JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Aku Mendengar Semuanya.


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA


Tiba-tiba saja Hans tertawa mendengar ucapan Sasha barusan. Gadis lucu, pikirnya.


"Kenapa Kak Hans tertawa?" bingung Sasha.


Hans terdiam, "Gadis manis, kau masih kecil ingin jadi kekasihku?" tanya Hans dengan senyum jenakanya.


"Aku bukan anak kecil lagi Kak, aku sudah dewasa." bantah Sasha kesal.


Hans tergelak, "Bagaimana pun kau menyanggahnya, tetap saja kau anak kecil bagiku." ujar Hans, dia masih tidak percaya gadis seperti Sasha mengatakan hal seperti ini.


"Tapi Kak, aku mencintaimu. Kak Hans mau kan jadi kekasihku?" wajah Sasha kini memelas.


"Kau ini masih kecil Sasha, belum mengerti apa-apa tentang cinta. Belajarlah dulu yang rajin, setelah kau cukup dewasa baru memikirkan cinta. Ok?" ucap Hans seraya mencubit pelan pipinya. Hans tidak menganggap serius ucapan Sasha, karena menurutnya Sasha hanya sedang mengalami masa pubertas, yang mengakibatkan perubahan emosi dan perasaan. Mungkin saja nanti Sasha tidak menyukainya lagi.


"Kak Hans?" rengek Sasha, sepertinya dia tidak menerima jawaban Hans.


"Ayolah gadis kecil, tunggulah beberapa saat lagi kau dewasa, kurasa saat itu perasaanmu akan berubah."

__ADS_1


"Tidak Kak Hans, perasaanku tidak akan pernah berubah untukmu. Sejak pertama kali kita bertemu perasaanku tidak pernah berubah dan bahkan sampai selamanya tidak akan berubah." ucap Sasha sungguh-sungguh.


Hans tergelak mendengarnya, gadis ini jika terus diladeni malah semakin sulit diberitahu. "Sudahlah, terserah anak kecil saja. Sekarang antar aku ke ruangan paman Darman." ujar Hans terkekeh sambil menarik tangan Sasha.


Sasha menurut saja, walaupun dia kesal karena Hans sama sekali tidak menghiraukan perasaannya.


•••


Sedangkan di dalam ruangan, Brian dan Aqira sedang berbaring di brankar yang sama, dengan Aqira bersandar di dada Brian.


"Bagaimana perasaanmu sayang? Masih ada yang sakit?" tanya Brian penuh kelembutan.


"Sudah lebih baik, dan tidak sakit lagi."


Diciumnya bekas luka itu, seolah ingin menyembuhkannya.


"Berjanjilah jangan melakukannya lagi ya?" pinta Brian memohon.


Aqira mengangguk, dia menyesal melakukannya, hampir saja dia mencelakai nyawanya.

__ADS_1


"Aku janji." ucapnya lirih.


"Aku tidak tau harus bersyukur atau tidak akan kebodohanmu ini." ujar Brian membuat Aqira menatapnya bingung.


"Maksudmu?"


"Kau tau sayang, mungkin saja aku masih belum sadar saat ini jika kau tidak melakukan hal itu. Waktu kau mengucapkan kalimat perpisahan, aku dilanda kebingungan. Hingga akhirnya aku mengerti apa maksudmu saat itu, aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan menghentikanmu.


Walau sedikit terlambat tapi akhirnya aku bisa dan menghentikan aksi bodohmu itu." jelasnya.


"Sayang apa yang kau maksud aku tidak mengerti."


"Kau belum mengerti juga ya. Baiklah akan kujelaskan."


"Sebenarnya selama tiga hari aku tidak sadarkan diri, tapi dalam alam bawah sadarku aku bisa mendengar dengan jelas kalian semua bicara padaku. Pada saat kau dan Mommy menangis, aku berusaha untuk bangun, tapi tidak bisa. Tubuhku seolah kaku setiap aku ingin menggerakkannya." jelas Brian.


"Benarkah sayang?" tanya Aqira.


Sejenak Aqira berpikir karena teringat sesuatu. Jika Brian ternyata bisa mendengarnya selama ini, bukankah berarti Brian juga mendengar rahasia yang diucapkannya saat itu?

__ADS_1


"Iya sayang, aku bisa mendengar setiap kata-kata cinta darimu, dan juga pengakuanmu tentang kau yang menunda kehamilanmu."


Raut wajah Brian perlahan berubah menjadi dingin menatap Aqira.


__ADS_2