JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Part 53


__ADS_3

Happy Reading all


"Sudah cukup.. aku sudah kenyang." Aqira menutup mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Satu sendok terakhir sayang.. buka mulutmu." menyodorkan sendok di depan Aqira.


Dengan terpaksa Aqira membuka mulutnya, lalu melahap makanannya.


Brian menahan senyumnya melihat Aqira.


Aqira yang masih mengenakan piyama unicorn dan rambutnya yang berantakan ditambah mulutnya yang penuh dengan makanan membuat Aqira persis seperti anak kecil.


"Ternyata aku telah menikahi balita." gumam Brian dalam hati.


Tangan Brian menarik ujung piyama unicorn Aqira, "Dari mana kau mendapat baju bayi seperti ini?" Brian terkekeh.


Aqira menepis tangan Brian, "Kau menertawakanku?" Aqira melotot.


"Tidak sayang, mana mungkin aku menertawakan istriku yang sangat lucu ini."


Brian mencubit kedua pipi chubi Aqira.


"Lepaskan." Aqira memberontak.


"Istriku ini sangat lucu kalau sedang marah." dengan cepat Brian mencuri ciuman di bibir Aqira.


"Brian..!!" teriak wanita itu.


Brian tergelak melihat ekspresi marah istrinya, wajah itu sangat lucu jika sedang marah.


"Baiklah baik, aku tidak akan mengganggumu lagi." Brian bangkit, kemudian meletakkan tangannya di punggung dan kaki Aqira.


"Heh.. kau mau apa?!" pekik Aqira yang sudah ada dalam gendongan Brian.


"Memandikanmu." jawab Brian dengan seringaian licik di wajahnya.


"Tidak.. aku tidak mau! Turunkan aku!" Aqira memberontak.


"Tidak akan sayang. Bayi kecil sepertimu harus dimandikan." Brian mengerling nakal.


Brian melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi rumah itu, mengabaikan Aqira yang meronta-ronta ingin turun.


Brian mendudukkan Aqira di sebuah kursi yang diseretnya dari dapur dekat kamar mandi itu.


Brian tau pasti tidak ada bathtup di kamar mandi Aqira.Mana mungkin ada bathtup di rumah kecil sederhana seperti itu.


"Brian jangan lancang!" teriak Aqira saat Brian akan melucuti pakaiannya.


Masih dengan seringaian liciknya, "Aku tidak lancang, kau adalah istriku, jadi aku berhak melakukan apapun kepadamu... termasuk memandikanmu." melanjutkan melucuti pakaian Aqira.


Aqira masih memberontak, "Menurutlah jika tidak aku akan memakanmu sekarang juga."


Aqira langsung diam setelah Brian mengatakan hal itu. Jangan sampai Brian melakukan itu padanya, wanita itu sudah jera saat pertama kali Brian menyentuhnya, pria itu menahannya seharian di dalam kamar mandi.


Akhirnya Aqira menurut, membiarkan Brian memandikannya.


Terkadang tangan liar Brian usil memainkan tubuh wanita itu.


"Brian hentikan tanganmu itu!" menepis tangan Brian di dadanya.


Brian menyengir kuda, dirinya sangat senang mengerjai istri kecilnya ini.

__ADS_1


"Kau ini masih kecil, tapi kenapa dadamu bisa sebesar ini?" Brian semakin gencar meraba dada wanita itu.


Aqira menggeram kesal, "Dasar pria tidak tau malu. Kau pikir ini ulah siapa?!!"


Brian tergelak, "Tentu saja ulahku, ini adalah mahakarya buatanku." menyentuh dada Aqira lagi.


"Dasar mesum!!" Aqira berdir lalu mengambil handuk yang menggantung di dekatnya.


Dililitkan ke tubuh mungilnya lalu dengan cepat keluar dari kamar mandi itu.


Brian tertawa terbahak-bahak melihat Aqira yang kesal karenanya, "Istriku sangat menggemaskan." lirihnya setelah berhenti tertawa.


Aqira masuk ke kamar mandi yang ada di kamar orangtuanya dulu untuk melanjutkan mandinya yang tertunda.


Wanita itu menggerutu kesal, merutuki suami mesumnya.


Setelah keluar dari kamar mandi, Aqira mendapati Brian yang tengah duduk di pinggir tempat tidur orangtuanya.


"Bagaimana si mesum ini tau aku ada di sini?" gumam Aqira.


"Tidak sulit menemukanmu di rumah sekecil ini." jawab Brian yang ternyata mendengar gumaman Aqira tadi.


Aqira mendengus kesal dan mendelikkan matanya kepada suaminya.


"Itu pakaianmu." menunjukkan paperbag di atas tempat tidur.


Aqira melihat paperbag itu penuh tanya.


"Itu bajumu yang kubawa dari rumah, bagaimana, aku ini suami yang perhatian bukan?" Brian menyombongkan diri.


Wanita itu memutar bola matanya jengah, lalu dengan cepat menyambar paperbag itu dan membawanya ke kamar mandi.


Brian menelusuri kamar orang tua Aqira, terlihat sederhana tetapi terlihat rapi dan bersih.


Ada beberapa figura yang menggantung di dinding kamar itu.


Sebuah foto yang berbingkai menjadi sorotan matanya, dimana terdapat gambar lelaki dan wanita paruh baya tengah tersenyum bahagia, dan yang lebih menarik lagi adalah gadis yang ada di antara pasangan itu.


Brian dapat menebak bahwa gadis itu adalah istrinya, walau wajah di foto terlihat lebih muda, Brian dapat mengenali jika itu adalah istrinya.


Brian menipiskan bibirnya, pandangannya melembut melihat figura itu.


"Ayah..Ibu.. terima kasih telah melahirkan Aqira ke dunia ini, dan juga telah mendidiknya hingga menjadi wanita yang baik, kuat, penyabar dan penyayang." sambil memandang figura itu dengan tatapan sendu.


"Tapi pria br*ngs*k ini malah menyakitinya, aku menyakitinya. Aku mohon maaf atas segala kesalahan yang kuperbuat kepada putri kalian, aku minta maaf yang sebesar-besarnya." lirihnya dengan penuh penyesalan.


Tanpa disadarinya, air mata pria itu telah mengalir di pipinya.


Tangannya bergerak menyentuh figura itu.


"Aku janji, aku tidak akan menyakiti putri kalian lagi, aku akan menjaganya dengan baik, seperti kalian yang dulu menjaganya.


Aku akan membahagiakannnya seperti kalian dulu membahagiakannya."


Sebuah tangan mungil tiba-tiba melingkari perut Brian.


"Sayang...?" panggil Brian.


Ya, dia adalah Aqira, sedari tadi wanita itu melihat Brian berbicara dengan dengan foto ayah dan ibunya.


Aqira tersentuh akan semua ucapan Brian baru saja. Walau pikirannya menolak tetapi hati dan raganya selalu mengatakan untuk percaya kepada Brian.

__ADS_1


"Sayang.." Brian melepas tangan Aqira lalu membalikkan tubuhnya.


Brian menangkup wajah Aqira, "Kau sudah selesai?" mengelus pipinya dengan ibu jarinya.


"Maafkan aku.." Aqira membenamkan kepalanya di dada suaminya.


"Maaf, aku telah meragukan cintamu padaku, aku salah..." lirih Aqira yang menyembunyikan wajahnya di dada Brian.


"Tidak.. kau tidak salah, aku yang salah di sini, aku yang telah membuatmu salah paham akan kondisi ini." tangannya mengelus surai hitam wanita itu.


"Tetap saja, aku juga salah, karena tidak mempercayaimu."


Brian terkekeh, "Baiklah kau yang salah, ini semua adalah kesalahanmu."


Aqira seketika menarik kepalanya, lalu mengerucutkan bibirnya sambil memukuli dada Brian.


"Menyebalkan.." gerutunya.


Brian gemas melihat bibir yang mengerucut itu, dengan cepat Brian menyergap bibir itu, ********** habis-habisan. Tanpa membiarkan Aqira menghirup oksigen.


Brian melepas pagutannya, karena Aqira mendorongnya kuat.


"Kau ingin membunuhku?" memukul lengan Brian.


"Maaf.." kekehnya.


"Ayah dan ibu melihatnya." ujar Aqira menunjuk figura orang orangtuanya.


"Memangnya kenapa jika mereka melihat? Mereka pasti malah senang melihat putri mereka dicium oleh pangeran tampan sepertiku." menyombongkan diri lagi.


Aqira mendengus kesal, "Kenapa aku memiliki suami yang begitu sombong?"


"Tapi kau suka kan?" mencolek dagu Aqira.


"Huh.. tidak!" ketusnya.


"Katakan sekali lagi.."


"Tidak."


"Wah kau memang harus diberi pelajaran bayi kecil.." Brian langsung menyergap tubuh Aqira membopongnya, lalu melemparkannya ke atas tempat tidur.


Aqira memekik, "Apa yang kau lakukan pria mesum." suara Aqira berubah menjadi tawa saat Brian menggelitiki perutnya.


"Rasakan ini bayi kecil, beraninya kau tidak menyukai pria tampan ini.." Brian tertawa terbahak-bahak melihat Aqira yang tertawa kegelian.


"Ampun... ampun...sayang geli tolong berhenti.." Aqira memohon sambil tertawa.


"Katakan kau menyukai pria tampan ini!" masih menggelitiki Aqira.


"Iya... aku suka, aku menyukaimu...berhenti.. aku lelah..." teriaknya.


Brian menghentikan tangannya, lalu terkekeh, "Bagaimana, masih belum cukup hukumannya?"


"Cukup.. aku tidak mau lagi."


Pria itu menarik Aqira ke dalam pelukanya, "Kau ini selalu melawanku." gemas Brian sambil menggigiti wajah Aqira.


"Untung cinta, kalau tidak..." geram Brian.


Aqira hanya tertawa geli karena gigitan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2