JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Joe yang Malang


__ADS_3

Voteeee.....😀😀


Like dulu sebelum baca


"Dia sudah pergi." bisik Brian di telinga Aqira yang masih menenggelamkan wajahnya di dada Brian.


"Jessi?" tanya Aqira.


"Hmm.."


"Mau apa dia kemari?"


"Tidak tau." jawab Brian sambil mengedikkan bahunya.


"Jawab yang benar! Dia pasti sering datang kemari kan?"


"Lumayan sering." jawab Brian dengan santai, padahal wajah Aqira sudah memerah saat itu. Bukan karena menahan malu akibat terpergok oleh Jessi tadi, melainkan marah karena Brian tidak jujur perihal kedatangan Jessi ke kantornya.


"Kenapa tidak pernah memberitahuku!"


"Itu tidak penting sama sekali, jadi untuk apa aku memberitahumu?"


Aqira segera turun dari pangkuan Brian, sambil memegang dresnya agar tidak melorot.


"Brian!"


"Apa?"


"Kau bilang itu tidak penting? Tapi bagiku itu penting, bagaimana mungkin aku mengabaikan mantan kekasih suamiku, mendatangimu ke kantormu tanpa sepengetahuanku!" bentak Aqira kesal.


"Sekarang kau cemburu?" tanya Brian sembari menaik turunkan alisnya.


"Ti.. tidak!" bantahnya.


"Mengakulah sayang, aku tau kau sedang cemburu. Lagi pula untuk apa kau cemburu, bukankah kalian berteman? Jessi juga datang kemari sebagai teman, bukan sebagai mantan kekasih." Brian sengaja berbohong agar dapat membuat Aqira menjauhi Jessi, si wanita ular berkepala tujuh itu.


"Istri mana yang tidak cemburu mengetahui suaminya bertemu dengan mantan kekasihnya," cicit Aqira memalingkan wajahnya.


"Sekalipun itu hanya sebagai teman!!"


Brian terkekeh gemas melihat wajah marah istri kecilnya itu.


"Kau memang wanita terbodoh di dunia ini."


"Brian!" protes Aqira.


"Kenapa? Kau memang bodoh." Brian menarik tangan Aqira mendekat, lalu menyentil kening wanita itu gemas.


"Kemarin kau berteman dengan wanita ular itu, dan aku sudah melarangmu untuk tidak menemuinya, tetapi kau malah masih terus menemuinya.


Jadi kalau sekarang dia ingin berteman denganku juga tidak apa-apa kan, bukankah teman istri adalah teman suami juga?"

__ADS_1


Goda Brian.


"Tidak! Tidak boleh! Kau tidak boleh berteman dengannya!" teriak Aqira tepat di wajah Brian.


"Tapi kalian berteman bukan, berarti aku juga boleh berteman dengannya?" ucap Brian dengan seringaian liciknya.


"Tidak! Kubilang tidak boleh!" Aqira kesal lalu memukuli lengan Brian dengan salah satu tangannya. Sedangkan tangan yang lainnya masih memegangi dressnya yang hampir melorot.


Tapi pukulan itu tidak sakit sama sekali untuk Brian, malah terasa geli. Ditangkupnya tangan Aqira lalu meanriknya ke dalam pelukannya.


"Kalau kau tidak mau aku berteman dengannya, maka kau juga harus memutuskan pertemananmu dengan wanita berkepala tujuh itu." bisik Brian di telinga Aqira.


Aqira mengangguk menyetujui ucapan Brian.


Aqira tidak mau jika sampai Jessi dekat dengan suaminya, bisa saja cinta lama mereka bersemi kembali seiring dengan waktu yang mereka habiskan.


Mengingat cinta mereka bermula saat mereka masih remaja dan bejalan cukup lama, bukanlah hal mustahil cinta mereka akan bangkit kembali.


Apalagi Jessi juga berusaha merebut kembali hati Brian, pasti mudah untuknya melakukan berbagai hal untuk mendapatkan Brian kembali.


Aqira tidak mau itu terjadi, dia tidak mau kehilangan Brian. Jika tidak ingin kehilangan Brian, maka di juga harus menjauhi Jessi.


Ya, dia harus menjauhi Jessi.


"Iya aku tidak akan menemuinya lagi." ucap Aqira dengan lantang.


Brian tersenyum senang mendengar itu.


"Jadi, sekarang bisakah kita melanjutkan kegiatan kita yang tertunda tadi?" senyumannya kini berubah menjadi wajah licik bercampur gairah yang tertunda tadi.


"Kau masih mau lanjut?"


"Tentu saja mau." Brian langsung mengangkat tubuh setengah telanjang Aqira di pundaknya, layaknya membopong karung besar.


Brian melempar tubuh Aqira ke atas ranjang empuk itu, lalu menindihnya.


Kedua anak manusia yang masih diliputi hasrat kini melanjutkan kegiatan tertunda mereka.


•••


"Sayang dimana braku?" tanya Aqira dengan wajah bingungnya.


Wanita itu masih mengenakan handuk, tadinya ingin berpakaian, tapi tidak jadi saat menyadari bra nya menghilang.


Brian yang duduk di atas ranjang, sambil mengancingkan kemejanya terlihat berpikir.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya, sepertinya ada di bawah mejaku." ucapnya lalu keluar dari kamar.


Brian mencari ke bawah mejanya, tapi benda berbatok itu tidak ada di sana.


Padahal Brian ingat sekali, dia melemparnya ke bawah meja saat melucuti pakaian istrinya.

__ADS_1


Flashback dua jam yang lalu


Sedangkan Joe, yang sudah dua menit berada di depan pintu ruangan Brian, mengetuk pintu itu, tapi tidak ada yang menyahut.


Dia ingin mengambil berkas yang diberikannya tadi untuk ditanda tangani Brian.


Tapi dia ragu untuk langsung masuk, karena Nona Mudanya ada di dalam.


Mungkin saja dia akan mendapat tontonan tak senonoh dari kedua majikannya.


Joe sudah tidak sabar lagi, ini sudah menit kelima dia menunggu, padahal rapat tinggal sepuluh menit lagi.


Joe membuka pintu, memunculkan kepalanya lebih dulu, tidak ada orang di dalam sana.


Joe melangkah masuk dan berhenti tepat di depan meja kerja Brian.


Dilihatnya berkas-berkas tadi berserakan di atas meja. Lalu melirik ke tirai yang menutupi pintu kaca kamar istirahat Brian.


"Apa yang telah terjadi di sana?" lirih Joe sambil membereskan berkas yang sudah ditanda tangani Brian setengahnya.


Saat akan berbalik, mata sipitnya yang di balut kaca mata kerjanya menangkap sesuatu di bawah meja kerja Brian.


Joe memicingkan matanya, memperjelas penglihatannya.


"Apa itu?" lirihnya.


Dirasuki rasa penasaran, Joe mendekati kain berwarna hitam itu. Membungkukkan badannya, meraih kain hitam berenda itu.


Tangan kekarnya mengangkat kain dengan dua batok itu di depan wajahnya.


"Ini mirip seperti punya Ibuku di rumah." ucap Joe polos.


Sesaat kemudian Joe tersadar saat mengingat kain laknat itu, yang juga sering dipakai ibunya. Bra, ya , ini adalah Bra.


"Ya Tuhan..." Joe langsung melemparkan bra berwarna hitam itu ke sembarang tempat.


Joe segera meninggalkan ruang kerja Brian dengan perasaan kesal. "Kenapa mereka sangat mesum!?" gerutu Joe sambil melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Ahk Brian.. pelan-pelan."


terdengar suara desahan Aqira dari kamar sebelah.


"Ya ampun... telingaku yang polos, sudah tidak suci lagi." gerutunya sambil mempercepat langkahnya, meninggalkan ruangan itu.


Joe menutup pintu ruang kerja Brian dari luar, "Nanti korban kemesuman mereka akan bertambah, jika pintu ini tidak ditutup."


Lalu melenggang pergi dari tempat itu.


Jangan lupa like dan votenya ya


Love you all 😘😗

__ADS_1


__ADS_2