kau melapor pada suamimu."
"Oh ya, by the way kenapa kau terlihat gelisah hari ini, ingat berapa kali tadi dosen menegurmu. Apa yang sedang kau pikirkan, apa suamimu tidak gagah di atas ranjang?" cerocos Sindy tanpa henti.
Terkadang Aqira menjadi teringat pada Bi Ane jika melihat Sindy. Kedua wanita ini sama, selalu berbicara tanpa rem membuat Aqira terkikik geli jika mengingatnya.
"Kau ini bicara apa? Dasar tidak sopan!" kesal Aqira karena ucapan terakhir temannya itu.
"Hehe maaf..." menyengirkan bibirnyan "Jadi kalau bukan itu apa lagi, apa yang membuat seorang Nyonya Charles menjadi gelisah seperti ini."
Aqira menatap Sindy intens, dia tau bahwa gadis ini adalah gadis baik. Jadi kalau dia mengatakan ini padanya Aqira yakin bahwa Sindy tidak akan membeberkannya kepada orang lain.
"Hei.. kenapa menatapku seperti itu?" menoyorkan telunjuknya di dahi Aqira.
"Sindy.." panggil Aqira dengan serius.
Seketika Sindy menatap heran pada teman baiknya ini yang mendadak serius.
"Apa?"
"Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, tapi jangan beritahu pada siapapun, aku butuh pendapat seseorang dalam masalahku ini." ujarnya sambil menatap Sindy.
"Memangnya kau punya masalah apa?"
"Janji dulu kau tidak akan mengatakan pada siapapun."
"Baiklah aku janji, kau seperti tidak mengenalku saja. Aku ini orang yang paling dapat dipercaya. Asal kau tau rahasia besar presiden saja aku tau." ucapnya dengan jenaka.
"Kau ini jangan bercanda terus, aku serius." kesal Aqira.
"Baiklah baik. Kau punya masalah apa, katakan saja, aku janji tidak akan mengatakan pada siapa pun." tanya Sindy penuh keseriusan.
Setelah melihat keseriusan dari temannya Aqira mulai menceritakan semuanya pada Sindy. Mulai dari alasan dia menikah dengan Brian sampai dirinya yang menemukan foto wanita dari dompet suaminya.
"Wah Aqira, kenapa kau mau menikahi pria seperti dia, aku tidak percaya Brian berbuat sejahat itu pada gadis sepertimu." Sindy menjadi heboh setelah mendengar cerita teman baiknya.
"Sudahlah, semua sudah terjadi.
Sekarang aku mau minta pendapatmu, apa yang harus kulakukan setelah ini." tanya Aqira dengan wajah sendunya.
Sindy menjadi kasihan kepada teman baiknya ini, kalau dia ada di posisi Aqira, Sindy yakin tidak akan mampu bertahan dan memilih pergi saja. Dia salut dengan kesabaran yang dimiliki wanita ini.
Sindy menyentuh lengan Aqira, "Aqira... aku turut sedih atas semua yang kau alami selama ini, walau kita belum lama berteman, tapi aku sudah menganggapmu seperti sahabatku. Jadi aku tidak ingin kau menderita lagi bersama pria itu."
"Jadi apa yang harus kulakukan?"
"Menurutku, sebelum kau mengetahui perasaan Brian sesungguhnya, lebih baik kau menggunakan alat kontrasepsi dulu." ucap Sindy dengan serius.
"Kontrasepsi?" lirih Aqira.
"Iya kontrasepsi, setelah kau mengetahui yang sebenarnya kau bisa mengambil langkah untuk selanjutnya."
"Ta..tapi Sin, kedua mertuaku sangat menginginkan cucu, kau ingatkan ceritaku tadi?"
__ADS_1
Sindy memegang kedua sisi bahu Aqira, "Aqira pikirkan nasibmu dan anakmu, kalau sampai Brian benar-benar memiliki wanita lain di luar sana, kau tidak inginkan anakmu akan memiliki ibu lain kan?" Sindy mengguncang pelan tubuh Aqira untuk meyakinkan teman baiknya itu.