
Happy Reading
Like dulu sebelum baca
Hans seketika tertegun setelah mendengar ucapan Brian baru saja.
Dirinya masih mencoba mencerna kata-kata Brian. Setelah mengerti akan semua ucapan Brian, Hans menundukkan kepalanya.
"Tidak mungkin." lirihnya dalam hati.
"Apa yang sudah kulewatkan mengenai Aqira beberapa hari ini." Hans menjadi larut dalam pikirannya sendiri.
"Memangnya kenapa kalau Aqira bukan gadis lagi, kau pikir aku peduli? Aku tau kau pasti yang memaksa Aqira bukan?" balas Hans.
"Sial, ternyata pria ini tidak mudah termakan provokasiku." umpat Brian dalam hati.
"Tapi lihat saja, aku tidak akan tinggal diam, aku akan membuatmu mundur dengan sendirinya sial*n."
Sedangkan Aqira, wanita itu hanya diam saja di pelukan Brian. Dirinya sungguh tidak berani untuk mengatakan apa-apa, karena jika salah bicara, bisa saja itu akan mengundang amarah dari suaminya.
"Aku memaksanya? Hei jangan sok tahu, kau bisa menanyakan pada orangnya langsung." Brian menunduk menatap Aqira, lalu jemarinya bergerak menelusuri pipi wanita itu.
"Sayang katakan padanya, apa aku pernah memaksamu?" tanya Brian pada Aqira.
Aqira pikir kalau Hans melawan Brian seperti ini, semata-mata hanya untuk menyelamatkannya dari kekejaman Brian. Dia lupa menceritakan kepada Hans jika Brian sudah berubah.
Huh lebih baik mengikuti apa yang dikatakan Brian saja, nanti dia akan membicarakan semuanya kepada Hans agar pria itu tidak salah paham lagi kepada suaminya.
"Maaf Kak Hans, aku lupa menceritakannya padamu. Sebenarnya hubunganku dengan Brian sudah membaik." ucap Aqira menatap pada Hans yang terperangah seketika.
"Aqira, jangan bicara seperti itu, aku tau pasti pria br*ngsek itu yang memaksamu bukan? Katakan saja Aqira, aku akan membebaskanmu dari pria ini." ujar Hans tidak percaya akan ucapan Aqira.
"Tidak Kak Hans, Brian tidak pernah memaksaku. Aku dan Brian saling mencintai sekarang, harusnya kakak senang karena aku sudah menemukan kebahagiaanku." tutur Aqira.
"Sudah dengar sendirikan? Jadi sekarang pergilah, jangan jadikan dirimu menjadi seorang pecundang pengganggu rumah tanggaku." ucap Brian dengan senyum sarkasnya. Pria itu puas melihat Hans yang terlihat syok.
"Pergilah! Dan ingat jangan pernah menemui istriku lagi, atau aku akan melakukan hal yang tidak akan penah kau bayangkan nantinya." ancam Brian.
"Ayo masuk sayang.." Brian menggaet tangan Aqira lalu menariknya masuk ke dalam rumah.
Hans berdiri mematung di tempatnya tadi, memandangi punggung Aqira dan Brian yang menghilang di balik pintu rumah mewah itu.
"Brian mencintai Aqira? Tidak mungkin!"
"Aku tau Brian hanya mempermainkan perasaan Aqira saja. Tapi kenapa Aqira semudah itu percaya Brian br*ngs*k itu.
Ancaman apa yang dilakukannya pada Aqira."
" Aqira pastu bohong, tidak mungkin seorang casanova seperti Brian berubah secepat itu, lihat saja aku akan membawa Aqira pergi jauh dari Brian. Aqira tidak pantas dengan pria bejat seperti Brian." ucap Hans penuh tekad.
"Aqira aku akan kembali lagi untuk membebaskanmu dan kita akan pergi jauh dari kota ini.
Aku akan mengatakan perasaanku yang sebenarnya padamu lalu kita akan memulai hidup baru bersama." lirih Hans kemudian memasuki mobilnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah Brian.
__ADS_1
Brian membawa Aqira ke kamar mereka, lalu menyuruh Aqira duduk di tepi tempat tidur mereka.
Brian berjalan mondar mandir, memikirkan memulai dari mana dia akan menanyai istrinya.
Aqira duduk diam di atas tempat tidur, menunggui amarah suaminya yang akan meledak. Dia tau ini semua akan terjadi setelah melihat mobil Hans terparkir di depan rumah mereka.
Brian duduk di samping istrinya, membuat wanita itu terlonjak kaget, dia mengira Brian akan menyakitinya.
"Katakan! Apa dia mengetahui tentang pernikahan kita?" tiba-tiba Brian bertanya.
"Eh.. iya.. Kak Hans tau, Maaf aku melakukan kesalahan dengan membeberkan urusan rumah tangga kita pada orang lain." ucap Aqira sembari menundukkan wajahnya.
"Kenapa!" Brian berusaha meredam amarahnya, dia tidak ingin sampai menyakiti Aqira lagi.
"Du.. dulu waktu kau memperlakukanku dengan buruk, hanya Kak Hanslah yang selalu menolongku. Dia yang selalu memberiku semangat untuk bisa mendapatkan hatimu.
Hingga akhirnya kami memutuskan untuk membuat tali persaudaraan di antara kami. Makanya aku selalu menceritakan banyak hal kepada kak Hans." Aqira menjelaskan dengan gugupnya. Dirinya sudah menerima kemurkaan dari suaminya.
Ternyata wanita itu salah, Brian bukannya marah, pria itu malah menarik tubuh mungilnya ke dalam dekapannya.
"Maaf... maafkan aku sayang. Aku yang salah, aku salah dulu telah memperlakukanmu dengan buruk." itulah kalimat yang terlontar dari mulut Brian.
Aqira terdiam sejenak, berusaha mempelajari sifat Brian. Pria itu tidak marah? Alih-alih memarahi Aqira, pria itu justru memohon maaf padanya.
Kini Aqira yakin jika Brian sudah benar-benar berubah dan benar-benar mencintainya.
"Aku sudah memaafkanmu, sudah berapa kali kukatakan, jangan mengingat-ingat masa lalu lagi." ucap Aqira sambil mengusap punggung kekar suaminya.
Brian melepas pelukannya, lalu tangannya bergerak mengusap pipi Aqira, "Aku benar-benar beruntung memiliki istri sepertimu." ucap Brian tulus.
"Aku yang beruntung, kau wanita yang paling sabar yang pernah aku temui." ucap Brian lagi.
"Tidak, aku yang beruntung, kau pria yang paling... yang... yang... " ucapan Aqira terhenti, bingung mau mengatakan apa. Tidak mungkinkan dia mengatakan Brian pria paling jahat yang pernah ditemuinya.
"Yang... apa? Aku pria yang....? Kenapa tidak dilanjutkan?" tanya Brian penasaran.
"Kau adalah pria terkaya yang pernah kutemui.." ucap Aqira asal.
Brian terkekeh mendengar ucapan Aqira mengenai dirinya. " Wanita ini." geram Brian.
"Apa menurutmu tidak ada satu kebaikan yang ada dalam diriku?"
"Ada..." jawab Aqira.
"Apa itu?"
"Kau adalah pria yang paling roma...ntis yang pernah kutemui." ucap Aqira dengan sedikit berlebihan.
"Benarkah?"
"Hmm.." Aqira menganggukkan kepalanya.
"Aku pikir aku tidak seromantis itu, itukan bukan seberapa dari apa yang dilakukan pria lain kepada pasangannya." ujar Brian tidak percaya.
__ADS_1
Aqira tersenyum, lalu melingkarkan tangannya di leher pria itu, "Aku tidak peduli orang bilang itu romantis atau tidak, tapi bagiku itu semua adalah hal yang paling romantis.
Kau tau, kaulah lelaki pertama yang menempati hatiku, jadi apapun yang kau lakukan itu adalah romantis bagiku." lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Wah... wahh.. wah ternyata istri kecilku ini sudah pandai berkata-kata ya..." menepuk-nepuk punggung Aqira.
Brian mencium pucuk kepala Aqira, "Aku akan melakukan hal romantis lainnya untukmu." lirih Brian.
.
.
.
.
.
.
.
Annyeong... 🤗 Lisa balik lagi.
Hai semua... pada ingat gak nih, kalo hari ini adalah hari AYAH. Jangan lupa ucapin selamat hari ayah ya sama ayah kita.
SELAMAT HARI AYAH BUAT BAPAK2 YANG JUGA BACA NOVELKU
Kalo ada bapak2nya ya 😂. Kalo ga ada ya gapapa wkwk.
....
Jangan lupa Like, coment dan vote ya 😀😀
Votenya yang banyak ya readersku semua
Love you all 😘😗
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.